Selamat tahun baru!
Saya harap-harap cemas juga memasuki tahun 2016 ini. Saya menghabiskan akhir tahun dengan liburan singkat bersama adik permpuan saya yang kebetulan datang berkunjung di sela deadline akhir tahun yang sedikit mundur.
Saya tidak melakukan kegiatan yang terlalu penting dalam detik-detik pergantian tahun kecuali berada di kafe dengan teman-teman (yang lama dan baru-baru saja dikenal) sambil mendengarkan beberapa di antaranya memainkan musik yang tidak sedikitpun saya mengerti. Saya ingin melarikan diri ke pantai, batin saya.
Seusai huru-hara, bunyi terompet, peluk agak bahagia, ucapan tahun baru, dan tetek bengeknya, saya dan dua teman wanita memutuskan untuk menyusuri kawasan Seminyak, mengarah ke sebuah klub malam hip yang ramai dikunjungi orang lokal maupun bule dari berbagai kalangan.
Menit pertama, kami masih bercanda-canda. Salah satu teman wanita yang baru datang dari KL mengajak saya membeli minum. Kami mendekat ke arah meja kasir untuk memesan. Dia menyodori saya bir bintang, bir yang rasanya tidak terlalu saya suka. Menit selanjutnya, kami dihampiri dua bule yang menjabat tangannya dan kemudian menculiknya.
Saya dan satu teman wanita yang tersisa tidak paham harus berbuat apa. Kami memutuskan untuk tetap menikmati lantunan musik DJ yang disetel keras-keras, setiap nadanya memadati klub yang sesak dengan lautan manusia ini. Setengah jam beralalu dan saya mulai bosan. Antara sadar dan tidak, saya sempat tersentak dan terdiam dalam beberapa detik memandang sekeliling saya. Wajah-wajah semburat bahagia, gelak tawa, atau itu hanya topeng yang dipermak instan karena pengaruh alkohol yang mereka tegak saja?
Saya mengangkat botol minuman yang saya bawa. Teringat seminggu sebelumnya, saya mampir ke pabrik wine atas sebuah undangan dan mencicip beberapa jenis wine yang tersedia. Seingat saya, saya berjanji jika itulah wine terakhir yang akan saya tegak. Saya lupa bahwa doa atau niatan itu harus lebih spesifik, harus dengan kesadaran sepenuhnya. Mana mau juga Tuhan mendengar doa umatnya yang seperempat melayang karena pengaruh minuman dengan kadar alkohol 12 persen itu?
Saya berada di antara kerumunan para penikmat malam. Saya tiba-tiba merasa ngeri sendiri. Ada ketakutan yang menyeruak masuk, saya takut jika ada bom meledak dan serpihannya mengenai salah satu bagian tubuh saya di sana. Entah dari mana pikiran ini muncul. Barangkali saya sangat lelah dan sedikit kecewa. Lelah dengan apa yang saya kerjakan di akhir tahun kemarin, kecewa karena lagi-lagi saya tidak bisa menghabiskan malam tahun baru dengan orang yang spesial bagi saya.
Saya menarik teman saya, mengatakan padanya bahwa saya bosan, mari kita pulang. Seusai menghubungi teman kami yang raib, berkabar ala kadarnya sambil terus mencari keberadaannya di tengah lautan manusia ini, kami menyerah dan pulang. Beruntungnya, teman saya tadi malah sudah berada di rumah.
*Pagi ini saya sedikit terkejut mendengar berita mengenai bom yang ada di kawasan Thamrin, Jakarta. Empat orang pelaku sudah ditangkap di sore harinya, namun tetap saja yang terjadi menyisakan trauma dan luka. Sejauh yang saya tahu, ada tujuh korban meninggal. Sebagai pendatang yang tinggal di kota pariwisata seperti Bali, kejadian ini cukup membuat ngeri. Anak-anak media televisi (sebagian teman saya juga) menggemborkan isu ini itu terkait pengeboman ini. Ah, semoga semuanya membaik dengan segera. Doa saya untuk Jakarta dan seluruh pelosok Indonesia.
**Sejujurnya, saya tidak menyangka ini akan menjadi postingan pertama saya di tahun 2016
Tiara
Showing posts with label Confeitto. Show all posts
Showing posts with label Confeitto. Show all posts
Thursday, 14 January 2016
Thursday, 3 December 2015
Cerita Lama
Aku tidak begitu menyukai pekerjaanku, tapi aku menikmatinya. Tapi seringkali, aku yakin bahwa aku menyukai perkerjaanku, walau kadang aku tidak menikmatinya. Menghabiskan waktu berdiri hampir 8 jam di ruangan sempit membuatku bosan, kaki-kakiku pegal, mata berlapis softlensku lelah, otakku pusing karena banyak rumus yang harus dihafal, ini lah, itu lah. Pemandangan paling tidak membosankan bisa jadi hanya kendaraan yang terlihat lalu-lalang yang biasa terlihat dari dalam ruangan. Sejak hampir tiga bulan lalu, aku memang banyak belajar. Banyak yang aku temui disini, mulai dari tamu-tamu asal Ambon yang berisik, tamu Makassar yang hampir bisa dibilang genit, tamu Jakarta yang baik dan suka memberi tip, tamu Belanda yang ramah, tamu Inggris yang lucu, tamu Prancis yang ribet, tamu Australia yang suka diajak mengobrol, tamu Belgia yang tampaaan, ah terlalu banyak.
***
Aku menemukan tulisan ini dalam sebuah draft, mari dilanjutkan. Sudah dua bulan lebih aku mengakhiri rutinitas 8 jam di tempat itu, sebuah hotel bintang tiga yang letaknya hampir di tengah kota. Selain karena sudah lelah, aku pun harus kembali ke bangku kuliah. Beginilah, sebagai mahasis(w)a yang harus menambah satu ekstra semester, aku diharuskan untuk lulus secepatnya. Ini mandat orang tua, hahaha.
Dulu, semasa aku masih menjadi front desk agent, aku selalu mengeluh; seragamku kurang nyaman dikenakan, high heelsku terlalu menyebalkan, jadwal kantorku kurang bisa disesuaikan, belum pula fom yang kadang suka banyak komentar. Meski kesal, sekarang aku menikmatinya. Disana aku belajar. Berinteraksi dengan banyak orang dan bahkan tumpukan kertas yang menjemukan dan layar komputer yang enggan ---
***
Dua paragraf diatas adalah janin dari postingan saya yang gagal dilahirkan, dua kali. Ah barangkali ini waktu dimana saya harus mengutuk betapa malasnya saya menyelesaikan sesuatu. Tanpa mengurangi, menambah atau mengedit kata yang sudah saya ketik entah berapa belas bulan yang lalu, saya bermaksud melanjutkan postingan tertunda ini. Saya sudah bukan saya yang dulu, setidaknya usia saya sudah bertambah. Cara saya menulispun juga. Mulai dari paragraf ini kebawah, saya memilih untuk bersaya daripada beraku. Tidak masalah bukan?
***
***
Oke! Janin saya gagal dilahirkan lagi. Entah kapan terakhir kali saya menyentuh blogger usang dan mengedit tulisan ini. Sekarang saya sedang berada di ruangan bernada ribut lagu-lagu hits dari accu radio. Saya hanya ditemani beberapa manusia yang sibuk dengan urusannya sendiri; seorang akunting yang sibuk menghitung angka, seorang desain grafis yang sibuk memainkan komputernya, sisanya menghilang.
Sekarang saya adalah seorang editor. Lucu juga saat mengakui bahwa saya adalah seorang editor tapi enggan mengedit tiga janin paragraf yang entah berapa lama tidak saya lanjutkan. Saya benar-benar pemalas. Saya sendiri lupa tentang apa yang ingin saya tuliskan waktu itu. Membaca judulnya, saya harus memperkirakannya sendiri.
Sekarang saya adalah seorang editor. Lucu juga saat mengakui bahwa saya adalah seorang editor tapi enggan mengedit tiga janin paragraf yang entah berapa lama tidak saya lanjutkan. Saya benar-benar pemalas. Saya sendiri lupa tentang apa yang ingin saya tuliskan waktu itu. Membaca judulnya, saya harus memperkirakannya sendiri.
Saya pernah menjadi seorang front desk agent, lalu educator tour. Saya terbilang ramah dan sangat sabar. Barangkali hingga sekarang. Maksud saya, saya sangat pintar (jika diharuskan) berlaku ramah dan sangat sabar. Sebuah cerita lama yang entah mengapa membuat saya tergelitik juga.
Seperti yang saya ceritakan, saya banyak bertemu orang. Sebagai editor, saya juga diharuskan banyak-banyak bertemu orang. Tentu saja, masih doyan tebar senyum manis tapi kali ini ala anak media. Seperlunya saja, tidak terlalu tulus tidak apa.
I ever dreamed to be an editor of lifestyle magazine. Now, I am. Time flies, dreams come true, stand still, or changed.
Saya sangat kagum dengan keajaiban yang Tuhan ciptakan. Tentang doa-doa dan pengharapan spontan yang dikabulkan. Tentang segala kebetulan yang bisa jadi sudah Dia rencanakan.
Saya mengunggu waktu pulang, sambil tersenyum terkenang cerita lama yang usang. Saya tidak bisa melupakan saya yang dulu. Saya besok tentu juga tidak bisa melupakan saya yang sekarang. Saya ingin menuliskan lebih banyak kalimat random lagi, tetapi sepertinya lain kali saja.
An editor in the boredom,
Tiara
Seperti yang saya ceritakan, saya banyak bertemu orang. Sebagai editor, saya juga diharuskan banyak-banyak bertemu orang. Tentu saja, masih doyan tebar senyum manis tapi kali ini ala anak media. Seperlunya saja, tidak terlalu tulus tidak apa.
I ever dreamed to be an editor of lifestyle magazine. Now, I am. Time flies, dreams come true, stand still, or changed.
Saya sangat kagum dengan keajaiban yang Tuhan ciptakan. Tentang doa-doa dan pengharapan spontan yang dikabulkan. Tentang segala kebetulan yang bisa jadi sudah Dia rencanakan.
Saya mengunggu waktu pulang, sambil tersenyum terkenang cerita lama yang usang. Saya tidak bisa melupakan saya yang dulu. Saya besok tentu juga tidak bisa melupakan saya yang sekarang. Saya ingin menuliskan lebih banyak kalimat random lagi, tetapi sepertinya lain kali saja.
An editor in the boredom,
Tiara
Saturday, 21 June 2014
Pulang
Saya merasa harus menuliskan sesuatu tentang perjalanan pulang saya, lagi-lagi dari kota itu. Kota yang tidak begitu saya sukai, namun akhirnya barangkali akan saya tinggali sebentar lagi. Saya tidak begitu menyukai gedung-gedung pencakar langit dengan banyak kaca menyilaukan yang terlihat dari balik kaca taksi yang saya naiki. Pemandangan buratan senja di tepi laut dengan cakrawala tak berbatas jauh lebih menarik, tentu saja.
Saya mencoba mengingat-ingat pertama kali saya datang, tetapi bahkan ingatan saya sudah melupakan kesetiaannya pada pemiliknya. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari cerita saya, jika hanya pemikiran-pemikiran random tentang hidup tidak begitu menggangu saya kali ini.
Saya pernah merasa terdampar dengan perut kelaparan di terminal entah nomor berapa selepas penerbangan saya dari luar negeri. Seharusnya saya melanjutkan perjalanan saya dari kota itu ke kota saya dengan penerbangan terusan. Tetapi bodohnya, saya lupa memesan tiket pulang. Lebih bodohnya, saya lupa kala itu sudah masuk waktu liburan. Saya kehabisan tiket kereta, pun pesawat juga. Di antara kebingungan, yang saya temukan hanyalah seorang perantara yang menimang tiket seharga lima kali lipat harga biasanya. Hish!
Pada akhirnya, saya memutuskan untuk segera pulang. Saya berencana pergi ke sebuah terminal bus, dan mencari penginapan di dekat sana, lalu pulang keesokan harinya, dengan bus tentu saja. Yang terjadi sesungguhnya, setelah saya sampai di terminal bus tadi, saya bertemu perantara lagi yang menjanjikan saya untuk pulang segera, tengah malam itu juga. Karena sangat lelah dan terlalu malas menyeret koper sambil menggendong ransel terlalu lama, saya meng-iya-kan saja tawarannya. Saya memandang bus tua renta yang akan membawa saya pulang. Akan menjadi perjalanan yang panjang, batin saya.
Saya duduk di samping pengemudi dengan terpaksa. Saya menyaksikan perseteruan beberapa lelaki paruh baya disana yang menyangsikan banyak hal ganjil yang mulai kelihatan. Saya tersadar, saya habis rugi bandar. Saya ditipu, tapi saya mau segera pulang.
Di perjalanan, saya mendengar percakapan bapak sopir dan kernetnya, tentang jalanan yang tidak semulus biasanya, tentang pagi yang terik dan sore yang basah, tentang harga ban mobil dan onderdil. Saya diajak bicara seorang bapak paruh baya tentang hidupnya, tentang anak-anaknya yang beranjak dewasa, tentang rencana hidupnya yang akan segera pindah ke Sumatra sana. Saya mendengarkan, dan menghabiskan hampir seharian berharap saya segera di rumah. Sampai pada akhirnya saya diturunkan di tempat yang saya tidak tahu dimana, di kota sebelah kota saya. Saya benci harus menyeret koper sendiri di tengah malam. Tetapi begitulah yang saya lakukan, ganti bus dan meneruskan perjalanan.
Bukan hanya sekali saya pulang membawa cerita perjalanan yang tidak begitu menyenangkan. Saya pernah pulang dari kota itu naik kereta kelas ekonomi untuk pertama kalinya. Lucu rasanya, saya menelan dua tablet pengantar tidur saya demi ketidakpedulian saya pada kaki-kaki yang kram. Di lain kesempatan, saya juga terpaksa memperpanjang rute perjalanan saya dari kota itu dengan alasan yang berulang: saya kehabisan tiket pulang. Saya meninggalkan kota itu ke kota jarak tiga jam dari kota saya, dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus. Teman saya sudah berpesan agar saya menunggu di tempat yang benar, tetapi saya memang seorang amatiran. Saya naik bus tua lagi, tanpa ac dan air mineral. Dengan banyak penumpang yang tidak pedulian.
Saya memandang seorang yang dengan santainya menyulut berbatang-batang rokok di kursi dekat saya. Dia memang sedikit berbeda. Saya hampir mengumpat, memrotes kepulan asap yang dia keluarkan dengan semena-mena. Saya memandang lelaki ini dari kursi belakang dengan seksama. Dengan segala keterbatasannya, barangkali merokok hanyalah sekedar pelariannya dari rasa sakit atas apa yang sudah diberikan hidup yang tidak bisa dia terima. Dia tidak sempurna, lelaki muda yang barangkali mengidap polio sejak lahir tetapi sayangnya tidak tertangani dengan begitu baik entah karena apa. Saya terdiam. Berdoa agar lelaki ini juga mendapatkan kebahagiaan.
Saya juga memperhatikan seorang ibu muda yang menggendong bayinya yang menangis keras di perjalanan pulang ini. Di sampingnya, si suami sibuk mencari mainan untuk menenangkan si bayi. Saya penasaran, akan tumbuh menjadi anak yang bagaimana si bayi kelak. Semoga yang dapat membanggakan kedua orang tuanya.
Saya memang kadang merutuk perjalanan pulang saya yang tidak biasa. Terlalu lama, terlalu melelahkan, terlalu menyebalkan. Tetapi saya tahu, hal-hal yang Tuhan tunjukan pada saya pada banyak perjalanan tadi membuat saya tersadar. Saya harus lebih banyak bersyukur setiap harinya, atas nikmat yang Tuhan limpahkan pada saya.
Ada sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan seorang teman, dulu, kira-kira lima tahun lalu.
"Kalau hujan deras begini, kamu pernah kepikiran sama mereka yang nggak punya rumah buat berteduh?"
Kala itu, saya kurang mengerti maksudnya. Sekarang, setelah begitu banyak hal yang saya lihat di luar sana, saya mulai memahami.
Barangkali manusia harus hidup dengan memegang sebuah prinsip seperti lirik lagu dari salah satu grup vokal favorit saya, Maliq and d'essential, "Buka mata, hati, telinga.."
Monday, 4 March 2013
(Not to be) Fake or Nothing at All
Be careful with your words. Once it sounds cynical, it will make two
perspektives; hiding or showing the true you.
As I remember, I tweeted those
words because at that time, I was in very bad mood and really need to share and talk
with someone. Lucky I live in an era where twitter has been found by Jack and
his friends. Lucky I live in an era where I don’t need to be so damn bored all the
time for having nothing to do.
One of my friends retweeted and replied that
with only four words “showing the true you”. Am I a cynical person? Oh yes I
am, for heaven’s sake. People don’t even know what I’ve faced for my more than
twenty years for being such a cynical person like this. Have you ever felt like
it’s always you to be blamed for many things you’ve never done? Have you ever
felt like it’s always you who are betrayed by the person you’ve believed? Have
you ever felt the worst feeling you’ve ever imagined in your life? Don’t ask
me, you’ll never understand.
As I said, a ‘cynical’ form is
just a talent from many whatsoever things. Let’s call it as a shell. When people
think that they are too weak to face this cruel world, they unconsciously make
a shell as a protection to avoid the bad things that maybe happen. Ironically,
they don’t even know it will save their life or make it worse. Too bad? Yes,
but it truly happen. When people have faced the bad things in their past, they
unconsciously make a shell too. Time will heal the wounds, but there’s always
scar left behind. Traumatic feeling and too much fear.
Some people may be good enough in
hiding something from someone somehow. But have you ever thought the reason
why? Some people are too scared to be known for their weakness. Some people are
too scared to be laughed at the things they have known. Some people are too
scared to be broken somehow. Some people are sometimes too blind to know there
are always somebody care.
It’s not about how good you are
in measuring and judging people around you. It’s not about how good you will be
for having such a honest thought to be shared to those whom you think about. People
are hiding the true them because some reasons you might never think before.. If
hiding the true them is always called as fake thing, so what do you think this
life should be?
Some people probably hold back
their tears and pretending to be okay, just to give themselves such a belief
that everything will be (really) okay somehow. Some people are pretending to be
fine all the time just to hide their sadness. Some people probably say, “I’m so
f*cking happy” when their hearts keep telling such words like “Frankly, I’m so faking
happy..” Bittersweet truth.
Overall, (for me) fake can be
considered as two things again; the bad and the good one. It will be good as
you know its limitation and you know exactly why you are acting that fake, as
long as it will never hurt people around you. It will be bad if you use it to
show how nice you are to somebody else when you’re not.
For some reasons, I keep talking
to myself that this life is not always about me, me, and me. But sometimes I
forget to manage the thoughts in my head in the way I live, like how I forget to
count my blessings when I’m in despair and doubts. When I asked my friends about
the way he chooses his way of living; keep pretending he doesn’t know (about
the fake around him) or go acting as fake as them, he said something that
finally opened my eyes.
“I’ve spent my last year faking, won't do it for the up comings. At least I know what to say on faking person, like this moment.”
Well, I'm probably the best faking
person, ever. But I still thought that he forgot to answer my truly question.
Thank you for reminding me anyway.. Actually I haven’t known exactly whether he thought I’m one of that faking people or it's just the words for our conversation before. It’s kinda hurting to
know how bad you look like to somebody else. I won’t pretending I don’t care,
at least I’m not that fake.
In the end.. this life is still
about (not to be) fake or nothing at all, isn’t it?
Thursday, 11 October 2012
#PecahDiUbud
Jadi ceritanya, pagi buta itu, sekitar jam 2 pagi tanggal 5 Oktober itu, aku lagi gentayangan di timeline. Hahaha, terus mas Alex lagi ngetwit pake hashtag PecahDiUbud, terus aku ikutan, terus ketagihan, terus.. Hahaha. Dan sumpah, walau temanya bisa bikin nyesek (kampret, sempet nyesek beneran deh), but it's kinda addicting. (,--)
Kalo ditanya kenapa Pecah Di Ubud? (Masih) kalo kata mas Alex, sejarahnya adalah ada beberapa orang berkumpul di Ubud, dan ‘pecah’ bareng in heartbreak. Begitulah..
Here's my tweets..
Should I still call it love, when there is no more us between you and I?
We used to be together, we used to love each other, so why can't we stay to be lover?
You keep loving your reflection. I keep loving my imagination. Once of our lives, can we keep walking through our direction?
Don't say I've hurt you that much. You just never realize that I love you so much.
I kissed you in the rain. You hugged me for those pain. See, love was never easy to explain.
I remember a poem you gave me, unfinished poem of our eternal love that have ended somehow.
I've never felt a bittersweet kiss before yours. A kiss you gave me to say 'I don't love you anymore'.
For once of my life, let me hate you for a second. Because I've loved you for years, even when you never notice my tears.
The wind of your presence now have waken my gloomy memories up. Those I've burried when we decided to break up.
I love to see you have those loud laughs, even when they aren't for me anymore.
You hurt me. I hurt you back. And we never understand why we let it happened, till it finally broke our promises.
I can always find another man much much better than you, but I just don't want to.
*kalo dibaca dari awal sampe akhir, mirip cerita ya? haha! x)
Nah, selain twit-twit (pagi buta)ku tadi, ada beberapa twit bagus lainnya pake hashtag PecahdiUbud. Sebenernya banyaak yang bagus, tapi bakalan baru selesai bulan depan kalo ditulis semua. Check some.
Monday, 1 October 2012
Selamat Malam Uti!
“Leh ngati-ati sekolahe. Tumindak leh becik. Neg wis dadi wong sukses sesuk, ojo ngasi lali karo sedulur yo nduk..”
Kira-kira begitu kalimat paling aku ingat dari Eyang Uti. Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia sih intinya, aku dipesan untuk tidak melupakan saudara-saudaraku kalau sukses nanti. Sudah sebulan lebih sejak terakhir aku betemu beliau. Eyang Uti, ibu dari Ibuku, adalah wanita tua buta huruf yang suka sekali menahanku kalau aku hendak pulang lepas mengunjunginya. Aku memang dekat dengannya. Aku suka mendengar ceritanya, walau kadang bosan dan kelu karena hanya itu-itu saja. Ceritanya tidak pernah berubah, selalu tentang silsilah keluarga, tentang keluarga di Bali, moyang dari Sampang Madura, tentang beberapa orang-orang tua bernama Raden Rangga Rini, Tumenggung Mandalika, Pangeran Katong, Raden Ayu Saraswati, entah siapa lagi. Aku tidak selalu memperhatikan memang, tapi aku ingat runtutan cerita Eyang Uti dengan hampir sempurna. Setiap kali beliau bercerita, aku seperti mendapat setumpuk buku dongeng tidur yang aku suka. Aku dan keluargaku memang pernah tinggal serumah dengan beliau selama sekitar empat tahun. Lalu kami pindah rumah, lalu kami jadi jarang bertemu, lalu kami kadang rindu. Dulu, masih ada Akung yang setia ditemani Eyang Uti. Sampai akhirnya tiga tahun yang lalu, Akung berpulang, Eyang Uti sendiri..
Pagi tadi aku membuka album poto lama yang aku temukan sembari menata kamar. Ada potret Eyang Uti yang kira-kira diambil dua puluh tiga tahun lalu, saat beliau menemani Akung menjadi wali nikah orang tuaku. Dimana lagi aku bisa menemukan potret Eyang Uti selain di album poto pernikahan orang tuaku. Potret diri beliau tidak jauh berbeda dengan beliau saat terakhir kali bertemu saat Lebaran bulan Agustus lalu, masih sangat terlihat begitu jawa, masih terlihat hitam, masih terlihat dengan kondenya, hanya lebih hidup, lebih tersenyum bahagia, lebih bernyawa.
Di playlistku malam ini hanya ada satu lagu. Lagu yang membuatku merasa sedikit lebih baik mungkin. Satu diantara banyak lagu Mariah Carey yang aku sukai dengan sangat.
/ I never knew I could hurt like this / and everyday life goes on like / "I wish I could talk to you for awhile" / miss you but I try not to cry / as time goes by / and it's true that you've reached a better place / still I'd give the world to see your face / and I'm right here next to you / but it's like you're gone too soon / now the hardest thing to do is say bye bye /
Seharusnya aku sudah ikhlas. Seharusnya aku sudah merasa cukup dengan mengatar Eyang Uti berpulang ke tempat peristirahatan terakhirnya, lebih dari sebulan yang lalu. Terlalu banyak cerita yang seharusnya aku bagi dengannya. Terlalu banyak rindu yang masih menyesaki dada. Andai saja masih bisa bertemu, aku rela mendengar lagi ceritanya, yang itu –itu saja. Iya, aku rela..
Kemarin kami mengirim doa untuk beliau, lewat yang kami kenal sebagai adat jawa, empat-puluh hari sejak tanggal berpulangnya. Semoga beliau tenang di alam sana, karena kami disini baik-baik saja. Karena aku disini baik-baik saja.
/ I never knew I could hurt like this / and everyday life goes on like / "I wish I could talk to you for awhile" / miss you but I try not to cry / as time goes by / and it's true that you've reached a better place / still I'd give the world to see your face / and I'm right here next to you / but it's like you're gone too soon / now the hardest thing to do is say bye bye /
Seharusnya aku sudah ikhlas. Seharusnya aku sudah merasa cukup dengan mengatar Eyang Uti berpulang ke tempat peristirahatan terakhirnya, lebih dari sebulan yang lalu. Terlalu banyak cerita yang seharusnya aku bagi dengannya. Terlalu banyak rindu yang masih menyesaki dada. Andai saja masih bisa bertemu, aku rela mendengar lagi ceritanya, yang itu –itu saja. Iya, aku rela..
Kemarin kami mengirim doa untuk beliau, lewat yang kami kenal sebagai adat jawa, empat-puluh hari sejak tanggal berpulangnya. Semoga beliau tenang di alam sana, karena kami disini baik-baik saja. Karena aku disini baik-baik saja.
Selamat malam Eyang. Salamat jalan..
Saturday, 7 July 2012
Dreams
"Kalo kamu punya impian, kamu harus punya wujudnya." -Eva, di sela diskusi kelompok analisis novel semester enam.
Kalimat itu yang selalu terngiang di telinga. At least, aku mendengarnya dari orang yang sudah meraih cita-citanya, mengunjungi Eropa dengan biaya sendiri. Dia ini teman kuliah, ibu muda dari balita blasteran yang tinggal di Belanda atau Jerman sana. Bagi kelompok kami yang sedang berdiskusi tentang Animal Farm karya George Orwell, dia ini Boxer yang pekerja keras. Hahaha
Sebelumnya, aku juga mengenal orang yang cukup memotivasi. Namanya mas Hanggara, lima tahun lebih tua dariku. Dia memang pintar, yah lelaki muda terpintar yang pernah aku kenal sepertinya. Saat aku masih di bangku SMA, dia sudah terdampar di Austria untuk melanjutkan studi S2nya, lewat jalur beasiswa. Envy? Banget.
Percaya tidak kalau masih ada orang pintar yang tidak sombong, begitulah yang aku tahu. Dia hobi memberi referensi link beasiswa ke luar negeri, sayangnya studiku belum juga kelar. Terakhir bulan kemarin, saat aku mengucapkan selamat atas pernikahannya, dia masih sama, masih semacam memotivasiku untuk segera menuntaskan studiku. Terharu? Iya, hahaha.
Nasib orang memang beda-beda. Ada yang sudah terlahir di keluarga mampu, jadi bisa bolak-balik keluar negeri seenaknya. Ada yang diberi kapasitas otak yang lebih tinggi dan keberuntungan besar, jadi bisa bolak-balik keluar negeri melanjutkan studi tanpa biaya. Ada yang pada akhirnya berjodoh dengan orang di negeri seberang jauh sana, jadi bisa bolak-balik keluar negeri dengan sebuah tujuan yang lebih nyata.
Beberapa hari yang lalu, aku mengobrol dengan tamu berkebangsaan Prancis di tempat kerja. Mereka adalah sebuah keluarga dengan bayi umur satu setengah tahun yang sedang berlibur di Indonesia. Bayi ini, sudah menghabiskan paling tidak satu bulan di indonesia. Mengunjungi kota-kota besar, mulai dari Medan, dan akan berakhir di Denpasar nantinya. See, how lucky he is!
Meluangkan waktu mengobrol dengan beberapa teman di beberapa belahan dunia juga sudah banyak membuka mata. Banyak yang belum aku tahu ternyata, bahkan tentang Belanda, negeri yang sangat ingin aku kunjungi jika aku berkesempatan ke Eropa. Hahaha. Lucunya, anak kuliahan sepertiku ini berani bermimpi sampai kesana. At least, I have a dream. Iya kan, kan, kan. :p
Aku tidak tahu kenapa Belanda, mungkin karena sejak kecil aku sudah sering mendengar bahasanya. Akung, pria tua indonesia pertama yang aku tahu bisa berbahasa Belanda dengan cukup fasih saat Ayahku mengajak para
tamu berkebangsaan Belandanya ke rumah kami dulu. Mungkin juga, karena lebih
banyak orang-orang yang aku kenal disana. I wish I have so many chances to meet
them again. Sekarang, yang aku lakukan hanyalah belajar bahasanya. Jaman
Belanda masih di Indonesia yang akses pendidikannya terbatas saja, Akung bisa,
kenapa sekarang aku enggak? Coba Akung masih disini, pasti aku akan banyak
mengunjunginya di masa tua. Menanyainya, mengajaknya mengingat kosa kata bahasa
Belanda hanya untuk sekedar bercerita, atau merajuk dan sedikit memaksanya
mempraktekkan ilmunya. Duh, tiba-tiba jadi kangen Akung. Lama sudah tidak
mengunjungi pusaranya.
Kalau ke Belanda, aku mau ke Keukenhoff.
Hahaha, mungkin setelah itu ke negeri di sebelahnya untuk mengunjungi kota
Brussel, atau Barcelona, atau lebih ke timur lagi ke Belgrade. Aku masih muda,
toh masih banyak yang harus aku kejar dan dapatkan sebelum akhirnya aku
memutuskan berumah tangga. Eh, kenapa jadi bahas berumah tangga ya?
Hehehe.
Ah, sudahlah. Mari bermimpi, mari mewujudkannya. Kalau ada orang yang bilang bahwa kita tidak perlu bermimpi terlalu tinggi karena kalau jatuh akan sakit nantinya, pasti dia pernah terjatuh dan hanya ingin memenuhi otakmu dengan bayangan kegagalan pada akhirnya. Kalau kita belum mencoba mewujudkannya, mana tahu hasilnya? Lebih baik pernah mencoba, dan gagal, dan mencoba lagi, dan berhasil kan. Jalan hidup kita yang pilih, tinggal urusan Tuhan mau memberikan kemudahan atau menunjukkan opsi yang lebih baik nantinya. Jangan lupa berdoa, jangan pernah sekali-kali meremehkan kekuatan doa. Bismillah..
Monday, 24 October 2011
The-best-things-yet
Frankly, I just found these words in my draft of my facebook notes. Funny, I don't remember I ever wrote these, and haven't posted it yet.
The best things yet is when I realize that more best things are coming. :)
When
the situation makes you becoming a grateful person, everything you face seems so nice and easy. Well, just be thankful of what we have and never expect too much from others. Give more and we will receive
more. Surely! :)
Subscribe to:
Posts (Atom)