Wednesday, 4 April 2012

Jurnalisme Baru & Jurnalisme Sastra

Pada era kemunculan new journalism atau jurnalisme baru, reportase disebut-sebut sebagai adegan penting jurnalisme, bagaimana seorang reporter melaporkan dari kejadian yang saat itu dilihatnya, tanpa menulis ulang laporan yang biasanya disajikan secara kaku seperti pada penulisan staright news. Si reporter mengajak pembaca beritanya seolah menyaksikan langsung suatu kejadian dalam penggambaran yang sangat rinci. Ini merupakan teknik barureportasi dan gaya pelaporan yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat narasi lama. Penulisan dialog, sikap, ekspresi menjadikan hasil pelaporannya bersifat impresionik. Teknik penulisan ini tettu memerluakn depth information yang lebih dibandingkandengan pelaporan biasa karena dalam pekerjaannya ada peliputan yang dikerjakan di luar kebiasaan reporter koran atau penulis non-fiksi, yaitu; mengamati seluruh suasana, meluaskan dialog, memakai point of view, dan mencari bentuk monolog interior yang bisa dipakai. Tentu saja, reporter yang menggunakan gaya penulisan tersebut memerlukan waktu yang lebih banyak dalam menyajikan beritanya.
Jurnalisme Amerika pada tahun 60-an memang mendekati sastra karena banyak dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, bentuk dan gaya penuliasan novel yang tengah menjadi trensetter di dunia penulisan. Kedua, keinginan untuk mengungguli daya pikat media audio visual dan kecepatan siaran televisi.
Pada tahun-tahun tersebutlah jurnalisme baru lahir. Hal ini berawal dari penolakan para penulis dan redaktur jurnalisme baru terhadap cra kerja jurnalisme tradisional dan dasar-dasar pemikiran mereka. Di lainpihak, kompleksitas masyarakat yang menuntut para reporter muda untuk lebih membingkai liputannya dalam reportase yang lebih menyeluruh dan mendalam. Para perintis jurnalisme baru menganggap para jurnalis lama tidak mau membuka diri terhadap wacana yang real time. Berbagai peristiwa perlu dilaporkan, tanpa dihalang-halangi sekat-sekat tengat waktu dan kolom-kolom headlines dari teknik penulisan matter of fact atau straight news. Gaya penulisan jurnalisme lama dinilai mempunyai banyak kemungkinan bias, cacat, bahkan bodoh dalam memetakan view of the world.
Menurut kalangan akademisi Amerika, eksplorasi hasil kerja para jurnalis baru tersebut dapat didefinisikan dalam beberapa bentuk; 1) menggambarkan kegiatan jurnalistik yang bertujuan menciptakan opini publik dengan penekanan pada obyektivitas pers demi bekerjanya fungsi "watchdog" (penjaga moral) dari the fourth estate press atau kekuatan keempat setelah trias politica. 2) memetakan upaya jurnalisme yang mengkhususkan target pembacanya dengan model penerbitan jurnal-jurnal kecil yang memuat materi khusus berdasarkan profesi atau kebutuhan tertentu sekelompok masyarakat. 3) menggunakan metode ilmiah dan teknik reportase dan mengadopsi langkah-langkah penelitian yang disyaratkan oleh dunia akademis ke dalam teknik pencarian berita. 4) membuat sajian berita yang sejenis dengan kreasi sastra; secara kreatif menjiplak nilali, norma, dan kaidah penulisan satra serta mengemasnya menjadi gaya baru dalam penulisan nonfiksi.
Seorang komunikolog, Fred Fedler, telah membagi jurnalisme baru menjadi empat, yaitu:
1. Advocacy Journalism
Advocacy journalism adalah kegiatan jurnalistik yang berupaya menyuntikkan opini  ke dalam berita. Tiap reportase, tanpa mengingkari fakta, diarahkan untuk membentuk opini publik. Obyektivitas bukan menjadi hal yang mati-matian dipertahankan dalam penuliasan berita, karena hal tersebut memang tidak mungkin didapat oleh seorang penulis berita. Setiap wartawan, dalam peringgungannya dengan realitas kemanusiaan, pasti dipengaruhi referensi pemikiran dan pengalaman sosial di masa lalu. Obyektivitas akan lebih kuat jika dicampur dengan pemikiran wartawan yang memakai metode peliputan terukur dan terfokus pada prespektif amatan tertentu.
2. Alternative Journalism
Alternative journalism adalah kegiatan jurnalistik yang menyangkut publikasi internal dan bersifat lebih personal. tujuannya adalah menggerakkan minat dan sikap, bahkan perilaku, sekelompok khalayak yang mereka tentukan sebagai pangsa konsumen.
3. Precision Journalism
Precision journalism adalah kegiatan jurnalistik yang menekankan ketepatan informasi dengan memakai pendekatan ilmu sosial dalam proses kerjanya. Perkembangannya difokuskan pada kerja pencarian data dan dibatasi dengan ukuran ketepatan informasi yang empirik, dimana hasil kerja liputan para jurnalisnya harus mempunyai kredibilitas akademis ketika diinterpretasi oleh masyarakat. Langkah sistematis, sperti mencontoh penelitian akademis, dilaksanakan secara teratur dan konsisten sehingga hasil peliputan berita memiliki reabilitas dan validitas. Para jurnalisnya banyak menggunakan metode riset untuk membungkus isu-isu sosial. Karenanya, angka-angka statistik dalam bentuk grafik dan tabel digunakan sebagai alat untuk mentansfer fakta ke dalam akumulasi data kuantitatif.
4. Literary Journalism
Literary journalism atau jurnalisme sastra adalah kegiatan jurnalistik yang menggunakan gaya penulisan fiksi untuk kepentingan dramatisasi pelaporan dan membuat artikel lebih memikat. Hasil pelaporan jurnalis sastra yang menghadirkan suasana fiksi dalam teks fakta tersebut adalah sebuah teks yang amat langsung, dengan realitas yang terasa konkret, serta melibatkan emosi dan mutu penulisnya. Jurnalisme sastra banyak diaplikasikan dalam penuliasan travelling, memoar, esai-esai, historis dan etnografis, sejumlah fiksi-bahkan semifiksi ambigu yang berawal dari kejadian nyata. 

Septiawan Santana K. 2002. Jurnalisme Sastra.
Fred Fedler. 1978. An introduction to Mass Media.




No comments:

Post a Comment

Post a Comment