Friday, 21 July 2017

[Resensi] Ayah oleh Andrea Hirata

Judul Buku           : Ayah
Penulis                 : Andrea Hirata
Penerbit                : PT. Bentang Pustaka
Halaman              : 412
ISBN                    : 978-602-291-102-9
Cetakan I             : Mei 2015

Saya selalu mengagumi keahlian Andrea Hirata menceritakan detail atau latar di tiap kisah yang ditulisnya. Tidak terlewat, dari buku berjudul Ayah yang satu ini. Barangkali benar jika Andrea Hirata selalu membuat pembacanya kemudian mengagumi Belitong, bahkan sebelum kita sempat ke sana.

Di sebuah desa bernama Belantik, Pulau Belitong, semuanya dimulai. Seorang lelaki bernama Sabari cinta mati dengan perempuan bernama Marlena, yang pertama ditemuinya saat ujian masuk Sekolah Menegah Atas Negeri. Ia tidak pernah berpaling dari gadis ayu yang biasa dipanggil Lena tersebut, meski perlakuan buruk kerap diterimanya, meski ketiga sahabatnya yang bernama Ukun, Tamat, dan Toharun, telah menyuruhnya melupakan Lena. Bahkan saat bertahun kemudian Lena justru hamil di luar nikah, Sabari rela menumbalkan diri untuk menikahi Lena, demi menyelamatkan nama baik keluarga dari wanita pujaannya itu.

Sabari—yang diberi nama demikian oleh Ayahnya dengan harapan bahwa ia bisa selalu sabar—dengan lapang dada memberikan kasih sayang tiada tara untuk anak yang dipanggilnya Zorro, meski bukan anak kandungnya. Satu demi satu sumber kebahagiaan Sabari terenggut, setelah Lena, wanita yang diperistrinya tersebut akhirnya menggugat cerai Sabari dan mengambil paksa Zorro saat anak itu baru berusia tiga tahun. Kesedihan Sabari menjadi-jadi, hingga bertahun kemudian ia terus berharap anak kesayangan yang baginya memiliki pelukan serupa awan itu kembali.

Cerita Andrea Hirata yang satu ini sangat kompleks, mengalir tak terduga. Runtutan cerita yang maju-mundur seolah mengajak pembaca merangkaikan sendiri puzzle-puzzle yang berserakan, seakan menunggu kita merampungkan cerita hingga mendapati pesan indah betapa kasih sayang Ayah kepada anak juga tidak kalah besar dari kasih sayang seorang ibu kepada anak, seperti yang kerap dibicarakan orang kebanyakan.

Tidak hanya cerita tentang hubungan antara orangtua dan anak yang bisa ditemukan dalam kisah ini, namun juga kegigihan dan dedikasi dalam menjalankan sesuatu, haru biru persahabatan, cinta tulus yang tidak mengharap pamrih, bahkan hal-hal yang awalnya terkesan sepele seperti betapa pentingnya kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Ya, dalam buku Ayah, diselipkan cerita mengenai Ukun dan Tamat yang dibekali kamus oleh mantan guru Bahasa Indonesia mereka, saat hendak melakukan perjalanan menyusuri Sumatra demi menemukan Lena dan Zorro yang bertahun-tahun tiada rimbanya.

Yang saya suka, Andrea Hirata juga menyelipkan pesan, atau bisa dibilang mengungkapkan keprihatinannya, akan semakin tipisnya generasi sekarang yang berkirim surat dengan sahabat pena. Hal tersebut diceritakan dengan renyah melalui kecintaan Lena berkirim surat dengan para sahabat penanya.

Selain itu, cerita menarik lain terselip dan bermula dari pesan alumunium yang dikirim Sabari untuk menemukan Zorro lewat seekor penyu. Cerita yang kemudian—bagi saya—menambah haru buku yang satu ini; mengenai anak-anak suku Aborigin yang pernah mengalami masa suram, terpisahkan dengan sanak saudaranya.


Bagi saya, cerita yang dibawakan Andrea Hirata melalui tokoh-tokohnya yang sederhana, yang sebagian besar menggambarkan orang-orang dari kalangan kurang berada, yang kerap dipandang sebelah mata itu justru memberi kita peluang untuk terus belajar dari hidup, melihat lebih awas dan menyukuri lebih dalam untuk tiap detail cerita ada.

Monday, 17 July 2017

[Resensi] Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi oleh Eka Kurniawan

Judul Buku          : Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Penulis                 : Eka Kurniawan
Penerbit               : PT. Bentang Pustaka
Halaman              : 170
ISBN                    : 978-602-291-072-5
Cetakan I             : Maret 2015

Hari itu sebenarnya saya tidak berencana membeli buku. Anehnya, setiap kali langkah saya berbelok memasuki toko buku, sekonyong-konyong saya pun tidak bisa menolak keinginan untuk menyamber paling tidak sebuah buku. Dan begitulah, saya terpukau dengan sampul dan judul panjang sebuah buku yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka; Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Untuk sebuah judul, buku yang merupakan kumpulan cerpen karya Eka Kurniawan ini terbilang tidak biasa. Saya maklum, penulisnya saja tidak biasa. Saat mengikuti forum diskusi terbuka dari Ubud Writers & Readers Festival tahun 2015 lalu, di mana si penulis buku menjadi salah satu panelisnya, Eka Kurniawan sudah mendapat julukan tersendiri; A Writer to Watch.

Penuturan Eka Kurniawan yang jujur dan polos saat menceritakan kisah perjalanan panjang dalam dunia sastra dan menulisnya kala itu, tidak jauh berbeda dengan kejujuran alur cerita dari tiap cerpen dalam buku ini.

Dengan apik, Eka Kurniawan berdongeng melalui cerpen-cerpennya, membuat saya terpental ke sebuah masa, bahkan tempat yang berbeda. Ceritanya lugu dan sebenarnya sangat umum terjadi. Namun, justru keluguan cerita yang dibalut dengan satir dan metafora tersebutlah yang menjadikan setiap halaman demi halaman buku ini terasa istimewa.

Dimulai dari Gerimis yang Sederhana, melalui cerpen pertamanya, seolah Eka Kurniawan ingin menceritakan sebuah kekacauan di suatu masa sebagai bagian dari memori si tokoh utama. Penamaan tokoh Mei dan masa kelam di negara tempat dulunya ia tinggal-Indonesia-pada tahun 1998, justru membuat saya bertanya; Apakah Eka Kurniawan sebenarnya ingin menyinggung cerita kelam para gadis keturunan Tinghoa yang sempat diperlakukan tidak layak di Indonesia kala itu? Jika demikian, cerdas sekali cara menyusupkan pengetahuan tersebut meski inti ceritanya justru sangat sederhana. Sesederhana seorang pria yang sudah menikah dan melepas cincin pernikahannya sebelum bertemu dengan seorang wanita kenalan barunya.

Ya, cerpen-cerpen Eka Kurniawan dalam buku yang satu ini bergulir seperti cerita sehari-hari sekaligus dongeng. Gincu Ini Merah, Sayang dengan gamblang menggambarkan perbedaan pola pikir lelaki dan perempuan, yang diceritakan lewat kisah pasangan suami istri yang dulunya merupakan pelanggan dan pelayan. Dari ini, saya mengaminkan saja bahwa drama yang terjadi tersebut sangatlah masuk akal. Bukankah katanya lelaki dan perempuan memang berasal dari ‘planet’ yang berbeda?

Mengenai cerpen yang kemudian dijadikan Eka Kurniawan sebagai judul buku ini, tidak kalah mencuri perhatian saya. Barangkali karena menyangkut mimpi, saya suka cita saja membacanya. Saya tergelitik dengan kisah perempuan yang bergerak untuk menemukan cinta sejati setelah melihat pertanda dari mimpi-mimpinya. Barangkali tidak masuk akal, tapi saya menyukai kegigihannya. Segigih Santiago-tokoh Paulo Coelho dalam Sang Alkemis-yang memulai perjalanan untuk mencari harta karun dekat piramida hanya karena pernah memimpikannya.

Selain tiga inti dari cerpen yang telah saya ulik di atas, ada dua lainnya yang berkesan. Teka Teki Silang yang mendebarkan dan membuat saya berharap ceritanya bisa lebih panjang, serta Pengantar Tidur Panjang yang mengharukan, di mana si tokoh utama juga digambarkan sebagai lulusan Ilmu Filsafat, sama seperti si penulis dalam kehidupannya.

Tentu saja, saya tidak bisa mengulas satu persatu cerpen dalam buku ini. Yang pasti, Eka Kurniawan tidak hanya sukses mengetikkan huruf dan merajut kata. Ia memberi pengetahuan terselubung, pemikiran baru, senyum di sudut bibir, dan gelengan kepala heran tidak percaya, bahwa kumpulan cerpen yang diangkat dari kisah sehari-hari bisa saja semenarik ini. 

Saturday, 15 July 2017

[Resensi] Negeri van Oranje

Judul Buku          : Negeri van Oranje
Penulis                 : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit               : PT. Bentang Pustaka
Halaman              : 478
ISBN                    : 978-979-1227-58-2
Cetakan I             : April 2009

Jika ada sebuah negara yang ingin saya kunjungi, boleh jadi Belanda berada di urutan pertama. Barangkali, saya terlampau silau dengan cerita kincir angin yang megah, bunga tulip yang indah, atau lalu-lalang sepeda yang katanya hampir selalu ada di tiap sudut kotanya.

Untuk itu, senang sekali rasanya membaca buku berjudul Negeri van Oranje karya empat penulis yang merupakan mantan mahasiswa di negeri kincir angin itu.

Negeri van Oranje berkisah mengenai persahabatan lima orang warga Indonesia dengan latar belakang berbeda yang dipertemukan di sebuah stasiun kereta di Belanda. Terjebak karena badai, yang awalnya dirasa bencana berubah menjadi anugrah nyata, saat kelima mahasiswa yang tinggal di kota berbeda itu kemudian menjalin hubungan erat selama di Belanda.

Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Gery. Persahabatan mereka tidak bisa dibilang sempurna, terutama saat kelimanya bergelut dengan rumitnya urusan hati.

Padat, renyah, dan kocak. Cerita persahabatan dan romansa para mahasiswa itu tidak hanya mengedepankan alurnya, namun juga pengetahuan dan gambaran mengenai cara bertahan hidup di Belanda sebagai seorang mahasiswa. Di sela halaman, pembaca bisa menemukan tutorial atau tips yang sangat berguna, terutama bagi mereka yang memang berencana melanjutkan kuliah di sana. Manis getirnya menjadi mahasiswa Indonesia di daratan Eropa juga sedikit banyak dibocorkan dalam buku yang telah diangkat ke layar lebar ini.

Setiap tokoh jelas digambarkan meski tetap ada kejutan di antaranya. Dari sosok Gery yang misterius hingga akhir cerita yang tidak terduga, saya akui bahwa keempat penulis buku ini telah sukses membuat saya mengaga. Saya sendiri mengagumi gagasan menulis satu buku secara bersama-sama. Jarang sekali saya menemukan buku seperti ini. Biasanya lebih sering menemukan kumpulan cerpen dari beberapa penulis dibandingkan dengan sebuah buku atau novel yang ditulis beberapa penulis secara bersama.


Friday, 14 July 2017

[Movie Review] Smile - 1975

Behind Every Smile of Beauty Contestants

Judul                      : Smile
Jenis Film              : Drama, Komedi
Pemeran                 : Bruce Dern, Melanie Griffith, Barbara Feldon, Annette O'Toole, Michael Kidd, Colleeon Camp, Geoffrey Lewis, Joan Frather, Nicholas Pryor, Eric Shea, Denise Nickerson, Caroline William, William Taylor
Sutradara               : Michael Ritchie
Penulis Naskah     : Jerry Belson
Produser                : Michael Ritchie
Distributor             : United Artists
Tahun                    : 117 menit
Durasi                   : 1975

****

Ternyata, tidak terlalu banyak film yang mengulas tentang hal-hal yang terjadi di balik layar sebuah kontes kecantikan. Film yang disutradarai oleh Mitchel Richie ini merupakan film pertama Amerika Serikat yang mengangkat tema tersebut. Smile (1975) merupakan satir yang lucu yang menunjukkan hal nyata, namun tanpa membuat manusia tidak manusiawi lagi. Komedi sosial seperti ini biasanya digunakan untuk mengungkapkan fakta yang tidak menyenangkan dengan cara yang ‘halus’, alih-alih untuk menguburnya. Film ini mendapatkan rating 7.2/10 di IMDb serta pernah masuk dalam nominasi Writers Guild of America Award for Best Original Comedy.

Smile (1975) bercerita tentang kelompok masyarakat di mana optimisme dan pemikiran positif bisa dikatakan hampir sejalan dengan sistem politik yang ada, yang berimbas pada keputusan dalam menentukan sebuah pilihan, dengan kenyataan bahwa tujuannya cenderung hanya untuk bersenang-senang.

Diawali dengan adegan pemilihan para kontestan muda yang sedang mengikuti seleksi memperebutkan tempatnya dalam Young American Miss Pageant di Santa Rosa, California, film ini kemudian merepresentasikan empat hari karantina dengan berbagai uji coba. Para kontestan ajang kecantikan yang masih remaja ini dinilai dari berbagai aspek; kecantikan, bakat, perilaku, dan interaksi sosial yang mereka jalin selama karantina berlangsung.

Ini adalah komedi yang terdiri dari belasan sketsa mengenai Bob; koordinator kontes yang diperankan oleh Bruce Dern, Brenda DiCarlo; seorang wanita cantik, agak konyol, namun kerap panik yang diperankan oleh Barbara Feldon; Andy, suami Brenda yang akhirnya memilih bunuh diri karena putus asa dengan istrinya yang terlalu sibuk, beberapa peran lain di balik ajang kecantikan tersebut, hingga para kontestan yang cukup menonjol.

Tiga aktris muda berhasil memerankan sosok yang cukup menonjol: Maria O’Brien sebagai kontestan keturunan Meksiko-Amerika yang paling bersemangat namun manipulatif, Joan Prather sebagai kontestan tenang di antara yang lain, dan Annette O’Toole sebagai kontestan yang paling mudah putus asa. Selain itu, ada pula Colleen Camp dan Melanie Griffith yang memerankan sosok kontestan yang penuh dendam.

Beberapa momen terbaik dari Smile (1975) adalah adegan-adegan yang menggambarkan persahabatan yang berkembang antara Robin (Joan Prather) dan Doria Houston (Annette O’Tolle) yang merupakan teman sekamarnya. Bagaimana Robin yang selalu berusaha memberikan dukungan untuk Doria yang kurang percaya diri.

Setidaknya dengan melihat film ini kita mengerti gambaran dalam sebuah kontes kecantikan; bahwa yang terlihat di layar kaca adalah hasil perjuangan para kontestannya untuk selalu tampil terbaik, bahwa banyak hal yang dialami oleh para kontestan untuk memperebutkan mahkotanya, bahwa bagaimana pun mereka harus tetap tersenyum.


Thursday, 29 September 2016

Book Review: The Girl on The Train by Paula Hawkins




Judul buku : The Girl on The Train

Penulis       : Paula Hawkins


Buku yang ditulis oleh mantan jurnalis kelahiran Zimbabwe ini merupakan sebuah thriller psikologis yang cukup unik. Menggunakan sudut pandang orang pertama dari beberapa tokoh, sebenarnya metode penulisan fiksi seperti ini sudah saya kenal sejak pertama membaca buku karya Nicole Krauss berjudul The History of Love beberapa tahun yang lalu. Setiap tokoh memiliki sudut pandang terfokus dan subyektif. Tentu saja pembaca harus menempelkan sendiri potongan-potongan cerita yang kepastiannya tidak bisa diyakini 100%.
Dalam buku yang telah mendapat salah satu penghargaan dari situs Goodreads pada tahun 2015 ini, Hawkins menampilkan tiga tokoh wanita yaitu Rachel; si pemabuk yang terkadang hilang kendali dan kehilangan memorinya, Megan; wanita misterius yang selalu dilihat Rachel melalui jendela kereta, dan Anna; istri baru dari mantan suami Rachel yang tinggal tidak jauh dari bekas rumah Megan. Ketiganya, meskipun pada awalnya sulit dipercaya, memiliki ujung dari benang merah yang harus disambung sendiri oleh pembaca yang memutuskan untuk membuka halaman pertama buku ini.

Sebenarnya, saya tidak terlalu menyukai cerita thriller psikologis atau misteri semacam ini. Buku The Girl on The Train saya pinjam dari seorang teman. Dia bilang, ia bisa membacanya hanya dalam waktu dua hari! Tempo alurnya tentu sangat cepat dan tidak stagnan, pikir saya saat itu. Kenyataannya, saya baru bisa menyelesaikan buku ini dalam waktu kurang lebih dua bulan. Saya hanya mampu membacanya di sela-sela waktu luang saja. 

Tidak terduga! Ya, akhir cerita fiksi ini berakhir dengan kesimpulan yang benar-benar jauh dari yang dibayangkan sebelumnya. Tokoh utama dalam cerita ini, seharusnya si Rachel pemabuk yang telah ditingalkan suaminya demi wanita lain yang lebih menarik, tetapi bukan demikian. Justru Megan yang terlihat baik-baik sajalah, pemicu keributan dan misteri panjang tidak berkesudahan dalam cerita ini.
Rachel dikenal sebagai seorang pemabuk, setiap hari menegak alkohol sebagai pelariannya akan kekecewaan terhadap hidupnya yang mendadak berantakan. Dia dicerai suami tercintanya, Tom, yang lebih memilih berselingkuh dengan Anna hingga menikah dan memiliki bayi mungil bernama Evy. Rachel yang gamang harus keluar dari rumahnya sendiri, rumah nomor 23 di kawasan suburn London, yang terletak di pinggir rel kereta. Setiap pagi dan petang, Rachel masih bisa melihat bekas rumahnya melalui jendela kereta yang membawanya menuju London untuk bekerja atau pura-pura bekerja.

Tidak jauh dari bekas rumahnya yang kini ditinggal Tom dengan istri barunya, ada sebuah rumah yang ditinggali oleh sepasang muda yang kelihatannya memiliki kehidupan rumah tangga yang sempurna. Si pasangan yang ia namai dengan Janet dan Jason ini kemudian diketahui bermana Megan dan Scott. Kereta Rachel kerap terhenti di dekat rumah nomer 15 milik Megan dan Scott, hanya selama beberapa detik atau menit karenan gangguan sinyal. Setiap hari, Rachel berangan-angan, mengarang sendiri cerita bahagia mengenai pasangan ini, hingga akhirnya ia melihat sesuatu yang membuatnya berubah mengenai pasangan tersebut. Janet, atau sebenarnya Megan, mencium seorang lelaki yang diyakini Rachel bukanlah Jason atau Scott.

Beberapa hari setelah itu, kabar mengenai Megan yang hilang tersebar. Entah mengapa Rachel mempunyai beban untuk menyampaikan sesuatu yang pernah dilihatnya pada Scott Hipwell. Ia tahu bahwa tuduhan akan hilangnya Megan juga akan mengarah pada Scott, lelaki malang yang bahkan tidak tahu jika isrinya selingkuh. Memori dan rasa sakit akan sebuah perselingkuhan yang pernah dialaminya mendasari tindakan-tidakan Rachel selanjutnya, menyusup ke dalam kasus dan cerita hilangnya  Megan. 

Yang harus dipecahkan Rachel adalah dalang dari pembunuh Megan. Apakah Scott atau selingkuhan Megan yang masih misterius?

***

Dalam skala 1-10, secara personal saya memberi nilai 7.5 untuk buku ini. Atas kesuksesan The Girl on The Train dalam meraih minat pasaran, Dreamworks Studio kemudian menggarap filmnya. Yap! Awal bulan Oktober 2016 mendatang, filmnya akan dirilis pertama di Amerika Serikat. Apakah nanti hasil visualnya akan semenarik cerita Gone Girl? Semoga. :)


Wednesday, 13 April 2016

Internship

A word, that suddenly came out of mind mind this afternoon is "internship". Yes, but I don't really know why.

As I remembered, I did internship twice. To act like a teacher for elementary school students for three months and also front desk agent in a three star hotel for three months too. It's funny how I chose that two internships when now I end up being an editor of a lifestyle magazine in this paradise island. I'm lucky, maybe? More than that..

Wait, so what's the point now? To be honest, I am in my boredom now. I just stared on my intern at my office and knew how she felt too. Don't force me for not giving her too much jobs, well.. it's kinda difficult to be explained, um.. okay forget then.

I just want to smile, remembering the good and bad things I did in my past.

Internship 1: English Teacher

I was a tutor, English tutor. I started to be a tutor, joined a education institution in my 4th semester. To early? Well, I was that 'smart' enough to teach children how to do proper English that time. Then.. when almost all of my friend chose to do an internship in Tourist Information Center, I chose to do what I am expert in; teaching. I can make syllabus, I can stand in front of the class being a center of attention, I can make them stare at me. I don't know why I was that awesome. Hahaha.

Three months. Well, not really three months. I taught three class a week for three months in an elementary school near Palace complex in my hometown, Yogyakarta. It was an awesome experience. Even now, I can still hear their voice greeting my name; "Good morning, Miss Tiara!" God, it seems like I miss to be the center of attention and receive a lot of attention now. Ups!

Internship 2: Front Desk Agent

I thought hospitality industry was a big industry that keeps growing anyway, and yes it is. That's the only reason why I let myself to 'try' and 'feel' the hospitality atmosphere. I am good in English, at least compared to my friends that time. I can speak and listen well, so humble and nice to everyone, then the hotel where I put my CV let me join in Front Office Department.

It was one of the hardest three months in my university life. I learnt all the stuffs from filling document, online and phone reservation, hotel system, too many stuffs! Regret? Not at all. At least I know how it feels to work in hospitality industry, so then later on when I want to come back I know how to handle it well. In the first two weeks I wanted to give up, but there are two people who keeps me stay. One of them is myself, who keeps telling myself that I can do anything, to finish what I already started. Well, I guess I learn how to terribly survive from my second internship then. How, naif.


Now, I am not an intern anymore. I met some interns under my supervise in this office since a year ago; Annelies from Groningen, Saras and Karin from Bandung, Amy from Utrecht, and now Nikki also from Groningen. I hope I gave them enough good things to learn for their lives.

*Backsound 7 Years by Luke Graham* lol


Saturday, 26 March 2016

Malam memekat, anak kelinci keluar berlarian sambil membawa telur-telur angsa. Bulan malu-malu menampakkan sisa sinarnya. Ia sudah kelelahan setelah purnama kadasa.

Aku masih saja menulis daftar belanja, menimang-nimang apa saja yang harus aku bawa. Hatiku, atau keyakinanku yang kian berada dalam batas tipis nestapa. Keluh hanya akan menjadi beban selanjutnya jika tidak ditanggapi dengan bijaksana. Aku masih percaya, doa sudah berhasil melipat-lipat jarak yang sesungguhnya ada di antara aku dan dia. Barangkali baru kali ini aku menulis tentangnya, meskipun setiap detik potongan wajahnya terus saja berseliweran mengganggu konsentrasi kerja. Yang tentu, tak perlu dikutuk barang sedikit saja.

Pernah aku tulis surat untuknya, setelah adu prasangka yang tidak hanya menyiksa tapi juga menggeser setiap kata iya. Entah sejak kapan aku mulai memperhatikannya. Bisa jadi dulu sekali, bahkan sebelum sempat bersua. Entah sejak kapan juga Tuhan merencanakan kebersamaan aku dan dia. Bisakah selamanya? Ya, seperti sempurna, tidak ada rumus bisa untuk selamanya. Tapi paling tidak, sampai habis masa kita di dunia.

Pernah terangkum kata, jika berdampingan dengan penulis dan ia tidak pernah menulis tentangmu, maka bisa jadi tidak benar-benar cinta. Ah, si penulis sudah melantur saja.

Ada penat yang enggan pergi dari meja kerja. Ada rindu yang tertahan di satu tombol saja. Aku hanya bisa berdoa, hingga nanti ia sudi membaca setiap halaman yang belum sempat aku tulis tentangnya. Hingga terhapus sudah tanda tanya. Hingga mengerti juga ia dengan nanti yang datang terbata-bata.

Ingin mengucur tangis, tapi tertahan saja di pelupuk mata. Barangkali aku yang terlalu jahat mengulur waktu berlama-lama. Atau barangkali waktu yang jahat sudah mempertemukan kita. Tiba-tiba jemari tidak ingin berhenti menari dan berbisik tentangnya. Barangkali rindu sedang ranum-ranumnya, tapi aku bisa apa? Masih harus menunggu tiga puluh tiga hari sebelum tiba pertemuan selanjutnya.


Thursday, 14 January 2016

Awal tahun yang was-was

Selamat tahun baru!

Saya harap-harap cemas juga memasuki tahun 2016 ini. Saya menghabiskan akhir tahun dengan liburan singkat bersama adik permpuan saya yang kebetulan datang berkunjung di sela deadline akhir tahun yang sedikit mundur.

Saya tidak melakukan kegiatan yang terlalu penting dalam detik-detik pergantian tahun kecuali berada di kafe dengan teman-teman (yang lama dan baru-baru saja dikenal) sambil mendengarkan beberapa di antaranya memainkan musik yang tidak sedikitpun saya mengerti. Saya ingin melarikan diri ke pantai, batin saya.

Seusai huru-hara, bunyi terompet, peluk agak bahagia, ucapan tahun baru, dan tetek bengeknya, saya dan dua teman wanita memutuskan untuk menyusuri kawasan Seminyak, mengarah ke sebuah klub malam hip yang ramai dikunjungi orang lokal maupun bule dari berbagai kalangan.

Menit pertama, kami masih bercanda-canda. Salah satu teman wanita yang baru datang dari KL mengajak saya membeli minum. Kami mendekat ke arah meja kasir untuk memesan. Dia menyodori saya bir bintang, bir yang rasanya tidak terlalu saya suka. Menit selanjutnya, kami dihampiri dua bule yang menjabat tangannya dan kemudian menculiknya.

Saya dan satu teman wanita yang tersisa tidak paham harus berbuat apa. Kami memutuskan untuk tetap menikmati lantunan musik DJ yang disetel keras-keras, setiap nadanya memadati klub yang sesak dengan lautan manusia ini. Setengah jam beralalu dan saya mulai bosan. Antara sadar dan tidak, saya sempat tersentak dan terdiam dalam beberapa detik memandang sekeliling saya. Wajah-wajah semburat bahagia, gelak tawa, atau itu hanya topeng yang dipermak instan karena pengaruh alkohol yang mereka tegak saja?

Saya mengangkat botol minuman yang saya bawa. Teringat seminggu sebelumnya, saya mampir ke pabrik wine atas sebuah undangan dan mencicip beberapa jenis wine yang tersedia. Seingat saya, saya berjanji jika itulah wine terakhir yang akan saya tegak. Saya lupa bahwa doa atau niatan itu harus lebih spesifik, harus dengan kesadaran sepenuhnya. Mana mau juga Tuhan mendengar doa umatnya yang seperempat melayang karena pengaruh minuman dengan kadar alkohol 12 persen itu?

Saya berada di antara kerumunan para penikmat malam. Saya tiba-tiba merasa ngeri sendiri. Ada ketakutan yang menyeruak masuk, saya takut jika ada bom meledak dan serpihannya mengenai salah satu bagian tubuh saya di sana. Entah dari mana pikiran ini muncul. Barangkali saya sangat lelah dan sedikit kecewa. Lelah dengan apa yang saya kerjakan di akhir tahun kemarin, kecewa karena lagi-lagi saya tidak bisa menghabiskan malam tahun baru dengan orang yang spesial bagi saya.

Saya menarik teman saya, mengatakan padanya bahwa saya bosan, mari kita pulang. Seusai menghubungi teman kami yang raib, berkabar ala kadarnya sambil terus mencari keberadaannya di tengah lautan manusia ini, kami menyerah dan pulang. Beruntungnya, teman saya tadi malah sudah berada di rumah.

*Pagi ini saya sedikit terkejut mendengar berita mengenai bom yang ada di kawasan Thamrin, Jakarta. Empat orang pelaku sudah ditangkap di sore harinya, namun tetap saja yang terjadi menyisakan trauma dan luka. Sejauh yang saya tahu, ada tujuh korban meninggal. Sebagai pendatang yang tinggal di kota pariwisata seperti Bali, kejadian ini cukup membuat ngeri. Anak-anak media televisi (sebagian teman saya juga) menggemborkan isu ini itu terkait pengeboman ini. Ah, semoga semuanya membaik dengan segera. Doa saya untuk Jakarta dan seluruh pelosok Indonesia.

**Sejujurnya, saya tidak menyangka ini akan menjadi postingan pertama saya di tahun 2016

Tiara


Thursday, 3 December 2015

Cerita Lama

Aku tidak begitu menyukai pekerjaanku, tapi aku menikmatinya. Tapi seringkali, aku yakin bahwa aku menyukai perkerjaanku, walau kadang aku tidak menikmatinya. Menghabiskan waktu berdiri hampir 8 jam di ruangan sempit membuatku bosan, kaki-kakiku pegal, mata berlapis softlensku lelah, otakku pusing karena banyak rumus yang harus dihafal, ini lah, itu lah. Pemandangan paling tidak membosankan bisa jadi hanya kendaraan yang terlihat lalu-lalang yang biasa terlihat dari dalam ruangan. Sejak hampir tiga bulan lalu, aku memang banyak belajar. Banyak yang aku temui disini, mulai dari tamu-tamu asal Ambon yang berisik, tamu Makassar yang hampir bisa dibilang genit, tamu Jakarta yang baik dan suka memberi tip, tamu Belanda yang ramah, tamu Inggris yang lucu, tamu Prancis yang ribet, tamu Australia yang suka diajak mengobrol, tamu Belgia yang tampaaan, ah terlalu banyak.

***
Aku menemukan tulisan ini dalam sebuah draft, mari dilanjutkan. Sudah dua bulan lebih aku mengakhiri rutinitas 8 jam di tempat itu, sebuah hotel bintang tiga yang letaknya hampir di tengah kota. Selain karena sudah lelah, aku pun harus kembali ke bangku kuliah. Beginilah, sebagai mahasis(w)a yang harus menambah satu ekstra semester, aku diharuskan untuk lulus secepatnya. Ini mandat orang tua, hahaha.

Dulu, semasa aku masih menjadi front desk agent, aku selalu mengeluh; seragamku kurang nyaman dikenakan, high heelsku terlalu menyebalkan, jadwal kantorku kurang bisa disesuaikan, belum pula fom yang kadang suka banyak komentar. Meski kesal, sekarang aku menikmatinya. Disana aku belajar. Berinteraksi dengan banyak orang dan bahkan tumpukan kertas yang menjemukan dan layar komputer yang enggan ---

***
Dua paragraf diatas adalah janin dari postingan saya yang gagal dilahirkan, dua kali. Ah barangkali ini waktu dimana saya harus mengutuk betapa malasnya saya menyelesaikan sesuatu. Tanpa mengurangi, menambah atau mengedit kata yang sudah saya ketik entah berapa belas bulan yang lalu, saya bermaksud melanjutkan postingan tertunda ini. Saya sudah bukan saya yang dulu, setidaknya usia saya sudah bertambah. Cara saya menulispun juga. Mulai dari paragraf ini kebawah, saya memilih untuk bersaya daripada beraku. Tidak masalah bukan?

***

Oke! Janin saya gagal dilahirkan lagi. Entah kapan terakhir kali saya menyentuh blogger usang dan mengedit tulisan ini. Sekarang saya sedang berada di ruangan bernada ribut lagu-lagu hits dari accu radio. Saya hanya ditemani beberapa manusia yang sibuk dengan urusannya sendiri; seorang akunting yang sibuk menghitung angka, seorang desain grafis yang sibuk memainkan komputernya, sisanya menghilang.

Sekarang saya adalah seorang editor. Lucu juga saat mengakui bahwa saya adalah seorang editor tapi enggan mengedit tiga janin paragraf yang entah berapa lama tidak saya lanjutkan. Saya benar-benar pemalas. Saya sendiri lupa tentang apa yang ingin saya tuliskan waktu itu. Membaca judulnya, saya harus memperkirakannya sendiri.

Saya pernah menjadi seorang front desk agent, lalu educator tour. Saya terbilang ramah dan sangat sabar. Barangkali hingga sekarang. Maksud saya, saya sangat pintar (jika diharuskan) berlaku ramah dan sangat sabar. Sebuah cerita lama yang entah mengapa membuat saya tergelitik juga.

Seperti yang saya ceritakan, saya banyak bertemu orang. Sebagai editor, saya juga diharuskan banyak-banyak bertemu orang. Tentu saja, masih doyan tebar senyum manis tapi kali ini ala anak media. Seperlunya saja, tidak terlalu tulus tidak apa.

I ever dreamed to be an editor of lifestyle magazine. Now, I am. Time flies, dreams come true, stand still, or changed.

Saya sangat kagum dengan keajaiban yang Tuhan ciptakan. Tentang doa-doa dan pengharapan spontan yang dikabulkan. Tentang segala kebetulan yang bisa jadi sudah Dia rencanakan.


Saya mengunggu waktu pulang, sambil tersenyum terkenang cerita lama yang usang. Saya tidak bisa melupakan saya yang dulu. Saya besok tentu juga tidak bisa melupakan saya yang sekarang. Saya ingin menuliskan lebih banyak kalimat random lagi, tetapi sepertinya lain kali saja.



An editor in the boredom,

Tiara




Wednesday, 2 July 2014

Resep Kreasi Cupcakes Cokelat

Choco cupcakes a la Tiara, voila!

Jadi ceritanya saya sedang beberes file di laptop sambil nunggu berbuka puasa. Eh malah ketemu foto cupcake jadul hasil kreasi sendiri. Sudah lama sih buatnya, tapi belum sempat berbagi resepnya. Itu aslinya cupcake cokelat lho, hanya cara penyajiannya saja sedikit berbeda.

Begini cara membuatnya..

Pertama siapkan dulu bahan-bahannya!

Untuk cupcake:
150 gram mentega
150 gram gula pasir (sebaiknya yang halus saja ya)
3 butir telur ayam
75 gram cokelat masak pekat, dilelehkan
175 gram tepung terigu
½ sendok teh cake emulsifier
½ sendok teh baking powder
10 sendok makan susu bubuk bubuk
1 sendok teh vanili bubuk

Untuk hiasan:
1 pcs cokelat m&m
100 gram cokelat masak warna putih
1 sendok makan kopi bubuk
cokelat crispy tabur secukupnya

Cara membuat cupcake coklat:
  • Pertama, kocok 3 butir telur, gula pasir, dan cake emulsifer hingga adonan berwarna putih dan terlihat mengembang.
  • Lalu, tambahkan cokelat bubuk, baking powder, vanili bubuk, dan tepung terigu sedikit demi sedikit, ayak dan diaduk-aduk sampai rata (*adonan utama) 
  • Sementara, lelehkan margarin dan coklat masak bersamaan.
  • Masukkan adonan margarin dan cokelat masak leleh kedalam adonan utama, sedikit-demi sedikit.
  • Selanjutnya, tuang adonan yang telah tercampur merata ke dalam cetakan muffin yang telah dialasi dengan paper cup sekitar 2/3 penuh.
  • Panaskan oven 180 derajat celcius, dan panggang adonan dalam cetakan muffin yang sudah ditata diatas loyang selama 30 menit hingga menggembang dan matang
  • Setelah itu angkat, didinginkan dan cupcake cokelat siap dihias
Cara menghias cupcake:
Pertama, lelehkan coklat masak warna putih dengan cara ditim, tanpa ditambah dengan margarin. *melelehkannya dengan margarin akan merubah warna cokelat

a. Siapkan cupcake panggang yang sudah matang, dan oleskan cokelat putih leleh merata, setelah itu, hias dengan cokelat m&m
b. Siapkan cokelat putih leleh dan campur dengan bubuk kopi secukupnya. Oleskan adonan tersebut ke cupcake panggang yang sidah matang, kemudian hias dengan cokelat crispy tabur.
c. Siapkan cokelat putih leleh, masukkan ke cetakan berbentuk hati (atau cetakan bentuk lain). Tambahkan sedikit coklat bubuk, aduk sebentar dan dinginkan. 
Hias cupcake panggang dengan cokelat putih leleh, ratakan. Dan permanis dengan menaruh hiasan cokelat berbentuk hati yang sudah dingin di tengah cupcake.


Dan, selebihnya, bisa dikreasikan sendiri sesuai selera masih-masing ya! Hasil dari adonan diatas adalah sekitar 8 buah lho :D

Bisa makan, bisa masak juga dong. (*asal ada alat dan bahan sih, haha) Jadi, monggo dicoba..

Saturday, 21 June 2014

Pulang

Saya merasa harus menuliskan sesuatu tentang perjalanan pulang saya, lagi-lagi dari kota itu. Kota yang tidak begitu saya sukai, namun akhirnya barangkali akan saya tinggali sebentar lagi. Saya tidak begitu menyukai gedung-gedung pencakar langit dengan banyak kaca menyilaukan yang terlihat dari balik kaca taksi yang saya naiki. Pemandangan buratan senja di tepi laut dengan cakrawala tak berbatas jauh lebih menarik, tentu saja.

Saya mencoba mengingat-ingat pertama kali saya datang, tetapi bahkan ingatan saya sudah melupakan kesetiaannya pada pemiliknya. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari cerita saya, jika hanya pemikiran-pemikiran random tentang hidup tidak begitu menggangu saya kali ini.

Saya pernah merasa terdampar dengan perut kelaparan di terminal entah nomor berapa selepas penerbangan saya dari luar negeri. Seharusnya saya melanjutkan perjalanan saya dari kota itu ke kota saya dengan penerbangan terusan. Tetapi bodohnya, saya lupa memesan tiket pulang. Lebih bodohnya, saya lupa kala itu sudah masuk waktu liburan. Saya kehabisan tiket kereta, pun pesawat juga. Di antara kebingungan, yang saya temukan hanyalah seorang perantara yang menimang tiket seharga lima kali lipat harga biasanya. Hish!

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk segera pulang. Saya berencana pergi ke sebuah terminal bus, dan mencari penginapan di dekat sana, lalu pulang keesokan harinya, dengan bus tentu saja. Yang terjadi sesungguhnya, setelah saya sampai di terminal bus tadi, saya bertemu perantara lagi yang menjanjikan saya untuk pulang segera, tengah malam itu juga. Karena sangat lelah dan terlalu malas menyeret koper sambil menggendong ransel terlalu lama, saya meng-iya-kan saja tawarannya. Saya memandang bus tua renta yang akan membawa saya pulang. Akan menjadi perjalanan yang panjang, batin saya.

Saya duduk di samping pengemudi dengan terpaksa. Saya menyaksikan perseteruan beberapa lelaki paruh baya disana yang menyangsikan banyak hal ganjil yang mulai kelihatan. Saya tersadar, saya habis rugi bandar. Saya ditipu, tapi saya mau segera pulang. 
Di perjalanan, saya mendengar percakapan bapak sopir dan kernetnya, tentang jalanan yang tidak semulus biasanya, tentang pagi yang terik dan sore yang basah, tentang harga ban mobil dan onderdil. Saya diajak bicara seorang bapak paruh baya tentang hidupnya, tentang anak-anaknya yang beranjak dewasa, tentang rencana hidupnya yang akan segera pindah ke Sumatra sana. Saya mendengarkan, dan menghabiskan hampir seharian berharap saya segera di rumah. Sampai pada akhirnya saya diturunkan di tempat yang saya tidak tahu dimana, di kota sebelah kota saya. Saya benci harus menyeret koper sendiri di tengah malam. Tetapi begitulah yang saya lakukan, ganti bus dan meneruskan perjalanan.

Bukan hanya sekali saya pulang membawa cerita perjalanan yang tidak begitu menyenangkan. Saya pernah pulang dari kota itu naik kereta kelas ekonomi untuk pertama kalinya. Lucu rasanya, saya menelan dua tablet pengantar tidur saya demi ketidakpedulian saya pada kaki-kaki yang kram. Di lain kesempatan, saya juga terpaksa memperpanjang rute perjalanan saya dari kota itu dengan alasan yang berulang: saya kehabisan tiket pulang. Saya meninggalkan kota itu ke kota jarak tiga jam dari kota saya, dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus. Teman saya sudah berpesan agar saya menunggu di tempat yang benar, tetapi saya memang seorang amatiran. Saya naik bus tua lagi, tanpa ac dan air mineral. Dengan banyak penumpang yang tidak pedulian.

Saya memandang seorang yang dengan santainya menyulut berbatang-batang rokok di kursi dekat saya. Dia memang sedikit berbeda. Saya hampir mengumpat, memrotes kepulan asap yang dia keluarkan dengan semena-mena. Saya memandang lelaki ini dari kursi belakang dengan seksama. Dengan segala keterbatasannya, barangkali merokok hanyalah sekedar pelariannya dari rasa sakit atas apa yang sudah diberikan hidup yang tidak bisa dia terima. Dia tidak sempurna, lelaki muda yang barangkali mengidap polio sejak lahir tetapi sayangnya tidak tertangani dengan begitu baik entah karena apa. Saya terdiam. Berdoa agar lelaki ini juga mendapatkan kebahagiaan.

Saya juga memperhatikan seorang ibu muda yang menggendong bayinya yang menangis keras di perjalanan pulang ini. Di sampingnya, si suami sibuk mencari mainan untuk menenangkan si bayi. Saya penasaran, akan tumbuh menjadi anak yang bagaimana si bayi kelak. Semoga yang dapat membanggakan kedua orang tuanya.

Saya memang kadang merutuk perjalanan pulang saya yang tidak biasa. Terlalu lama, terlalu melelahkan, terlalu menyebalkan. Tetapi saya tahu, hal-hal yang Tuhan tunjukan pada saya pada banyak perjalanan tadi membuat saya tersadar. Saya harus lebih banyak bersyukur setiap harinya, atas nikmat yang Tuhan limpahkan pada saya.

Ada sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan seorang teman, dulu, kira-kira lima tahun lalu. 
"Kalau hujan deras begini, kamu pernah kepikiran sama mereka yang nggak punya rumah buat berteduh?"
Kala itu, saya kurang mengerti maksudnya. Sekarang, setelah begitu banyak hal yang saya lihat di luar sana, saya mulai memahami.

Barangkali manusia harus hidup dengan memegang sebuah prinsip seperti lirik lagu dari salah satu grup vokal favorit saya, Maliq and d'essential, "Buka mata, hati, telinga.."

Monday, 9 June 2014

The J Letter

For David Levithan, The Lover's Dictionary is a story about love, in all its messy complicated reality. For me, it's more than just a story about love, but a diary. Then I will write it in my own version.
I know the alphabets start with A, but let me write the J letter first. The letter just keeps resounding in my head.

jade : "I found you!" You said.

jail : Your theory; A girl is like a bird that needs a golden cage. My theory; A girl is like a bird that needs to fly and an arm to stay. Have you watched the pirates movies I've ever told you lately? Look at the parrots.

January : I blamed myself for not bringing you a birthday cake. You said, "It's okay. It doesn't matter anyway."  I know it's not okay, not that okay. I cried, I failed. Did I?

jealousy : Things like these. When you still phone your workmates more than once in our date. When you accidentally mention the girl from your past. When you forget to call me, just because you're too busy with your witty theory.

jilt : I can do this to you, but I just don't want to. You can do that to me too, but I know you won't do.

jitters : I remember your I-hate-so-much-habit of smoking too much cigarettes in front of me, which once you excused as your way to redeem your nerve talking things with me. I held your left cold hand while you’re driving us home, or the truth is.. you let me hold yours to convince yourself that you weren't dreaming. Oh dear, if this relationship is just a dream, will you want somebody to wake you up maybe?

jocosity : I talked about my funny thoughts, I laughed a lot. I knew you didn't understand but then you laughed a lot too, watching me.

joke : Do you like it? No. Do you like it? No. Do you like it? No. So what do you like? You!

jolly :  It's funny how we used to talk about random stuffs then laughed, too loud. 

journal : It takes 725 days to know why God planned us to meet again that time. That October night. On heavy rain, with coffee and memory. And I still don't know how many days will it take to know where God will lead us then.

journey : In every corner of the new place I've just found, every sunset I adore. It's you whom I wish I could share the view with.

joy : When you hugged me tight, smiling. I could hear your heart's beating. I could hear your voice, whispering. I could always recall the feeling. 

jubilee : If we aren't brave enough to dream it, will we make it? Life dares us to choose, to decide, to elaborate the mystery by ourselves. Close your eyes, hold my hands, imagine..

June : I still love you. Do you still love me too? 

July :  I'm counting. I'm counting. I'm counting. For now and then, until the day I meet you, again and again and again. Would you help me to count it too?

Wednesday, 12 February 2014

Perkara Diam dan Menunggu

Sayang,

Aku baru saja memetik setangkai bunga rindu sebelum akhirnya aku memutuskan menulis sebuah surat sebagai bahan bacaanmu, barangkali nanti kau ada waktu. Kata orang, bunga rindu ini mirip sekali dengan mawar merah jambu. Sangat cantik, tetapi duri-durinya mampu melukaimu.

Akan aku beri tahu satu rahasia. Aku benci dengan jarak di antara kita. Bukan tentang sekian ratus kilometer yang memang seharusnya, melainkan jarak bernama diam yang sedang sengaja kita ciptakan. Entah ini cinta atau apa, yang jelas aku tak suka kalau kau tak lekas bicara, memecah hening yang memarnya sudah tak terkata.

Sudahkah kau tahu. Pun aku membenci aku—yang mungkin bagimu—terlalu sibuk dengan duniaku, dan kau—yang mungkin bagiku—tak mau memaksaku untuk meluangkan waktu. Atau barangkali sebaliknya, tergantung dilihat dari teropong mana. Sadarkah kau, kita sedang sama-sama terjebak dalam labirin yang kita bangun berdua. Aku tahu, doa yang aku kirimkan saja tidak akan cukup menenangkan pikiranmu jika kau salah mengartikan keangkuhanku. Kali ini aku akan mengalah, menyulut pijar yang seharusnya sudah kita lalukan bersama demi memberi pertanda. Temukan aku, dan kita akan meninggalkan labirin ini bersama, atau selamanya tersesat di dalamnya.

Seseorang pernah bilang, “Tak ada penantian yang sia-sia. Toh jika nantinya tak membuahkan apa-apa, paling tidak kau sudah punya ketabahan yang mengakar.” Setiap harinya kutanam pohon bernama ketabahan hingga barangkali nanti aku bisa berteduh di bawahnya saat matahari sedang terik-teriknya bersinar menyengat kulitku. Asal tidak ada orang yang sengaja menyiram minyak dan menyulut api bernama cemburu, kau tidak usah khawatir karena aku akan baik-baik saja berlindung di balik rimbunan pohon itu.

Barangkali, aku seperti perempuan gurun bernama Fatima yang sudah ditakdirkan menunggu. Aku seperti Fatima yang tidak sengaja ditemui seorang bocah yang dulunya hanya penggembala domba, yang pada suatu masa lebih memilih untuk meninggalkan domba-dombanya dan pergi mencari harta karun di dekat Piramida. Belum pernah mendengar ceritanya, bukan? Seharusnya kau membaca bukunya, seperti yang pernah aku katakan sebelumnya.

Akan aku beri tahu satu rahasia lagi. Aku pernah memilih untuk tidak pergi, menjauh sekitar hampir sepuluh ribu mil ke tempat dimana aku bisa menghirup udara baru karena aku juga memikirkanmu. Memikirkan kita. Seseorang mungkin mengutuk keputusanku, tetapi toh aku tidak perlu menjelaskan teoriku. Tiga tahun mungkin bukan waktu yang lama untuk menunggu, jika hanya kau tidak disiksa rindu dengan terlalu. Rindu juga seperti pohon perdu, yang mellilit leher, membuat sesak nafasmu. Jika dulu aku pergi, mungkin aku tidak seperti Fatima lagi. Alih-alih aku, kau akan merasa menempati posisiku, dan apakah kau mau menungguku selama itu? Karena percayalah, entah untuk egoku atau pelukmu, aku akan kembali. Seperti aku yang masih percaya tentang teori rasa, entah yang disambut atau yang disambit, bahwa kita akan mensyukuri tiap detik yang pernah ada. Aku tidak terlalu kekanakan dengan menganggapmu sudah dewasa, bukan?

Aku membayangkan rasa kopi yang kau minum pagi ini. Bisa jadi rasanya sangat pahit seperti rasa teh hitam tanpa gula yang kemarin malam aku minum terlalu larut, atau lebih seperti air tawar, hambar. Maaf karena aku belum pernah membuatkan secangkir kopi untukmu. Satu-satunya permintaan maaf yang seharusnya tidak aku tuliskan dalam bahan bacaanmu. Aku tidak mau berjanji akan membuatkanmu kopi suatu hari nanti. Kecuali, jika kau mau berjanji untuk menikmati teh hangat denganku sambil menertawakan hidup, suatu hari nanti.

Monday, 3 February 2014

Jangan

Jadi, anggap saja ini sebagai tanda protes tertulis karena akhir-akhir ini kamu terlalu sering datang. Aku memang tidak bisa menyalahkanmu atas keahlianmu menyelinap masuk melalui banyak kesempatan. Pun aku tidak bisa begitu saja membiarkanmu mengusik hidup yang sudah aku bangun sekarang.

Seseorang mengingatkanku agar berterima kasih padamu. Dia bilang, aku tidak mungkin bisa menghindarimu. Kamu serupa ilalang; ada dimana-mana, bahkan di pojokan gurun gersang. Barangkali dia benar, atau barangkali dia hanya ingin pembenaran. Seseorang juga pernah bilang, kamu memiliki dua kepribadian; baik dan buruk. Tetapi baik dan burukmu tidak bisa dipisahkan, bukan? Tidak akan ada hitam tanpa putih, atau tidak akan ada putih tanpa hitam. Semacam itu lah.

Aku juga pernah bilang, kamu boleh sesekali datang menengok keadaanku. Tetapi jangan terlalu sering. Aku tidak mau mengorbankan yang sudah aku miliki sekarang. Bisa saja beberapa orang di sekelilingku tidak menyukai kehadiranmu, bukan? Kata mereka, jika kamu datang, kadang aku menjadi muram. Kata mereka, jika kamu datang, aku seperti terserang penyakit kronis bernama lupa. Aku lupa dengan kenyataan.

Barangkali sebaiknya aku memang hanya berterima kasih kepadamu, tidak lebih, tidak kurang. Karena kamu, sekarang aku merasa menjdi orang yang lebih disayang Tuhan—tentu saja jika dibandingkan dengan aku yang dulu misalnya. Karena kamu, sekarang aku merasa mempunyai banyak harta, lebih-lebih yang tak kasat mata; kasih dan sayang yang datang tidak hanya tiba-tiba saja. Karena kamu, sekarang aku menjadi aku yang sekarang. Aku yang lebih berbahagia menerima aku yang seutuhnya.

Terimakasih kenangan.. Aku akan membiarkanmu tumbuh di ladang gersang yang memang sengaja aku sediakan. Jangan protes, itu lebih baik daripada aku dikaruniai penyakit lupa yang mereka sebut amnesia, bukan? Sedikit rahasia, ladang gersangku penuh unsur hara. Kamu hanya perlu lebih jeli menemukannya. Jadi sudah, diam disitu saja. Jangan pernah kamu usik teman baruku yang bernama harapan. Dia sedikit rapuh, masih butuh dikuatkan. Dia sedang tumbuh di padang rumput yang lebih pantas disebut oase tentu saja.

Barangkali nanti kalian akan menjadi teman, bisa jadi kan? Di suatu sore, sambil memandang senja di tepian laut, aku akan duduk diam ditemani kalian. Harapan akan membisikkan padaku skenario yang baru saja ditulisnya. Iya, dia suka sekali menulis peluang yang dinamainya impian. Dan kamu, diam saja disitu. Jangan berusaha membuat gaduh atau aku akan memukul kepalamu dengan ranting kecil yang tak sengaja aku temukan. Jangan bertengkar, aku tidak akan suka meneriaki kalian dengan umpatan-umpatan.

Nah, sekarang mengerti lah. Kali ini kamu jangan terlalu sering datang. Aku sedang sangat sibuk mengurusi harapan.

Sunday, 2 February 2014

Menanti Malam

Aku tidak pernah mengerti mengapa kau lebih suka datang kala malam. Aku tidak pernah tahu kemana kau pergi kala siang menjelang. Apakah siang terlalu terik bagimu, hingga kau harus terkurung di tempat persembunyian? Ataukah siang terlalu silau bagimu, hingga kau harus mengais lorong gelap sendirian?

Andai saja kau tahu, disini aku selalu setia menantimu siang dan malam. Meski kadang, aku bosan dengan siang tanpamu yang menjemukan. Meski kadang, aku lelah dengan penantian dirimu yang panjang.

Aku disini tidak punya teman. Bagiku, kau adalah ladang basah belum diolah yang akan ku paksa menampung biji-bijian dari kantongku yang keemasan. Ku namai mereka harapan. Bagiku, hanya kau yang akan mampu menyemai rerumputan di kala semua tertidur di kasur melipat-lipat khayalan.

Cepat datang, jangan bosan.

Aku, punguk yang merindukan bulan

Saturday, 1 February 2014

Jadi, Februari..

Februari,

Sebelum nanti saya lupa, perkenankan saya melontarkan pertanyaan tentang kejutan apa saja yang sudah anda persiapkan untuk saya, boleh? Maaf jika terkesan kurang ajar, akhir-akhir ini saya hanya belajar lebih frontal dan formal. Anda tidak terlalu terganggu dengan kata ‘saya’ dan ‘anda’, bukan? Karena ‘aku’ dan kamu’ terlalu polos kedengarannya.

Daripada berputar-putar, sebaiknya mungkin saya menanyakan kabar anda. Jadi bagaimana, masihkah baik-baik saja dengan menjadi sosok anda yang dipuja khalayak muda dan dinanti-nantikan banyak manusia? Akan banyak—sebut saja—cinta yang disebar-sebarkan pada 28 hari masa jabatan anda, bukan? Lebih-lebih pada masa pertengahannya.

Jadi para pembuat coklat akan kebanjiran pesanan, pabrik-pabrik gula akan menaikkan jumlah produksi mereka menjadi paling tidak tiga kali lipat, dan akan banyak keuntungan yang diraup mereka pada masa jabatan anda yang singkat ini. Oh, barangkali para dokter juga sudah bersiap-siap kalau saja akan ada beberapa pasien darurat yang seharusnya tidak makan coklat, melanggar pantangannya. Sayang sekali jika angka penderita diabetes harus bertambah ya. Pekerja dunia mode dan para pengagum serta pengikutnya pun, barangkali kena pengaruhnya.

Tidak, tidak. Saya tidak menyalahkan anda dengan keriuhan perayaan pada bulan Februari yang sudah menjadi budaya di hampir seluruh belahan dunia ini. Toh, saya juga kadang-kadang menikmatinya. Sebagai pengemar coklat, tentu saya tidak bisa melewatkan potongan harga atau paket coklat cinta yang didisplay di rak-rak supermarket langganan saya, yang khusus ada pada masa jabatan anda. Bukan untuk siapa-siapa, kecuali untuk saya.

Jadi Februari, barangkali seseorang harus berterima kasih pada anda atau mengutuk adanya anda. Saya tidak terlalu menyukai anda karena anda terlalu banyak menghujani manusia dengan yang mereka sebut-sebut cinta. Bukannya segala yang terlalu itu tidak pada tempatnya? Dan lagi, anda mengingatkan saya pada beberapa hal yang seharusnya sudah sirna. Seperti cake coklat yang pernah saya buat sedikit terlambat. Saya menyesal tidak mencatat resepnya.

Saya hanya berharap, anda tidak terlalu banyak membawa hujan, seperti yang sudah Januari lakukan. Saya juga berharap, anda bisa segera mempertemukan saya kepada yang sudah saya damba-dambakan, membawa kabar baik yang saya nantikan. Selebihnya, kalau saya masih boleh berharap, secepat atau selambat apapun anda berjalan, biarkan manusia-manusia yang hidup di masa jabatan anda merasa bahagia dan bersuka cita, sebelum mungkin nanti mereka merasakan duka--bertemu dengan September misalnya.

Saya sudahi saja ya suratnya.

Salam

-kali ini peluk jauh saja-

Wednesday, 8 January 2014

Kuil Asakusa Kannon Sensoji

Jika kita akan berlibur ke negeri Sakura, tentu saja kita harus merencanakan rencana perjalanan kita dengan sangat teliti. Jepang mempunyai banyak sekali obyek wisata, terutama di daerah Tokyo sendiri. Tokyo merupakan ibukota Jepang, kota yang memiliki rata-rata pendapatan per kapita tertinggi di dunia setingkat dengan London dan New York. Obyek-obyek wisata yang ditawarkan di kota modern ini sangat beragam, misalnya obyek wisata kota futuristik, obyek wisata kuil-kuil tradisional, maupun wisata kuliner yang sangat mengundang selera.

Untuk yang tertarik dengan wisata tradisional di Jepang, ada satu kuil yang harus masuk dalam daftar rencana perjalanan selama di Jepang. Kuil yang bermana Kuil Asakusa Kannon Sensoji ini selalu ramai di kunjungi para wisatawan. Kuil ini terletak di Taito, Tokyo, sebuah daerah yang menyajikan begitu banyak hal yang sayang jika dilewatkan. Kuil ini dapat dijangkau dengan naik MRT ke stasiun Asakisa Eki, dan berjalan sekitar 10 menit. Di sekitar kuil, kita dapat mencoba menikmati naik becak yang ditarik oleh orang-orang jepang. Kita akan dikenakan biaya sekitar 3000 yen untuk perjalanan keliling sekitar kuil berdurasi 15 sampai 20 menit.

Di kuil Asakusa Kannon Sensoji terdapat dua lampion raksasa, satu terletak di gerbang pertama, dan yang kedua terletak di gerbang kedua setelah kita melewati Nakamise. Nakamise adalah sepanjang jalan menuju kuil Sensoji yang merupakan pasar tradisional, menyediakan aneka jajanan tradisional dan cinderamata untuk para wisatawan. Jenis dan harga cinderamata disini beragam, tetapi tidak boleh ditawar. Uniknya, setiap kita membeli cinderamata, penjual selalu membungkusnya dengan kertas kado.

Setelah kita melewati Namikase dan gerbang kedua di Asakusa, kita akan menemukan Omikuji di sebelah kanan jalan. Omikuji adalah alat yang dipercaya dapat meramalkan masa depan orang yang menggunakannnya. Kita hanya perlu membayar 100 yen, dimasukkan ke dalam kotak yang tersedia, mengocok tabung Omikuji dan mengeluarkan satu sumpit yang sudah ditandai dengan huruf kanji. Yang perlu kita lakukan hanyalah mencocokan huruf kanji yang kita punya dengan huruf kanji yang ada di antara puluhan almari kecil yang sudah disediakan, mengambil ramalan dan membacanya. Jika ramalannya merupakan ramalan yang baik, kita boleh membawanya pulang. Tetapi sebaliknya, jika ramalannya merupakan ramalan yang buruk, kita harus menyimpulnya di papan kawat yang sudah disediakan dan meninggalkannya dengan harapan nasib buruk tidak ikut serta bersama kita.

Hal lain yang menarik di kawasan ini adalah sebuah nampan yang dipenuhi dengan dupa persembahan di tengah jalan dekat kuil Sensoji. Masyarakat percaya, siapa saja yang berdoa dan terkena asap dari dupa-dupa yang dibakar disana akan menjadi lebih pintar dan berilmu. Tidak jauh dari situ juga ada mata air yang dipercaya dapat membuat siapa saja yang membasuh muka disana dan meminum airnya akan awet muda. Hal ini sangat mirip dengan mitos mata air di Pura Tanah Lot, Bali.

Setibanya di depan Kuil Sensoji, kita dapat melihat yang tidak kalah menarik. Di sebelah kanannya, kita dapat melihat bangunan Tokyo Sky Tree dari kejauhan. Di sebelah kirinya, kita dapat melihat bangunan kuil Dempoin. Sayangnya kuil ini sudah ditutup untuk umum. Di kanan bangunan kuil Sensoji, terdapat tabung-tabung sake yang ditata. Tabung-tabung sake ini merupakan simbol persembahan kepada para dewa. Bangunan kuil Sensoji yang besar juga cukup menarik. Di depan pintu masuk maupun di dalam kuilnya terdapat nampan atau tempat untuk melemparkan koin. Kita dapat berdoa agar keinginan kita segera terkabul.


Untuk sebuah kota tua di Tokyo, Kuil Asakusa Kannon Sensoji sangatlah menarik. Di satu daerah saja kita sudah pasti akan mendapatkan banyak pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Foto-foto [dokumen pribadi] :



Bisa berdoa minta jodoh disini, lempar koin dulu~




Omikuji!
Leave your bad luck there~
Cuci muka, biar awet muda hihi
Hirup asap dupanya, katanya bisa pintar, atau sesak nafas :x
Maaf, narsis sedikit. Ini sake-sake persembahan yang saya maksud
Tengok ke sebelah kanan, ada Tokyo Sky Tree!

Becak yang biasa ditarik sama mahasiswa jepang yang kerja partime jadi mas-mas tukang becak, unyu :3
Jalan sekitar 10 menit dari luar kuil, bisa lihat view cantik dari  jembatan.