Showing posts with label #30harimenulissuratcinta. Show all posts
Showing posts with label #30harimenulissuratcinta. Show all posts

Wednesday, 12 February 2014

Perkara Diam dan Menunggu

Sayang,

Aku baru saja memetik setangkai bunga rindu sebelum akhirnya aku memutuskan menulis sebuah surat sebagai bahan bacaanmu, barangkali nanti kau ada waktu. Kata orang, bunga rindu ini mirip sekali dengan mawar merah jambu. Sangat cantik, tetapi duri-durinya mampu melukaimu.

Akan aku beri tahu satu rahasia. Aku benci dengan jarak di antara kita. Bukan tentang sekian ratus kilometer yang memang seharusnya, melainkan jarak bernama diam yang sedang sengaja kita ciptakan. Entah ini cinta atau apa, yang jelas aku tak suka kalau kau tak lekas bicara, memecah hening yang memarnya sudah tak terkata.

Sudahkah kau tahu. Pun aku membenci aku—yang mungkin bagimu—terlalu sibuk dengan duniaku, dan kau—yang mungkin bagiku—tak mau memaksaku untuk meluangkan waktu. Atau barangkali sebaliknya, tergantung dilihat dari teropong mana. Sadarkah kau, kita sedang sama-sama terjebak dalam labirin yang kita bangun berdua. Aku tahu, doa yang aku kirimkan saja tidak akan cukup menenangkan pikiranmu jika kau salah mengartikan keangkuhanku. Kali ini aku akan mengalah, menyulut pijar yang seharusnya sudah kita lalukan bersama demi memberi pertanda. Temukan aku, dan kita akan meninggalkan labirin ini bersama, atau selamanya tersesat di dalamnya.

Seseorang pernah bilang, “Tak ada penantian yang sia-sia. Toh jika nantinya tak membuahkan apa-apa, paling tidak kau sudah punya ketabahan yang mengakar.” Setiap harinya kutanam pohon bernama ketabahan hingga barangkali nanti aku bisa berteduh di bawahnya saat matahari sedang terik-teriknya bersinar menyengat kulitku. Asal tidak ada orang yang sengaja menyiram minyak dan menyulut api bernama cemburu, kau tidak usah khawatir karena aku akan baik-baik saja berlindung di balik rimbunan pohon itu.

Barangkali, aku seperti perempuan gurun bernama Fatima yang sudah ditakdirkan menunggu. Aku seperti Fatima yang tidak sengaja ditemui seorang bocah yang dulunya hanya penggembala domba, yang pada suatu masa lebih memilih untuk meninggalkan domba-dombanya dan pergi mencari harta karun di dekat Piramida. Belum pernah mendengar ceritanya, bukan? Seharusnya kau membaca bukunya, seperti yang pernah aku katakan sebelumnya.

Akan aku beri tahu satu rahasia lagi. Aku pernah memilih untuk tidak pergi, menjauh sekitar hampir sepuluh ribu mil ke tempat dimana aku bisa menghirup udara baru karena aku juga memikirkanmu. Memikirkan kita. Seseorang mungkin mengutuk keputusanku, tetapi toh aku tidak perlu menjelaskan teoriku. Tiga tahun mungkin bukan waktu yang lama untuk menunggu, jika hanya kau tidak disiksa rindu dengan terlalu. Rindu juga seperti pohon perdu, yang mellilit leher, membuat sesak nafasmu. Jika dulu aku pergi, mungkin aku tidak seperti Fatima lagi. Alih-alih aku, kau akan merasa menempati posisiku, dan apakah kau mau menungguku selama itu? Karena percayalah, entah untuk egoku atau pelukmu, aku akan kembali. Seperti aku yang masih percaya tentang teori rasa, entah yang disambut atau yang disambit, bahwa kita akan mensyukuri tiap detik yang pernah ada. Aku tidak terlalu kekanakan dengan menganggapmu sudah dewasa, bukan?

Aku membayangkan rasa kopi yang kau minum pagi ini. Bisa jadi rasanya sangat pahit seperti rasa teh hitam tanpa gula yang kemarin malam aku minum terlalu larut, atau lebih seperti air tawar, hambar. Maaf karena aku belum pernah membuatkan secangkir kopi untukmu. Satu-satunya permintaan maaf yang seharusnya tidak aku tuliskan dalam bahan bacaanmu. Aku tidak mau berjanji akan membuatkanmu kopi suatu hari nanti. Kecuali, jika kau mau berjanji untuk menikmati teh hangat denganku sambil menertawakan hidup, suatu hari nanti.

Monday, 3 February 2014

Jangan

Jadi, anggap saja ini sebagai tanda protes tertulis karena akhir-akhir ini kamu terlalu sering datang. Aku memang tidak bisa menyalahkanmu atas keahlianmu menyelinap masuk melalui banyak kesempatan. Pun aku tidak bisa begitu saja membiarkanmu mengusik hidup yang sudah aku bangun sekarang.

Seseorang mengingatkanku agar berterima kasih padamu. Dia bilang, aku tidak mungkin bisa menghindarimu. Kamu serupa ilalang; ada dimana-mana, bahkan di pojokan gurun gersang. Barangkali dia benar, atau barangkali dia hanya ingin pembenaran. Seseorang juga pernah bilang, kamu memiliki dua kepribadian; baik dan buruk. Tetapi baik dan burukmu tidak bisa dipisahkan, bukan? Tidak akan ada hitam tanpa putih, atau tidak akan ada putih tanpa hitam. Semacam itu lah.

Aku juga pernah bilang, kamu boleh sesekali datang menengok keadaanku. Tetapi jangan terlalu sering. Aku tidak mau mengorbankan yang sudah aku miliki sekarang. Bisa saja beberapa orang di sekelilingku tidak menyukai kehadiranmu, bukan? Kata mereka, jika kamu datang, kadang aku menjadi muram. Kata mereka, jika kamu datang, aku seperti terserang penyakit kronis bernama lupa. Aku lupa dengan kenyataan.

Barangkali sebaiknya aku memang hanya berterima kasih kepadamu, tidak lebih, tidak kurang. Karena kamu, sekarang aku merasa menjdi orang yang lebih disayang Tuhan—tentu saja jika dibandingkan dengan aku yang dulu misalnya. Karena kamu, sekarang aku merasa mempunyai banyak harta, lebih-lebih yang tak kasat mata; kasih dan sayang yang datang tidak hanya tiba-tiba saja. Karena kamu, sekarang aku menjadi aku yang sekarang. Aku yang lebih berbahagia menerima aku yang seutuhnya.

Terimakasih kenangan.. Aku akan membiarkanmu tumbuh di ladang gersang yang memang sengaja aku sediakan. Jangan protes, itu lebih baik daripada aku dikaruniai penyakit lupa yang mereka sebut amnesia, bukan? Sedikit rahasia, ladang gersangku penuh unsur hara. Kamu hanya perlu lebih jeli menemukannya. Jadi sudah, diam disitu saja. Jangan pernah kamu usik teman baruku yang bernama harapan. Dia sedikit rapuh, masih butuh dikuatkan. Dia sedang tumbuh di padang rumput yang lebih pantas disebut oase tentu saja.

Barangkali nanti kalian akan menjadi teman, bisa jadi kan? Di suatu sore, sambil memandang senja di tepian laut, aku akan duduk diam ditemani kalian. Harapan akan membisikkan padaku skenario yang baru saja ditulisnya. Iya, dia suka sekali menulis peluang yang dinamainya impian. Dan kamu, diam saja disitu. Jangan berusaha membuat gaduh atau aku akan memukul kepalamu dengan ranting kecil yang tak sengaja aku temukan. Jangan bertengkar, aku tidak akan suka meneriaki kalian dengan umpatan-umpatan.

Nah, sekarang mengerti lah. Kali ini kamu jangan terlalu sering datang. Aku sedang sangat sibuk mengurusi harapan.

Sunday, 2 February 2014

Menanti Malam

Aku tidak pernah mengerti mengapa kau lebih suka datang kala malam. Aku tidak pernah tahu kemana kau pergi kala siang menjelang. Apakah siang terlalu terik bagimu, hingga kau harus terkurung di tempat persembunyian? Ataukah siang terlalu silau bagimu, hingga kau harus mengais lorong gelap sendirian?

Andai saja kau tahu, disini aku selalu setia menantimu siang dan malam. Meski kadang, aku bosan dengan siang tanpamu yang menjemukan. Meski kadang, aku lelah dengan penantian dirimu yang panjang.

Aku disini tidak punya teman. Bagiku, kau adalah ladang basah belum diolah yang akan ku paksa menampung biji-bijian dari kantongku yang keemasan. Ku namai mereka harapan. Bagiku, hanya kau yang akan mampu menyemai rerumputan di kala semua tertidur di kasur melipat-lipat khayalan.

Cepat datang, jangan bosan.

Aku, punguk yang merindukan bulan

Saturday, 1 February 2014

Jadi, Februari..

Februari,

Sebelum nanti saya lupa, perkenankan saya melontarkan pertanyaan tentang kejutan apa saja yang sudah anda persiapkan untuk saya, boleh? Maaf jika terkesan kurang ajar, akhir-akhir ini saya hanya belajar lebih frontal dan formal. Anda tidak terlalu terganggu dengan kata ‘saya’ dan ‘anda’, bukan? Karena ‘aku’ dan kamu’ terlalu polos kedengarannya.

Daripada berputar-putar, sebaiknya mungkin saya menanyakan kabar anda. Jadi bagaimana, masihkah baik-baik saja dengan menjadi sosok anda yang dipuja khalayak muda dan dinanti-nantikan banyak manusia? Akan banyak—sebut saja—cinta yang disebar-sebarkan pada 28 hari masa jabatan anda, bukan? Lebih-lebih pada masa pertengahannya.

Jadi para pembuat coklat akan kebanjiran pesanan, pabrik-pabrik gula akan menaikkan jumlah produksi mereka menjadi paling tidak tiga kali lipat, dan akan banyak keuntungan yang diraup mereka pada masa jabatan anda yang singkat ini. Oh, barangkali para dokter juga sudah bersiap-siap kalau saja akan ada beberapa pasien darurat yang seharusnya tidak makan coklat, melanggar pantangannya. Sayang sekali jika angka penderita diabetes harus bertambah ya. Pekerja dunia mode dan para pengagum serta pengikutnya pun, barangkali kena pengaruhnya.

Tidak, tidak. Saya tidak menyalahkan anda dengan keriuhan perayaan pada bulan Februari yang sudah menjadi budaya di hampir seluruh belahan dunia ini. Toh, saya juga kadang-kadang menikmatinya. Sebagai pengemar coklat, tentu saya tidak bisa melewatkan potongan harga atau paket coklat cinta yang didisplay di rak-rak supermarket langganan saya, yang khusus ada pada masa jabatan anda. Bukan untuk siapa-siapa, kecuali untuk saya.

Jadi Februari, barangkali seseorang harus berterima kasih pada anda atau mengutuk adanya anda. Saya tidak terlalu menyukai anda karena anda terlalu banyak menghujani manusia dengan yang mereka sebut-sebut cinta. Bukannya segala yang terlalu itu tidak pada tempatnya? Dan lagi, anda mengingatkan saya pada beberapa hal yang seharusnya sudah sirna. Seperti cake coklat yang pernah saya buat sedikit terlambat. Saya menyesal tidak mencatat resepnya.

Saya hanya berharap, anda tidak terlalu banyak membawa hujan, seperti yang sudah Januari lakukan. Saya juga berharap, anda bisa segera mempertemukan saya kepada yang sudah saya damba-dambakan, membawa kabar baik yang saya nantikan. Selebihnya, kalau saya masih boleh berharap, secepat atau selambat apapun anda berjalan, biarkan manusia-manusia yang hidup di masa jabatan anda merasa bahagia dan bersuka cita, sebelum mungkin nanti mereka merasakan duka--bertemu dengan September misalnya.

Saya sudahi saja ya suratnya.

Salam

-kali ini peluk jauh saja-

Monday, 11 February 2013

Parents


Dear Mommy and Daddy,

I'm not gonna make a touchy letter I guess. Well, you know that I have a syndrome called I-have-no-idea-to-show-how-much-I-love-you. 

Sometimes I hate you both for the things you've done, the things you've said, and the things you've shown to me. But the more I (try to) hate you, the more I realize that I do love you. It's just too complicated to be explained. Now I'm not going to blame you both for many things I should face, not anymore.

I'm sorry for every fault you both thought I've done. I'm sorry for screwed up many things. I'm sorry for my egoism, my careless, my arrogance, and everything..

Dear Mom, thank you for trusting me, forgiving me, and always be the best for me. You know, I just want to make you happy.
Dear Dad, thank you for giving me chances to do many things in my way though you're not always supporting me. You know, I just want to make you proud of me.

Promise me, you will always give me those never failing smiles even when I don't see. You both, I love you.

your (always little) girl

Saturday, 2 February 2013

Terbuang

Untuk si pemilik bibir lembab yang hangat,

Ah kamu, apa kabar sekarang? Sepertinya sudah mendapatkan aku yang baru. Jujur, aku cemburu. Iya memang, terserah kalau anggapanmu berlebihan.

Aku ingat saat kita masih sering bersama dulu. Aku yang selalu menemani pagimu yang berantakan. Kadang kamu bertanya padaku tentang minuman apa yang harus kamu buat. Aku hanya bisa terkekeh dengan pertanyaan bodohmu yang itu-itu. Tentukan saja sesuai moodmu, batinku. Iya, toh kamu selalu bertindak sesuai moodmu, jadi untuk apa bertanya padaku?

Suatu pagi, kamu akan minum susu milo hangat tanpa ekstra gula. Katamu, kamu tidak mau terserang diabetes di usia 30an. Di pagi yang lain, kamu akan minum kopi hazelnut kesukaanmu, dan menyalahkanku karena rasanya yang palsu. Aku perhatikan, akhir-akhir ini kamu mulai sering meminum green tea latte yang sudah menjadi favoritmu yang baru. Untuk hal yang kamu suka saja, kamu tidak pernah konsisten ya? Lalu bagaimana perasaanmu terhadapku?

Aku juga ingat, aku yang dulu selalu menemani malam-malammu yang panjang dan membosankan. Kalau kamu sehabis membeli banyak cemilan, kamu akan mengajakku menikmati kopi dicampur banyak sekali susu bubuk vanila. Kamu bilang, itu resep rahasia. agar rasa kopinya tidak terlalu pahit disesap seperti kenangan yang enggan dilupakan.

Dulu aku tidak mengerti maksud perkataanmu. Tapi sejak kamu meninggalkanku, aku jadi tahu. Pantas saja, matamu dulu sering berkaca-kaca kalau sehabis menata kotak-kotak di kamar kesayanganmu, meski ada aku. Ada apa sih di kotak itu? Apa itu kotak kenanganmu? syang sekali kamu tidak pernah menunjukkannya padaku.

Aku sekarang terbuang, dan merasa dicampakkan. Pernah tidak, sekali saja kamu memikirkanku? Ini tidak adil. Habis manis, sepah dibuang. Begitu kah kamu memperlakukan kekasih-kekasihmu yang dulu? Kalau iya, tunggu saja yang namanya karma. Kamu tidak percaya kalau karma itu ada, tapi aku percaya.

Aku rindu bibirmu yang lembab dan hangat. Aku rindu saat bibir-bibir kita bertemu kala kamu sedang menikmati minumanmu. Aku tidak keberatan menampung milo hangat yang selalu kamu tegak dengan semangat, ataupun green tea latte yang selalu lama sekali kamu habiskan tanpa sebab. Bahkan, aku tidak akan keberatan jika menemanimu minum kopi pagi buta yang pahit kalau kamu sedang kehabisan susu bubuk vanilla, meski aku sangat tidak menyukainya. Biar saja aku mengecap pahit kopi panas berlama-lama, asal bisa merasakan bibirmu yang manis sebentar saja. Aku hanya ingin bersamamu lagi. Bibirku juga ingin dikecup lagi.

dariku, cangkir kesayangan yang tidak sengaja kamu pecahkan

Thursday, 31 January 2013

Hey Kalian!


Untuk kalian, hadiah dari Tuhan yang tak akan tergantikan @nchaga, @namonz, @bigbrobo,

Aku sedikit canggung menulis surat (cinta) ini dalam bahasa Indonesia (kepada kalian). Ingatkah kalian tentang surat permintaan maaf atas pengabaianku berbulan-bulan kala hatiku sedang patah-patahnya, bertahun yang lalu? Aku menulis panjang (sekali) dalam bahasa Inggris, berharap agar kalian tidak terlalu menganggapku menulis sok manis. Hahaha, maaf teman-teman, aku sudah mencoba menulis ini dalam bahasa sehari-hari kita yang lebih berisik dari biasanya, tapi (sepertinya) gagal :p

Abaikan saja cara menulisku yang sok puitis ini ya. Cukup baca saja. Hahaha.

Begini, selama ini aku selalu berusaha menjadi teman yang baik untuk kalian. Sebagai penebusan dosa atas ketidakpedulianku dulu saat aku sedang egois-egoisnya meratapi kemalanganku sendirian. Tidak hanya itu, tapi berteman dengan kalian sangatlah menyenangkan. Terimakasih karena selama ini sudah bertahan dengan aku yang skeptisan dan kata orang pendiam. Hanya kalian yang tahu kalau aku tidak seperti kata orang kebanyakan.

Halo Icha, kita sudah berteman lebih dari sepuluh tahun lho! Bukan waktu yang sebentar ya ternyata. Dulu kita saling berkenalan semasa masih berseragam putih biru. Kamu sudah tahu kalau aku hobi telatan dari dulu. Kamu sudah kenal kebiasaan anehku yang ini itu dari dulu. Bagaimana perasaanmu? Hihihi. Terimakasih ya, aku ingat sekali, aku pertama menangis di depan temanku kala itu; di depan kamu. Merasa bodoh rasanya, sekaligus merasa menjadi seutuhnya manusia setidaknya. Waktu menulis ini, kok mataku rasanya kelilipan debu ya.

Terimakasih sudah menjadi satu di antara beberapa orang yang masih saling menyemangati. Kamu teman yang baik, sahabat yang baik. Mau mendengarkan dan didengarkan. Hey! Setelah Bali dan Singapura, mungkin kita masih punya banyak tempat untuk dijelajahi bersama. Atau kalau pun tidak dijelajahi bersama, kita masih bisa saling mengingatkan tentang mimpi kita yang sama, keliling dunia. :D

Halo Nana! Maaf ya kalau aku yang unyu ini suka sok sibuk sendiri. Terimakasih karena kamu sering sekali mengingatkanku untuk makan. Ih pacarku (dulu) saja jarang. Hihihi. Aku tahu kalau kamu selalu prihatin dengan bentuk tubuhku yang dikutuk langsing ini. Aku baik-baik saja kok. Sekarang malah berat badanku terus bertambah tiap bulan. Entahlah.

Aku senang karena kamu selalu memaklumi kesibukanku yang kadang keterlaluan, dan masih mau benar-benar mencuri waktu di antaranya meski hanya untuk makan siang. Terimakasih sudah membagi cerita-ceritamu denganku. Jangan bosan bercerita ya. Dan jangan bosan aku ajak menyantap menu yang itu-itu saja. Oiya satu lagi, jangan pernah bilang tidak sebelum kamu mencoba. :D

Halo Runi, agaknya baru tadi kita bertemu yah. Hihihi, kita paling jarang bertemu sepertinya. Mungkin setelah menyelesaikan tugas akhirku aku akan lebih banyak membagi waktu untukmu juga. Akan merusuhmu agaknya. Aku senang, paling tidak kalau aku ingin mengobrol sastra dengan sahabatku, aku punya kamu. Aku sendiri tidak menyangka akan berkuliah di jurusan yang sama denganmu, padahal tiga tahunku di SMA sudah ku habiskan demi memikirkan fisika, kimia, dan matematika. Kita pernah menyesal pada pilihan ini bersama, tapi sekarang untuk apa. Sudah kita jalani, sudah seharusnya kita cintai. Ayo semangat! Setidaknya kita masih bisa berkuliah di jurusan yang sepertinya kita suka lagi nantinya. Yah, siapa tahu. :D

Masih ingat pesan yang kamu kirim dulu, tentang pemikiran tiba-tibamu yang ingin tinggal di luar negeri yang itu? Iya, mari kita berusaha meraih apapun impian kita. Kamu juga suka menulis, teruskan lah apa yang sudah kamu mulai dulu. Aku tidak keberatan membaca dan mengomentari skrip awal novelmu lagi. Mungkin nanti, entah kapan, akan aku tunjukkan juga milikku.

Hei kalian.. kalau kalian butuh didengarkan, jangan lupa ada telingaku yang selalu mau menampung segala keluhan. Kalau kalian butuh saran, jangan lupa ada suaraku yang selalu mau mengatakan kalimat-kalimat yang kaliah butuhkan. Kalau kalian sedang kesusahan, jangan lupa ada aku dan berbagilah. Aku tidak mau menjadi sahabat yang hanya dekat saat senang sedang melekat. Aku mau selalu ada di sisi kalian juga saat sedang dibutuhkan. Kalau kalian butuh pelukan, jangan lupa ada aku yang tipis ini yang selalu rela menjadi seolah semakin tipis demi memeluk kalian. *meski dalam kenyataannya kita jarang berpelukan kan* :) 

Kalau kalian butuh aku, tinggal bilang. Kalau sewaktu kalian memintanya dan aku sedang tidak bisa, tolong maklumi lah. Pasti akan aku ganti lain waktu dengan durasi hitungan dua kali. Satu lagi, kalau sekiranya nanti aku salah melangkah, tolong diingatkan, tolong ditampar biar sadar. Ayo, semangat yah demi apapun yang sedang menunggu kita di depan. Hmm, termasuk toga barangkali. :D

Aku bahagia memiliki kalian. Terimakasih telah menjadi sahabat yang baik bagiku. Terimakasih telah menjadi hadiah dari Tuhan yang tak tergantikan. Pokoknya aku sayang kalian. Aduh jadi malu ih waktu baca tulisan sendiri. Sudah ah, aku mau kabur.

Salam peluuuuk,

@tiaratirr


Wednesday, 30 January 2013

Fisika Dan Sastra


Kepada Si Fisika,

Atas nama fisika, kau mengatakan kau bahagia saat medan magnetmu dan aku bertemu di suatu titik berjarak nol berskala apa saja. Atas nama fisika, kau memaksaku menghitung massa hati yang berdebar saat tangan kita bertautan. Atas nama fisika, kau membuatku percaya bahwa E bukan hanya sama dengan mc2, melainkan juga kau dan aku yang tanpa sekat.

Kau sudah banyak mengatasnamakan fisika demi cinta kita. Cinta kita? Mungkin kini bisa ku ralat dengan kata cintamu yang buta.

Kau sudah dibutakan dengan hitungan matematika dalam fisikamu yang gila. Seharusnya kau tahu kalau cintaku dulu bernama tak terhingga, sama seperti angka nol dibagi bilangan apapun yang kau kagumi dengan sangat. Iya, rumus dasar matematika yang selalu mengawali setiap kecintaanmu pada fisika. Kau pernah berkata bahwa cintamu akan bertahan lama, selama jarak bumi dan matahari dengan ukuran kecepatan cahaya yang tak terhitung bilangannya. Aku pun pernah percaya, selayaknya aku mengawasi stellarium menanti rasi bintang kejora menampakkan batang hidungnya.

Aku pernah meredakan egoku untuk sedikit memahami semua rumus fisikamu yang membingungkan. Logikamu mengajariku berpikir bahwa cinta adalah saat ketinggian hatiku selalu jatuh di hadapan gravitasi pesonamu. Dan memang benar, tidak dapat ku sangkal walau awalnya terasa tak masuk akal.

Atas nama sastra, aku berkata bahwa aku bahagia saat kau dan aku mempuisikan perasaan tanpa sela. Atas nama sastra, aku memaksamu memaknai peribahasa yang tiba-tiba terkata kala cinta sedang ranum-ranumnya. Atas nama sastra, aku membuatmu percaya bahwa kita akan selalu bersama meski perbedaan selalu melekat tak hanya saat saling bergenggaman dan dekat.

Aku juga sudah banyak mengatasnamakan sastra demi cinta kita. Baiklah, aku ralat juga; cinta aku yang gila.

Aku selalu gila dengan perasaan mabuk kepayang bagaikan sehabis menelan buku-buku Kahlil Gibran. Seharusnya aku percaya perkataanmu tentang kegilaanku pada sastra lah yang nanti akan menyulitkanku pada akhirnya. Aku pernah berdusta bahwa aku akan selalu mencintaimu tanpa syarat, seperti saat aku sedang menyelam dalam tumpukan buku dan tak kembali bertahun-tahun lamanya, meski sebelumnya telah ku baca semua akibat. Aku pun selalu ingin membuatmu percaya, bahwa dustaku ini akan menjadi nyata hingga habis masanya.

Kau pun pernah memaklumi tingkahku dan melupakan hitunganmu demi belajar kata-kata mutiara bersamaku. Apakah menyenangkan pernah saling melempar celotehan yang sebelumnya bahkan terasa asing bagimu? Katakan, paksaku kala itu.

Atas nama cinta, kita membiarkan fisika dan sastra berbagi cerita. Atas nama cinta, kita mengecewakan mereka dengan hitungan dan perkataan yang seharusnya tak pernah ada. Atas nama cinta, kita mengusik hitungan yang sengaja dipermasalahkan dan bahasan yang awalnya tabu diperbincangkan. Ternyata kita tidak lebih dari sepasang kekasih yang menangis bersama demi mempertahankan kecintaan dan kebutaan kita masing-masing pada fisika dan sastra.

Aku tidak mengapa sudah menjadi yang lalu bagimu. Seperti kau yang tak pernah mengapa pernah melukai hatiku dengan hitunganmu. Setahuku, dari dulu cinta tidak hanya satu, tapi selalu dua, bukan tiga. Cinta tidak untuk diri sendiri, pun tak pantas terbagi. Kalau pun aku harus mencintai fisika yang tidak mencintai sastra sepertiku, pasti bukan dirimu. Kau pecinta fisika yang gagal memahami hitungan matematika dasar kelas satu. Ternyata fisika dan sastra tidak sama dengan kita. Terimakasih sudah mengajari sastra menilai massa benda. Setidaknya, aku pernah mencintaimu. Pernah.

Si Sastra

Tuesday, 29 January 2013

Hey T, I Miss You!


Kata orang, aku gila karena punya cita-cita keliling dunia. Kata orang, aku bisa buta karena punya keinginan terlalu banyak melihat ke luar sana. Kata orang, aku naif saat aku mulai banyak menulis di atas kertas tentang impianku disana. Tidak kah mereka tahu kalau itu doa? Silakan saja menertawai doa-doaku yang aku lagukan sepanjang hidupku, aku tidak peduli. Silakan saja mencemoohku untuk semua harapan yang terlalu omong kosong kalau menurutmu, aku tidak peduli.

Aku juga ingin keliling Indonesia, tapi aku lebih ingin keliling dunia. Dunia terlihat sangat besar memang, tapi tidak pernah sebesar Bima Sakti, tidak pernah sebesar ribuan galaksi-galaksi. Jadi untuk apa menunggu lagi? Sudah banyak orang yang membuatku iri (sekaligus bersemangat) karena kesempatan mereka yang lebih dulu bepergian kesini-sana. Mereka terlihat bahagia.

Hey T, aku dulu tidak suka padamu. Aku sendiri heran mengapa hampir setiap teman dekatku ingin menginjakkan kaki di tanahmu. Di masa kuliahnya, seorang temanku bahkan mempelajari bahasamu. Aku dulu tidak suka lagu yang diputar adikku dalam bahasamu. Selalu berisik kalau menurutku. Aku dulu tidak suka makananmu, bagiku makanan Italia lebih akan memanjakan lidahku. Setidaknya, pasti lebih asin daripada banyak makananmu yang plain. Aku dulu tidak suka hampir semua tentangmu.

Desember tahun lalu, aku berkesempatan mengunjungimu. Di antara kompetisi yang aku ikuti, entah kenapa Tuhan malah memenangkanmu untukku. Mungkin Tuhan tidak suka caraku tidak menyukaimu, jadi ditamparnya aku. Aku memang harus berjuang lagi di tanahmu, menjadi yang tebaik diantara yang terbaik. Kalimat yang hampir membuatku frustasi tapi entah mengapa aku bisa juga menikmati segala sensasi. Aku dulu berjuang dengan banyak manusia-manusia baru yang terlihat jauh lebih ambisius dariku. Kali ini benar kata orang, jarak antara kamu dan mimpimu hanyalah orang-orang yang lebih ambisius itu. Jadi apapun yang kalian hadapi, berusahalah tanpa lelah, saranku.

Di tanahmu, aku mengenal banyak orang baru. Mereka menjadi teman berdiskusiku, teman bermainku, dan teman bersenang-senangku, pun pesaing untukku kala itu. Ah kamu, kamu sudah mengajariku cara beradaptasi yang baru. Terimakasih.

Di tanahmu, aku melihat dunia yang baru. Masa depan yang dirancang orang-orangmu yang sangat ambisius itu, pun beberapa hal yang ku anggap mainstream yang tak bisa ku temui di sekitarku. Setidaknya, kamu sudah mengajariku terus berpikir tanpa jemu. Terimakasih.

Di tanahmu, aku pernah melihat seorang tuna netra berjalan sendirian di stasiun kereta yang menurutku paling sibuk kala malam. Aku rasa dia tidak terlalu mengeluh dengan begitu bisingnya langkah kaki ratusan manusia yang didengarnya seharian. Hebatnya, dia bisa bertahan di tanahmu yang kata orang kejam. Iya, itu menjadi pelajaran yang ku simpan. Ini juga terimakasih.

Aku sadar, aku menikmati setiap momen yang aku habiskan di tanahmu; berbincang dengan orang-orang baru tentang budaya dari negeri-negeri mereka, berdiskusi tentang sesuatu yang sebelumnya tidak ku pahami sepenuhnya, menghirup udara musim dinginmu jika berada di luar sana, menikmati design kotamu yang rapi dengan futuristik dan budayanya, melihat orang sibuk berjalan lalu-lalang mengejar kereta malam, mencium aroma harum yang kau sajikan di kedai-kedai makananmu yang dulu tidak pernah ku sangka. Aku beruntung pernah dipertemukan Tuhan denganmu. Mungkin aku harus lebih banyak mendengar kata orang sekarang. Tidak tentang impianku yang mereka tentang, tapi tentang kamu dan kamu-kamu lain yang tadinya tidak mau ku dengar dan ku perhitungkan karena kemalasanku mempelajari hal yang terlihat membosankan. Aku janji untuk tidak mengulangi. Pasti.

Di tanahmu, aku menanam impian baru. Mungkin Holland masih menjadi favoritku, tapi kamu... sejauh ini kamu lah yang paling berkesan yang sudah lancang menampar tidak hanya pipiku, tapi pemikiranku. Terimakasih Tokyo. Sepertinya aku sudah meninggalkan sebagian hatiku di tanahmu. Entah lebih karenamu, atau karena orangmu itu. Ah Tokyo, I miss you.. Kalau aku ternyata tidak bisa datang lagi di akhir bulan depan, tetaplah menungguku. Aku akan sangat senang untuk kembali lagi menikmati setiap sajian yang akan kau hidangkan untukku. Semoga Tuhan tetap mengijinkan.

Tiara

Monday, 28 January 2013

Kepada Gibran


Kepada Gibran,

Sudah sejak lama aku ingin menulis surat kepadamu. Kau tahu, aku tidak pernah tidak menyukai puisimu. Puisimu yang ku baca pertama sudah bertahun yang lalu, meski hanya dalam bahasaku. Dan seperti itu pula lah aku menuliskan ini untukmu.

Selain namamu, aku simpan juga nama penyair yang selalu ku puja dari dulu karena kebisaannya menuliskan puisi sederhana dan menyelipkan kata cinta yang terlalu bermakna kalau menurutku. Iya, mungkin aku sok tahu, tapi kali ini percayalah, aku benar-benar jatuh cinta dengan kalimat “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana” miliknya. Apa kau mengenalnya, Gibran? Atau kah, dalam tidur panjangmu yang tak tentu kapan habis masanya itu, kau pernah bermimpi didatangi olehnya? Barangkali kalian berbincang tentang hujan, roman, malam, cinta, dan harapan. Di hari-harinya menulis puisi itu, dia mungkin saja juga memujamu Gibran. Sama sepertiku.

Aku sudah membaca surat-suratmu, yang kau kirimkan kepada Ayahmu dan saudara perempuanmu, Miriana. Pun surat-suratmu kepada sahabatmu Amin Guraib dan banyak pula yang lainnya. Tidak semua mampu ku selami dengan ilmuku yang masih sedangkal kolam ikan milikmu memang. Tidak pula bisa ku bayangkan dengan jelas keadaanmu kala itu saat tinta-tintamu berpijak pada lembaran kertas usang yang hendak kau kirimkan pada mereka. Yang aku tahu hanya aku selalu mengulang untuk membacanya, seolah aku tidak pernah lelah belajar menyelam saat aku bahkan tak tahu seperti apa itu berenang. Aku menyukai setiap suratmu kepada May Zaidah yang juga penulis dari negaramu itu. Seperti apa mencintai wanita pemuja sastra tanpa pernah bertemu? Ah, pasti May Zaidah selalu berdebar juga saat menerima surat dengan amplop bertuliskan namamu kala itu. Sudah kah kalian sekarang akhirnya bertemu, Gibran?

Dalam puisimu, kau tuliskan dengan jelas “Apabila cinta memanggilmu, ikutilah dia. Walau jalannya terjal berliku-liku”. Kau perlu tahu Gibran, aku sudah mengikuti saranmu. Dan memang, walau aku tidak juga tahu apa yang akan aku dapatkan, entah bahagia, entah luka, aku tetap mengikuti saranmu. Aku pernah jatuh cinta. Sekali, dua, kali, tiga kali, dan berkali-kali tanpa ada habisnya. Aku sudah pasrah pada kejatuhanku pada yang mereka sebut dengan cinta. Aku sudah menyerah untuk tidak menentang hati pada segala yang mereka sebut asa. Bukan kah sudah kau tegaskan kalau aku harus berlaku demikian? “Walau ucapannya membuyarkan mimpimu” katamu tanpa ragu.

Aku pernah bahagia karena cinta. Sekali, dua kali, tiga kali dan berkali-kali. Pun aku pernah menangis karenanya. Hingga sekarang air mata sudah tidak berarti lagi jika dibanding sesak nafas dan lagu sumbang penyesalan yang hampir selalu berdendang karena kekecewaan. Aku tidak membenci mereka, seperti aku tidak membenci cinta. Aku juga tidak membencimu karena telah membuatku percaya pada cinta.

Aku masih percaya semua, dari bait pertama hingga terakhir puisi yang kau tulis sewaktu mungkin kau sedang gila-gilanya dikendalikan cinta. Kau benar, dan aku tetap tak bisa mengelaknya.

Dan juga jangan mengira,
Bahwa kau dapat menentukan arah jalannya cinta.
Karena cinta, apabila telah memilihmu.
Dia akan menentukan perjalanan hidupmu..

Baiklah, anggap saja ini surat cinta. Pun surat protes untuk segala kata yang tidak mampu ku protes dari dirimu. Sekali lagi kau benar, dan aku disini akan terus tersadar.

dariku yang masih saja mempercayai cinta

Sunday, 27 January 2013

Kesayangan


Untuk segala yang pantas dilabeli dengan kesayangan,

Pertama, terimakasih karena sudah berada di sisiku tanpa mengeluh jemu. Aku baru sadar kalau aku menyayangi kalian, tanpa kalian apalah artinya hidup. Oke, bagian itu sengaja aku dramatisir memang. Bukan untuk membuat kalian senang, hanya sekedar untuk membuatnya terdengar lebih sempurna. Oh, tak apa jika akan banyak orang menganggapku ini pendusta kata, asal kalian tidak pernah percaya.

Surat ini untuk kamu yang selalu menemani hari-hariku, menuntun setiap langkahku, menjadi mata kedua bagiku. Tanpamu aku akan banyak menemui kesulitan yang menyudutkan. Bukankah Tuhan sudah cukup adil dengan memberi pengetahuan pada entah siapa yang pertama menciptakan nenek moyangmu? Hingga akhirnya, saat aku putus asa dengan terlalu banyak detail yang terlewat, kamu juga yang membantuku memperjelasnya, kamu juga yang membuatku tidak mengutuk indraku terlalu lama. Terimakasih untuk kesediaanmu menyempurnakan hariku sebelum waktu tidurku. Aku sudah tidak lagi mau menggantimu dengan mereka yang terlihat jauh lebih indah dibanding dirimu. Ah, mereka hanya menipu. Tentu aku akan lebih setia padamu, sama halnya dengan kamu yang dulu selalu setia menunggu kesadaranku akan betapa pentingnya kamu di hidupku.

Surat ini untuk kamu yang selalu mengantarku kemana pun tujuanku, selarut apa pun aku memintakannya padamu, dan bahkan tak pernah bosan menungguiku berjam-jam di parkiran tanpa protes panjang. Aku tak akan banyak kemana-mana tanpamu. Ibu sering marah jika aku terlalu sering bepergian denganmu, lebih-lebih jika sudah lewat jam pulang yang beliau tentukan. Tapi bukankah kamu sendiri tahu, bagiku, jam malam sama dengan jam Ibu ditambah satu atau kadang dua jam berlalu. Terimakasih Mimo, kamu sudah menjadi bagian hidupku sejak bertahun-tahun yang lalu. Meski kadang kamu merajuk dan terpaksa membuatku kepayahan merayumu, tidak apalah. Aku tetap sayang padamu. Kamu yang paling baik yang pernah aku kenal. Terimakasih untuk kenangan jatuh bangun bersama dan 100 km/jam saat aku sedang ingin menjadi pengendara yang sedikit gila. Itu sudah lama, semoga saja aku tidak tergoda lagi melakukannya. Tolong ingatkan aku ya, terserah bagaimana pun caramu.

Surat ini untuk kamu yang akhir-akhir ini selalu setia menemani malam-malamku demi mengejar kelulusanku. Kata temanku, untuk apa juga kelulusan dikejar? Ah, tapi kamu sendiri tahu, aku sudah cukup frustasi dengan banyak tuntutan, terutama dari diriku sendiri yang tidak lelah menggerutu dan meruntuk kemanjaanku yang lebih dipanggilnya dengan kemalasanku. Kamu tahu, aku iri dengan teman-temanku yang sudah mendapat gelar kesarjanaan mereka. Mungkin sama juga dengan irinya mereka dengan apa yang masih bisa aku raih menggunakan gelar kemahasiswaanku. Entahlah, yang jelas aku minta kamu untuk terus menyemangatiku. Jangan sekali-kali membuatku malas menatap layar virtual yang nantinya akan menjadi lembar yang seharusnya sudah direvisi berkali-kali oleh dosen pembimbingku. Terimakasih untuk menjadi yang baik bagiku, Sam. Sampai detik ini pun, kamu masih saja menemaniku, bernyanyi “Strawberry Swing” untukku.

Surat ini untuk kamu yang selalu menatapku tanpa kelu. Atau kah barangkali kamu sudah kelu tapi tidak pernah mau mengaku? Ah tapi bagiku sama saja, asal kamu ikut tersenyum saat aku tersenyum pun sudah cukup. Karena kamu tidak perlu tertawa saat aku hanya tersenyum, akan terlihat mengerikan tahu! Terimakasih ya, sudah mau aku ajak kemana pun aku membawamu. Aku memang selalu insecure tanpa kamu. Terlepas dari kebisaanmu menunjukkan siapa diriku, aku sangat menghargai waktumu yang sedikit-sedikit ku curi demi diriku. Iya, kamu tahu seberapa egoisnya aku. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu karena mungkin seberapa pun aku dan kamu mengelaknya, sebagian dirimu adalah aku.

Sekali lagi, aku senang mempunyai kalian. Entah seberapa sepelenya kalian dimata mereka yang bukan aku. Dan tanpa bosan, terimakasih untuk kesediaan kalian bertahan bersamaku; kacamata hitam minus dua seperempat pemberian Ayah yang tak tergantikan, skuter matic hitam yang hampir setiap hari ku ajak jalan, laptop silver yang sepertinya sudah butuh diinstal ulang, pun cermin biskuit kesayangan yang sudah tua tapi tetap ku timang. Hahaha, aku sudah terlihat sedikit gila mungkin karena menulis surat untuk kalian. Tapi kalian tetap tidak keberatan kan?

Dari pemilikmu yang sering lupa melabeli kalian kesayangan. Mohon dimaafkan.

Saturday, 26 January 2013

Imel


Dear Imel wherever you are,

Do you remember me? We have ever met, years ago. When you don’t even know how to say “mama”, “papa”, “brother”, “sister” or even “banana”. I remember you, because your photo always on my room, over there, beside the Japanese girl I paint years ago after I met you, I guess. I don’t know why I put your photo there, but I just don’t want to move it. I don’t always remember you, I’m sorry. But I really can’t forget you. How can I forget you?

Sometimes I wish you were here, just like your older sister and brother. I know it’s stupid thing to wish, but everytime I remember you, I can’t wish another thing to wish. Do you know how much I miss you? I know, I can’t come to you with thousand tears just to say such thing like I do miss you and I do love you. I am not  even sure that you’ll understand my words. Will you believe me? Oh God, I hope God let you to read and understand my letter, someday. Yes someday, perhaps when the tear is not so painful as it should be.

Mom said that you just like me, your face. Then I was laughing at the truth that I never realize it. I don’t even know why I’m Dika and you’re Imel. It would be nice if only I could speak to you everyday, and perhaps shout to something bad you do during the day. Mom always does it to me, not to make me feel I’m so guilty, but to make me realize that some things have to be done properly. I never hate her. I wish you never hate her too.

I’m dreaming to the day we finally meet again. But before that, I need to take care many things here, just to show the world that I’m ready enough to leave it someday, just to show that I’m strong enough to face whatever the world gives me day by day, just to show those people that I’m good enough to be a big sister not just for a day. Do you feel those words are bittersweet and sweet at the same time? Because in the end of this letter, I feel nothing. I can’t believe that now I feel empty. Perhaps I really miss you like a bird misses its wings. God bless you, sister.

from a 22 years old girl who always prays for you everytime she remembers you

Thursday, 24 January 2013

Balada Lantai Dansa


Untuk yang aku rindukan dengan terlalu,

Kamu. Baiklah, sebut saja ini juga surat rindu. Sudah berapa lama ya kita tidak saling melepas rasa ingin bertemu? Apa kamu juga merindukanku? Seingatku, terakhir aku mengunjungimu sewaktu teman dekatku merengek minta bertemu juga denganmu. Itu sudah lebih dari sebulan yang lalu. Ah kamu, bisa saja membuat banyak orang buta dan terjebak rasa ngilu ingin bertemu.

Sudah sejak lama sekali aku ingin mengenalmu. Sejak dulu, sejak aku ingat kalau dulu aku pernah mengenalmu dalam wujud yang masih lalu. Entah apa rencana Tuhan, akhirnya sekitar setahun lebih beberapa bulan yang lalu aku memberanikan diri untuk benar-benar memujamu. Aku ingat, itu bulan Oktober. Pertemuanku denganmu sudah membawaku ke pertemuan dengan pria itu. Aku jadi tiba-tiba jatuh cinta padamu, selalu ingin mengunjungimu agar aku bisa juga terus bertemu dengan pria yang akhirnya sempat menjadi milikku itu.

Iya, itu bukan kemauanku, tapi mungkin kemauan hatiku. Ah, maaf. Karena dia pula aku jadi sedikit melupakanmu. Kerena kebutaanku pula aku jadi lambat-laun meninggalkanmu. Tapi Tuhan cukup adil kan? Selama aku pergi, kamu pasti sudah bertemu banyak manusia baru yang akhirnya juga memujamu. Kamu memang punya sejuta pesona yang tak akan termakan waktu.

Sebenarnya, aku masih mencintaimu. Aku masih bisa memujamu tanpa kelu. Tapi kamu tahu, aku setengah menyerah karena sesuatu. Aku terlalu takut, jika bertemu lagi denganmu, aku akan terus mengingat kenangan yang seharusnya segera aku lupakan. Iya, aku bahkan sedang belajar untuk membencimu karena sesuatu yang semu, yang sama sekali bukan salahmu.

Aku sudah berpisah dengan pria itu. Kenapa katamu? Tentu saja karena aku tidak lagi mampu berbagi (ke)kasih. Lebih baik aku sendiri, dan mungkin saja bisa kembali padamu, pikirku. Iya, pemikiran itu sempat melintas di kepalaku. Masih maukah kamu menerimaku? Pasti masih. Sayangnya, aku juga masih terlalu egois untuk sekedar tidak memikirkan pria itu jika menemuimu. Dan sekarang aku meninggalkanmu, sama seperti hatiku yang meninggalkan pria itu sendiri melawan waktu. Toh bukan salahku, mungkin salah hatinya, jarak dan waktu. Tapi apa peduliku?

Sungguh, aku rindu padamu. Aku rindu harus kepayahan menyesuaikan gerakan dengan irama lagu-lagu salsa juga bachata yang tak pernah sukses aku taklukkan dalam hitungan minggu. Aku rindu dibuai lagu-lagu latin yang selalu ingin ku dengar tanpa jemu. Aku rindu menari di tempatmu, lantai dansa yang sudah lama tak ku kunjungi karena egoisnya aku.

Andai saja aku sudah bisa berdamai dengan waktu dan hatiku, aku akan segera mengunjungimu. Tak  peduli jika pria itu masih juga menunggu kesempatan menemuiku di tempatmu, persis seperti yang diucapkannya padaku saat terakhir bertemu. Entah, belum juga ku putuskan, tapi aku pasti akan mengunjungimu. Mungkin hanya untuk melepas rindu denganmu, dengan salsa, bachata atau chachacha yang mungkin juga merindukanku.


Wednesday, 23 January 2013

Jarak Memang Jahat

Untuk yang terbatas jarak,

Iya, jarak. Bukan, ini bukan lagi tentang jarak sekian ratus kilometer antara aku dan lelakiku yang dulu itu. Ini tentang jarak tak kasat mata antara aku dan kamu, antara aku dan mereka. Dunia memang sudah berubah, atau kah kita saja yang terlalu lama terdiam tanpa jengah, hah?

Hai kamu, ah.. lebih tepatnya kalian. Kalian tahu, aku rindu. Aku rindu tawa keras kita setelah melakukan banyak hal bodoh bersama, mulai dari mematikan laju eskalator yang sedang berjalan atau menyeberang tanpa melihat laju kendaraan. Makian, dan teguran para orang orang bermuka merah marah yang akan menghentikan. Kita pernah menjadi pengacau yang gila, pemimpi yang bodoh, teman berdiskusi tentang segala asa.

Jika jarak hanya sebatas kilometer yang terbentang, pasti tidak akan sesulit ini untuk sekedar melepas rindu. Tapi jarak antara aku dan kamu, aku dan kalian, sudah lebih dari itu.

Satu, jarak yang bernama gengsi. Halo kamu, yang sudah lama tidak bercakap denganku karena gengsi mengakui kesalahanmu. Apa kabar? Aku rindu.

Dua, jarak yang bernama kesibukan. Halo kamu, yang sudah lama tidak bertemu denganku karena kesibukanku dan kesibukanmu tidak mau sebentar saja berdamai dengan waktu. Apa kabar? Aku sangat rindu.

Tiga, jarak yang bernama rasa tidak saling membutuhkan. Halo kamu, yang sudah lama menghilang karena tidak lagi butuh aku. Halo juga kamu, yang sudah lama aku tinggalkan karena aku rasa tidak lagi butuh kamu. Ternyata aku rindu.

Empat, jarak yang bernama dendam. Halo kamu, yang sudah mendorongku dengan sengaja ke tempat yang tidak seharusnya sehingga dendam pula menghampiriku dan membuatku tidak mau lagi mengenalmu. Entahlah, belum ku putuskan apakah ini namanya juga rindu.

Lima, jarak yang bernama hidup. Halo kamu, yang sudah merasa hidup tanpa aku. Halo juga kamu, yang mengajariku hidup tanpa kamu. Kamu tahu, aku masih ingin belajar banyak bersamamu tentang hidup, dan juga rindu.

Begitu, seterusnya.. Tidak akan ada habis masaku menghitung jenis jarak yang sudah ku temui seiring berjalannya waktu. Mereka semua jahat. Mereka membuat rindu aku dan mungkin kamu enggan untuk bersatu.

Andai saja aku pandai berandai-andai. Aku mau Tuhan menghapus jarak antara aku dan kamu, aku dan kalian. Karena mungkin saja aku lelah bertahan sendirian. Karena mungkin saja aku ingin kita tidak saling melupakan setiap kenangan. Ah tidak, sebenarnya bukan itu. Aku memang tidak sebutuh itu. Jarak sudah mengajariku sesuatu. 

Lihat, jarak memang jahat kan? Mereka sudah mengubahku.



Tuesday, 22 January 2013

Dear @NorahJones


I’m not good enough in arranging words to be a letter. And it’s my first time to write a letter to one of my fave singers from years; you. I won’t expect that you’ll reply this, of course. I know, a busy superb artist like you will have no time to reply every letter from your fans out there.

First time I knew you is when I was still young, seven years ago. I accidentally fell in love to your ‘Sunrise’ when I heard it on the radio. Now, that song is always on my playlist, beside your ‘Don’t Know Why’ and ‘Thinking About You’. Those three songs are my fave on the playlist, from you. Your vioce is never boring to be listened, Norah. I adore it, so much. If only I had a voice like yours-Oh okay, I’m dreaming..

I love to know a great multi talented artist like you; singer, songwriter, pianist, and also actress. Look, you’re adorable that much. For two years, the questions appear in my hear are like “Where are you?” and “Where have you been, Norah?”  I always hope to find your new thing stuff in the music stores. I’ll love to have it. Anyway,  thank you Norah.  You have given us a new thing to be listened last year, your ‘Little Broken Heart’. I should admit that it was a long wait, but what can I say? I love everything inside your album, as usual.

I know, perhaps it’s just a letter for you, and will only be a letter for everyone. But thousand times thanks for you, because of you, I love jazz. Though it’s just a stupid wish, but let me tell you; I hope I can see you live in concert. Well, not in the your newest concert this March in New Delhi, but someday. Yes, someday.

I’m sorry to hear that your Daddy has passed away last December. Please accept my deep condolence. I know how it feel to lose someone you love. I just wanna cry everytime I remember that I can’t meet my Grandma anymore. Be brave, Norah. Make your Daddy proud of your concert in his city.

xoxo

Tiara

Wednesday, 16 January 2013

Maaf Untuk Terlalu Lama Menunggu

Dear kamu, yang sudah tak kuacuhkan dengan terlalu

Sepertinya akan lucu kalau aku langsung meminta maaf kepadamu. Oke baiklah, kali ini memang aku yang (sedikit) keterlaluan. Aku tidak menghargai perasaanmu, yang dengan setia sudah terlalu lama menungguku. Tapi kamu tahu kan, kemarin-kemarin aku memang kurang bisa menyisihkan waktu untukmu.

Aduh, jangan terlalu manja. Toh nanti kamu tahu, cepat atau lambat aku akan datang menemuimu. Memang sih, pada kenyataannya kelihatan agak terlambat. Ku pikir aku punya banya(aaaaaa)k alasan rasional untuk tidak memenuhi janjiku waktu itu. Janji untuk setia padamu. Janji untuk memikirkanmu setiap waktu. Jangan terlalu manja dengan mendesakku untuk menjelaskannya padamu. Toh kamu tahu aku tidak akan menyebutkan alasanku satu-persatu.

Aku sibuk, benar-benar sibuk. Apalagi akhir tahun kemarin. Kamu tidak mau kan merusak usahaku meraih impianku? Jadi jangan protes. Toh sudah aku buktikan padamu kalau aku memang bisa memanfaatkan kesempatan. Toh sudah aku buktikan padamu kalau aku pulang membawa kemenangan dari Jepang.

Dari semua yang sudah ku kecewakan karena terlalu banyak menunggu, percayalah kalau hanya kamu yang paling bisa mendapatkanku. Sungguh.

Sudah ya, jangan merajuk. Kini aku sudah tidak terlalu sibuk. Minggu ini adalah minggu terakhir aku mengajar di kelas bahasa Inggris murid-muridku. Hari ini adalah hari terakhir ujian akhir di kampusku. Janji deh, seusai seminar siang ini, aku akan mengunjungimu, aku tak akan berpaling darimu. Jangan ngambek ya, tugas akhirku! ^^

tertanda,

seorang mahasis(w)a unyu
@tiaratirr

Tuesday, 15 January 2013

Pemilik Kawah Luka


Untuk kamu, yang punya seribu kata maha dewa @adimasnuel
*aduh, ketinggian :p

Aku tidak suka perkenalan yang tertele-tele. Begini saja, aku dulu yang memakai jasamu untuk mengantarkan suratku pada kota tercintaku. Satu-satunya surat cinta yang aku tulis di program tahun lalu. Awalnya, aku (terpaksa) mengenalmu hanya karena kamu adalah tukang posku. Tapi sungguh, ini keterpaksaan yang menggembirakan. Aku seperti menemukan dunia yang aku impikan. Karena keisenganku membuka kawah luka-mu lah, aku jadi jatuh hati padamu. Oh baiklah, mungkin tidak sejatuh itu. Aku mahasiswa sastra yang mudah jatuh hati pada kata-kata sutra. Jadi ini semua salahmu.

Untuk seseorang yang berumur lebih muda dariku, aku cemburu. Aku cemburu pada kebisaanmu merangkai kata-kata menjadi sebuah puisi sarat makna. Sampai sekarang pun, masih ada beberapa puisimu yang tak juga ku mengerti maksudnya, belum ku ketahui pesan tersembunyinya. Membaca puisimu seperti bermain teka-teki dengan bom waktu. Sebenarnya sudah berapa banyak buku sastra dan filsafat kau telan di sela waktumu?

Aku paling suka salah satu kalimat dipuisimu yang begini: ajari aku tuk berpikir masak-masak, biar lara tak ku telan mentah-mentah. Untuk itukah kau namai ladangmu dengan nama kawah luka? Apa memang sesakit itu? Entah sebuah dusta, atau kejujuran yang terlampau nyata, aku tetap suka caramu bersembunyi dari hingar-bingar dunia; menulis puisi-puisi itu. Jadikan lah seribu, agar bisa ditengok tanpa jemu.

Terimaksih untuk membaca (yang hampir mirip) surat cinta ini. Jika suatu hari nanti kau sudah lelah menulisi kawah luka-mu lagi, jangan lupa ada aku yang hobi menunggu postinganmu.

Terimakasih untuk tetap menyadarkanku bahwa aku menyukai puisi lewat goretan tanganmu, atau lebih tepatnya tarian jemarimu. Aku akan lebih banyak bersajak, meski hanya untuk diriku.

Terimakasih untuk seratus enam puluh sembilan puisi yang sudah kau sediakan untuk ku baca sewaktu-waktu. Boleh tidak kalau yang ke seratus tujuh puluh nanti buatku? Hahahaha.

Sudahlah, masih akan banyak pertanyaan dan permintaan jika tak ku hentikan dari sekarang.

Selamat menyelesaikan buku antologi puisi tunggalmu. Aku akan sabar menunggu. Kelak, kalau sudah jadi, jangan lupa mention aku. Aku tidak akan keberatan mengantri demi bukumu. Sungguh.

aku, yang tinggal di kota sebelah rumah orang tuamu.
@tiaratirr

Tuesday, 24 January 2012

Aku Pasti Kembali

Teruntuk kamu,

Kamu, kota kecil yang penuh dengan iringan irama para penghuninya. Kamu masih sering memberikan kesejukan, kehangatan, maupun kenyamanan bagi kami, bahkan saat banyak di antara kami sering berlaku tak tahu diri. Kamu sudah terlalu banyak menyimpan rahasia kami, cerita kami, lukisan abstrak hidup kami di banyak lorong tersembunyi. Kamu selalu terdiam, meski mengetahui lebih banyak dari kami. Kamu menyimpan semua rasa frustasi, haru biru, sedu sedan, keceriaan pelangi, kegembiraan bawang, dan juga ah-ih-uh-eh kami yang sudah tak mampu lagi tergambar. Ah, mungkin di antara diammu, kamu tidak peduli, dan kami pun pura-pura mengerti.
Coba lihat bangunan-bangunan tua hampir roboh itu, yang masih saja kamu berikan pesonamu agar masih sering dikunjungi. Coba lihat para manusia berisik yang menawarkan harta mereka di sepanjang jalanan itu, yang masih saja kamu beri tempat bernaung. Atau coba lihat suasana di bawah bukit itu, yang sudah tersulap menjadi tempat mengerikan penuh keindahan saat senja sore mulai datang. Coba rasakan kebahagiaan para nelayan di sepanjang pesisirmu, untuk semua tangisan ikan, deru ombak, aroma laut, dan angin yang menusuk-nusuk. Ah!
Untuk sebuah kota kecil yang penuh dengan daya magis rahasiamu, kamu favoritku. Aku, aku adalah satu di antara ‘kami”, penghunimu yang tak tahu diri. Nantinya, jika terpaksa aku harus pergi dan tinggal di kota lain, entah di belahan bumi sebelah mana pun, di pulau mana pun, atau di negara mana pun, aku pasti kembali kepadamu; menengokmu, atau hanya sekedar bernostalgia dengan semua aroma di sudut-sudut tempatmu.
Aku pasti akan merindukan saat-saat mengamati orang-orang di setiap pemberhentian lampu merahmu, suara kereta malam yang kadang terdengar sampai ke kamarku, atau pasir putih yang pasti menelanjangi kaki-kaki mungilku meski harus menempuh puluhan kilometer di salah satu bagian kerajaanmu.
Ah Jogja, kota tercintaku, aku menulis surat ini seakan aku hendak meninggalkanmu ya? Hmm, iya mungkin, iya pasti, tapi suati hari nanti. Aku akan meninggalkanmu saat aku sudah menyelesaikan studiku, atau saat aku sudah tidak hanya memimpikan impianku dan harus meraih dan memperjuangkan impianku, atau bahkan saat aku yang dengan setia akan mengikuti dan mendampingi suami masa depanku, di kota lain. Tetapi jangan khawatir, seperti janjiku, aku pasti kembali. Pasti.

Aku, salah satu penghunimu.