Monday, 9 June 2014

The J Letter

For David Levithan, The Lover's Dictionary is a story about love, in all its messy complicated reality. For me, it's more than just a story about love, but a diary. Then I will write it in my own version.
I know the alphabets start with A, but let me write the J letter first. The letter just keeps resounding in my head.

jade : "I found you!" You said.

jail : Your theory; A girl is like a bird that needs a golden cage. My theory; A girl is like a bird that needs to fly and an arm to stay. Have you watched the pirates movies I've ever told you lately? Look at the parrots.

January : I blamed myself for not bringing you a birthday cake. You said, "It's okay. It doesn't matter anyway."  I know it's not okay, not that okay. I cried, I failed. Did I?

jealousy : Things like these. When you still phone your workmates more than once in our date. When you accidentally mention the girl from your past. When you forget to call me, just because you're too busy with your witty theory.

jilt : I can do this to you, but I just don't want to. You can do that to me too, but I know you won't do.

jitters : I remember your I-hate-so-much-habit of smoking too much cigarettes in front of me, which once you excused as your way to redeem your nerve talking things with me. I held your left cold hand while you’re driving us home, or the truth is.. you let me hold yours to convince yourself that you weren't dreaming. Oh dear, if this relationship is just a dream, will you want somebody to wake you up maybe?

jocosity : I talked about my funny thoughts, I laughed a lot. I knew you didn't understand but then you laughed a lot too, watching me.

joke : Do you like it? No. Do you like it? No. Do you like it? No. So what do you like? You!

jolly :  It's funny how we used to talk about random stuffs then laughed, too loud. 

journal : It takes 725 days to know why God planned us to meet again that time. That October night. On heavy rain, with coffee and memory. And I still don't know how many days will it take to know where God will lead us then.

journey : In every corner of the new place I've just found, every sunset I adore. It's you whom I wish I could share the view with.

joy : When you hugged me tight, smiling. I could hear your heart's beating. I could hear your voice, whispering. I could always recall the feeling. 

jubilee : If we aren't brave enough to dream it, will we make it? Life dares us to choose, to decide, to elaborate the mystery by ourselves. Close your eyes, hold my hands, imagine..

June : I still love you. Do you still love me too? 

July :  I'm counting. I'm counting. I'm counting. For now and then, until the day I meet you, again and again and again. Would you help me to count it too?

Wednesday, 12 February 2014

Perkara Diam dan Menunggu

Sayang,

Aku baru saja memetik setangkai bunga rindu sebelum akhirnya aku memutuskan menulis sebuah surat sebagai bahan bacaanmu, barangkali nanti kau ada waktu. Kata orang, bunga rindu ini mirip sekali dengan mawar merah jambu. Sangat cantik, tetapi duri-durinya mampu melukaimu.

Akan aku beri tahu satu rahasia. Aku benci dengan jarak di antara kita. Bukan tentang sekian ratus kilometer yang memang seharusnya, melainkan jarak bernama diam yang sedang sengaja kita ciptakan. Entah ini cinta atau apa, yang jelas aku tak suka kalau kau tak lekas bicara, memecah hening yang memarnya sudah tak terkata.

Sudahkah kau tahu. Pun aku membenci aku—yang mungkin bagimu—terlalu sibuk dengan duniaku, dan kau—yang mungkin bagiku—tak mau memaksaku untuk meluangkan waktu. Atau barangkali sebaliknya, tergantung dilihat dari teropong mana. Sadarkah kau, kita sedang sama-sama terjebak dalam labirin yang kita bangun berdua. Aku tahu, doa yang aku kirimkan saja tidak akan cukup menenangkan pikiranmu jika kau salah mengartikan keangkuhanku. Kali ini aku akan mengalah, menyulut pijar yang seharusnya sudah kita lalukan bersama demi memberi pertanda. Temukan aku, dan kita akan meninggalkan labirin ini bersama, atau selamanya tersesat di dalamnya.

Seseorang pernah bilang, “Tak ada penantian yang sia-sia. Toh jika nantinya tak membuahkan apa-apa, paling tidak kau sudah punya ketabahan yang mengakar.” Setiap harinya kutanam pohon bernama ketabahan hingga barangkali nanti aku bisa berteduh di bawahnya saat matahari sedang terik-teriknya bersinar menyengat kulitku. Asal tidak ada orang yang sengaja menyiram minyak dan menyulut api bernama cemburu, kau tidak usah khawatir karena aku akan baik-baik saja berlindung di balik rimbunan pohon itu.

Barangkali, aku seperti perempuan gurun bernama Fatima yang sudah ditakdirkan menunggu. Aku seperti Fatima yang tidak sengaja ditemui seorang bocah yang dulunya hanya penggembala domba, yang pada suatu masa lebih memilih untuk meninggalkan domba-dombanya dan pergi mencari harta karun di dekat Piramida. Belum pernah mendengar ceritanya, bukan? Seharusnya kau membaca bukunya, seperti yang pernah aku katakan sebelumnya.

Akan aku beri tahu satu rahasia lagi. Aku pernah memilih untuk tidak pergi, menjauh sekitar hampir sepuluh ribu mil ke tempat dimana aku bisa menghirup udara baru karena aku juga memikirkanmu. Memikirkan kita. Seseorang mungkin mengutuk keputusanku, tetapi toh aku tidak perlu menjelaskan teoriku. Tiga tahun mungkin bukan waktu yang lama untuk menunggu, jika hanya kau tidak disiksa rindu dengan terlalu. Rindu juga seperti pohon perdu, yang mellilit leher, membuat sesak nafasmu. Jika dulu aku pergi, mungkin aku tidak seperti Fatima lagi. Alih-alih aku, kau akan merasa menempati posisiku, dan apakah kau mau menungguku selama itu? Karena percayalah, entah untuk egoku atau pelukmu, aku akan kembali. Seperti aku yang masih percaya tentang teori rasa, entah yang disambut atau yang disambit, bahwa kita akan mensyukuri tiap detik yang pernah ada. Aku tidak terlalu kekanakan dengan menganggapmu sudah dewasa, bukan?

Aku membayangkan rasa kopi yang kau minum pagi ini. Bisa jadi rasanya sangat pahit seperti rasa teh hitam tanpa gula yang kemarin malam aku minum terlalu larut, atau lebih seperti air tawar, hambar. Maaf karena aku belum pernah membuatkan secangkir kopi untukmu. Satu-satunya permintaan maaf yang seharusnya tidak aku tuliskan dalam bahan bacaanmu. Aku tidak mau berjanji akan membuatkanmu kopi suatu hari nanti. Kecuali, jika kau mau berjanji untuk menikmati teh hangat denganku sambil menertawakan hidup, suatu hari nanti.

Monday, 3 February 2014

Jangan

Jadi, anggap saja ini sebagai tanda protes tertulis karena akhir-akhir ini kamu terlalu sering datang. Aku memang tidak bisa menyalahkanmu atas keahlianmu menyelinap masuk melalui banyak kesempatan. Pun aku tidak bisa begitu saja membiarkanmu mengusik hidup yang sudah aku bangun sekarang.

Seseorang mengingatkanku agar berterima kasih padamu. Dia bilang, aku tidak mungkin bisa menghindarimu. Kamu serupa ilalang; ada dimana-mana, bahkan di pojokan gurun gersang. Barangkali dia benar, atau barangkali dia hanya ingin pembenaran. Seseorang juga pernah bilang, kamu memiliki dua kepribadian; baik dan buruk. Tetapi baik dan burukmu tidak bisa dipisahkan, bukan? Tidak akan ada hitam tanpa putih, atau tidak akan ada putih tanpa hitam. Semacam itu lah.

Aku juga pernah bilang, kamu boleh sesekali datang menengok keadaanku. Tetapi jangan terlalu sering. Aku tidak mau mengorbankan yang sudah aku miliki sekarang. Bisa saja beberapa orang di sekelilingku tidak menyukai kehadiranmu, bukan? Kata mereka, jika kamu datang, kadang aku menjadi muram. Kata mereka, jika kamu datang, aku seperti terserang penyakit kronis bernama lupa. Aku lupa dengan kenyataan.

Barangkali sebaiknya aku memang hanya berterima kasih kepadamu, tidak lebih, tidak kurang. Karena kamu, sekarang aku merasa menjdi orang yang lebih disayang Tuhan—tentu saja jika dibandingkan dengan aku yang dulu misalnya. Karena kamu, sekarang aku merasa mempunyai banyak harta, lebih-lebih yang tak kasat mata; kasih dan sayang yang datang tidak hanya tiba-tiba saja. Karena kamu, sekarang aku menjadi aku yang sekarang. Aku yang lebih berbahagia menerima aku yang seutuhnya.

Terimakasih kenangan.. Aku akan membiarkanmu tumbuh di ladang gersang yang memang sengaja aku sediakan. Jangan protes, itu lebih baik daripada aku dikaruniai penyakit lupa yang mereka sebut amnesia, bukan? Sedikit rahasia, ladang gersangku penuh unsur hara. Kamu hanya perlu lebih jeli menemukannya. Jadi sudah, diam disitu saja. Jangan pernah kamu usik teman baruku yang bernama harapan. Dia sedikit rapuh, masih butuh dikuatkan. Dia sedang tumbuh di padang rumput yang lebih pantas disebut oase tentu saja.

Barangkali nanti kalian akan menjadi teman, bisa jadi kan? Di suatu sore, sambil memandang senja di tepian laut, aku akan duduk diam ditemani kalian. Harapan akan membisikkan padaku skenario yang baru saja ditulisnya. Iya, dia suka sekali menulis peluang yang dinamainya impian. Dan kamu, diam saja disitu. Jangan berusaha membuat gaduh atau aku akan memukul kepalamu dengan ranting kecil yang tak sengaja aku temukan. Jangan bertengkar, aku tidak akan suka meneriaki kalian dengan umpatan-umpatan.

Nah, sekarang mengerti lah. Kali ini kamu jangan terlalu sering datang. Aku sedang sangat sibuk mengurusi harapan.

Sunday, 2 February 2014

Menanti Malam

Aku tidak pernah mengerti mengapa kau lebih suka datang kala malam. Aku tidak pernah tahu kemana kau pergi kala siang menjelang. Apakah siang terlalu terik bagimu, hingga kau harus terkurung di tempat persembunyian? Ataukah siang terlalu silau bagimu, hingga kau harus mengais lorong gelap sendirian?

Andai saja kau tahu, disini aku selalu setia menantimu siang dan malam. Meski kadang, aku bosan dengan siang tanpamu yang menjemukan. Meski kadang, aku lelah dengan penantian dirimu yang panjang.

Aku disini tidak punya teman. Bagiku, kau adalah ladang basah belum diolah yang akan ku paksa menampung biji-bijian dari kantongku yang keemasan. Ku namai mereka harapan. Bagiku, hanya kau yang akan mampu menyemai rerumputan di kala semua tertidur di kasur melipat-lipat khayalan.

Cepat datang, jangan bosan.

Aku, punguk yang merindukan bulan

Saturday, 1 February 2014

Jadi, Februari..

Februari,

Sebelum nanti saya lupa, perkenankan saya melontarkan pertanyaan tentang kejutan apa saja yang sudah anda persiapkan untuk saya, boleh? Maaf jika terkesan kurang ajar, akhir-akhir ini saya hanya belajar lebih frontal dan formal. Anda tidak terlalu terganggu dengan kata ‘saya’ dan ‘anda’, bukan? Karena ‘aku’ dan kamu’ terlalu polos kedengarannya.

Daripada berputar-putar, sebaiknya mungkin saya menanyakan kabar anda. Jadi bagaimana, masihkah baik-baik saja dengan menjadi sosok anda yang dipuja khalayak muda dan dinanti-nantikan banyak manusia? Akan banyak—sebut saja—cinta yang disebar-sebarkan pada 28 hari masa jabatan anda, bukan? Lebih-lebih pada masa pertengahannya.

Jadi para pembuat coklat akan kebanjiran pesanan, pabrik-pabrik gula akan menaikkan jumlah produksi mereka menjadi paling tidak tiga kali lipat, dan akan banyak keuntungan yang diraup mereka pada masa jabatan anda yang singkat ini. Oh, barangkali para dokter juga sudah bersiap-siap kalau saja akan ada beberapa pasien darurat yang seharusnya tidak makan coklat, melanggar pantangannya. Sayang sekali jika angka penderita diabetes harus bertambah ya. Pekerja dunia mode dan para pengagum serta pengikutnya pun, barangkali kena pengaruhnya.

Tidak, tidak. Saya tidak menyalahkan anda dengan keriuhan perayaan pada bulan Februari yang sudah menjadi budaya di hampir seluruh belahan dunia ini. Toh, saya juga kadang-kadang menikmatinya. Sebagai pengemar coklat, tentu saya tidak bisa melewatkan potongan harga atau paket coklat cinta yang didisplay di rak-rak supermarket langganan saya, yang khusus ada pada masa jabatan anda. Bukan untuk siapa-siapa, kecuali untuk saya.

Jadi Februari, barangkali seseorang harus berterima kasih pada anda atau mengutuk adanya anda. Saya tidak terlalu menyukai anda karena anda terlalu banyak menghujani manusia dengan yang mereka sebut-sebut cinta. Bukannya segala yang terlalu itu tidak pada tempatnya? Dan lagi, anda mengingatkan saya pada beberapa hal yang seharusnya sudah sirna. Seperti cake coklat yang pernah saya buat sedikit terlambat. Saya menyesal tidak mencatat resepnya.

Saya hanya berharap, anda tidak terlalu banyak membawa hujan, seperti yang sudah Januari lakukan. Saya juga berharap, anda bisa segera mempertemukan saya kepada yang sudah saya damba-dambakan, membawa kabar baik yang saya nantikan. Selebihnya, kalau saya masih boleh berharap, secepat atau selambat apapun anda berjalan, biarkan manusia-manusia yang hidup di masa jabatan anda merasa bahagia dan bersuka cita, sebelum mungkin nanti mereka merasakan duka--bertemu dengan September misalnya.

Saya sudahi saja ya suratnya.

Salam

-kali ini peluk jauh saja-

Wednesday, 8 January 2014

Kuil Asakusa Kannon Sensoji

Jika kita akan berlibur ke negeri Sakura, tentu saja kita harus merencanakan rencana perjalanan kita dengan sangat teliti. Jepang mempunyai banyak sekali obyek wisata, terutama di daerah Tokyo sendiri. Tokyo merupakan ibukota Jepang, kota yang memiliki rata-rata pendapatan per kapita tertinggi di dunia setingkat dengan London dan New York. Obyek-obyek wisata yang ditawarkan di kota modern ini sangat beragam, misalnya obyek wisata kota futuristik, obyek wisata kuil-kuil tradisional, maupun wisata kuliner yang sangat mengundang selera.

Untuk yang tertarik dengan wisata tradisional di Jepang, ada satu kuil yang harus masuk dalam daftar rencana perjalanan selama di Jepang. Kuil yang bermana Kuil Asakusa Kannon Sensoji ini selalu ramai di kunjungi para wisatawan. Kuil ini terletak di Taito, Tokyo, sebuah daerah yang menyajikan begitu banyak hal yang sayang jika dilewatkan. Kuil ini dapat dijangkau dengan naik MRT ke stasiun Asakisa Eki, dan berjalan sekitar 10 menit. Di sekitar kuil, kita dapat mencoba menikmati naik becak yang ditarik oleh orang-orang jepang. Kita akan dikenakan biaya sekitar 3000 yen untuk perjalanan keliling sekitar kuil berdurasi 15 sampai 20 menit.

Di kuil Asakusa Kannon Sensoji terdapat dua lampion raksasa, satu terletak di gerbang pertama, dan yang kedua terletak di gerbang kedua setelah kita melewati Nakamise. Nakamise adalah sepanjang jalan menuju kuil Sensoji yang merupakan pasar tradisional, menyediakan aneka jajanan tradisional dan cinderamata untuk para wisatawan. Jenis dan harga cinderamata disini beragam, tetapi tidak boleh ditawar. Uniknya, setiap kita membeli cinderamata, penjual selalu membungkusnya dengan kertas kado.

Setelah kita melewati Namikase dan gerbang kedua di Asakusa, kita akan menemukan Omikuji di sebelah kanan jalan. Omikuji adalah alat yang dipercaya dapat meramalkan masa depan orang yang menggunakannnya. Kita hanya perlu membayar 100 yen, dimasukkan ke dalam kotak yang tersedia, mengocok tabung Omikuji dan mengeluarkan satu sumpit yang sudah ditandai dengan huruf kanji. Yang perlu kita lakukan hanyalah mencocokan huruf kanji yang kita punya dengan huruf kanji yang ada di antara puluhan almari kecil yang sudah disediakan, mengambil ramalan dan membacanya. Jika ramalannya merupakan ramalan yang baik, kita boleh membawanya pulang. Tetapi sebaliknya, jika ramalannya merupakan ramalan yang buruk, kita harus menyimpulnya di papan kawat yang sudah disediakan dan meninggalkannya dengan harapan nasib buruk tidak ikut serta bersama kita.

Hal lain yang menarik di kawasan ini adalah sebuah nampan yang dipenuhi dengan dupa persembahan di tengah jalan dekat kuil Sensoji. Masyarakat percaya, siapa saja yang berdoa dan terkena asap dari dupa-dupa yang dibakar disana akan menjadi lebih pintar dan berilmu. Tidak jauh dari situ juga ada mata air yang dipercaya dapat membuat siapa saja yang membasuh muka disana dan meminum airnya akan awet muda. Hal ini sangat mirip dengan mitos mata air di Pura Tanah Lot, Bali.

Setibanya di depan Kuil Sensoji, kita dapat melihat yang tidak kalah menarik. Di sebelah kanannya, kita dapat melihat bangunan Tokyo Sky Tree dari kejauhan. Di sebelah kirinya, kita dapat melihat bangunan kuil Dempoin. Sayangnya kuil ini sudah ditutup untuk umum. Di kanan bangunan kuil Sensoji, terdapat tabung-tabung sake yang ditata. Tabung-tabung sake ini merupakan simbol persembahan kepada para dewa. Bangunan kuil Sensoji yang besar juga cukup menarik. Di depan pintu masuk maupun di dalam kuilnya terdapat nampan atau tempat untuk melemparkan koin. Kita dapat berdoa agar keinginan kita segera terkabul.


Untuk sebuah kota tua di Tokyo, Kuil Asakusa Kannon Sensoji sangatlah menarik. Di satu daerah saja kita sudah pasti akan mendapatkan banyak pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Foto-foto [dokumen pribadi] :



Bisa berdoa minta jodoh disini, lempar koin dulu~




Omikuji!
Leave your bad luck there~
Cuci muka, biar awet muda hihi
Hirup asap dupanya, katanya bisa pintar, atau sesak nafas :x
Maaf, narsis sedikit. Ini sake-sake persembahan yang saya maksud
Tengok ke sebelah kanan, ada Tokyo Sky Tree!

Becak yang biasa ditarik sama mahasiswa jepang yang kerja partime jadi mas-mas tukang becak, unyu :3
Jalan sekitar 10 menit dari luar kuil, bisa lihat view cantik dari  jembatan.




Thursday, 20 June 2013

#MoveOnTrip (?)

I broke up again! Wtf it's like I have no idea how come I broke up with two guys in just a year, I used to have long lasting relationship, eh?

Hahaha, that's the only my stupid thought and (or?) question on my head in that messy day. Someone who just broke up, hurt person she ever loved by acting like "I know it's not working", left and be left by the sweet memories or whatever, CAN'T think well, right?

The best (or the worst?) part was it's not only me who just broke up! My best friend too! And we seemed like supporting each other to forget the messy day. It was a holiday. We stucked and trapped in our boredom, nothing-to-do-ness, and common family gathering in lebaran that year when we kept chitchating in the messages like ...

"I'm bored."

"Me too."

"Need to go somewhere. Bali? :("

I remembered my Dad who was in his duty traveling from Jakarta to Bali for several weeks that time.

"Let's go to Bali! We can come back home with my Dad by car."

And blablabla blablabla~

I phoned my Dad, asking his permission if only we can go to Bali or go back home together so we can arrange such an itinerary asap. My friend asked her parents permission, she said that we would go to Bali with my Dad. We also made appointment with my friend who lived in Bali. We thought that it would be a nice escape to get some new refreshments for our mind. Haha!

I don't remember what made us decided to leave only five days after the idea coming. It was almost midnight on Wednesday and we haven't got a plane or bus tickets. For we payed all the traveling cost by ourselves, we had no money to buy the plane ticket. Fortunately, our friend's relative knew someone who could booked us two bus tickets to Bali in the next day. Omg, we had not packed our stuffs. :|

On Thursday at 1 pm, we were just two little girls with two suitcases; small one and the medium one, who did the first trip without parents or holiday travel package. When my ex bf looked for me for apologize or whatever he wanted, I said "I want to move..". Now I realized that my sentence enigmatically contained two meanings, the origin of move and move on. Hahaha. Bali was my first move on trip, I guess. 

*I'm smilling awkwardly when writing this story. Damn!*

My friend, Icha, woke me up in the midnight. "Look at the waves!"

I looked outside and realized that our bus were already in the basement of a ship crossing Bali strain. The waves (and its sound) was kinda terrible, it's like so close to us even when we officially trapped in the bus. When we arrived in Gilimanuk, Icha's parents called her and told that there was a hurricane in Bali strain.

Having awkwardly jet (or ship?) lag by the hurricane couldn't replace our happiness for breathing the Bali's air. I don't know whether it's only me or both of us who kept doing inhale exhale yoga breathing that time :D

We were going to our friends house in Loloan Timur, Negare. He was Fahmi, a friend from Bali who studied in Jogja. He has Bugis family who live in Bali, so they don't speak Bali language but Bugis. The folks in Loloan Timur, Negare, mostly work as a fisherman. Most of them are Muslim, not Hindus. Fahmi and his cousin escorted us to visited a pura and a quay near his house. The wooden colorful ships were beautiflly arranged in that quay. Unfortunately, we didn't take pictures. 

Fahmi's family were very welcomed. His mother cooked us super delicious lunch. It's not bad to stay there actually, but then we realized something. The distance of Negare to Denpasar is about two hours driving, or three hours riding! How can we didn't check a map before decided to stay in Negare? How can we had no map before we come to Bali?! Hooooow! Hahaha, the stupidity of our sudden idea of holiday in Bali became clearer. Lol. Remember this guys..

Rule #1 : AT LEAST CHECK A MAP BEFORE TRAVELING!
***

I phoned my Mom to ask the address of my relatives in Denpasar. It's kinda difficult to convince Fahmi and his family that we'd better to stay in my relative's house, but then Fahmi and Ali agreed to escort us to Denpasar by motorcyle. It's impossible to bring all the suitcases, so we rearranged our stuffs, moved it to the small suitcase, and left the big one in Fahmi's house. We'll gonna take it when we back home.

Rule #2 : Don't bring too much stuffs when you are traveling. 

The weather. The weather so sucked in September. Our trip to Denpasar was stopped by heavy rain several times. Okay, that's bad. We went at 2 pm, and just found my relative's house near Tiara Dewata mall at 8 pm. I knew it's kinda shocking, but we had no choice beside staying there, at least for a moment. Fahmi and Ali stayed in their relative's house near Denpasar before went back to Negare. Big thanks for them who had escorted us so far. I know they must be tired of that long riding trip.
***

Eyang Sri's house is in the middle of the town, in Letda Reta street. It's a family house, a multi dimentional house. Eyang Sri and her husband are Christian, one of their children is Muslim, one another is Hindus, and the rest are also Christian. I love to stay here, they show me that diffecence is not a matter. They always watch morning khotbah in one of tv shows, even they remind us to pray in the morning. They always play Christian song in the evening like haleluyah song or something, and they don't eat meat to appreciate one of family members who is not allowed to eat meat-the Hindus tradition.

We had a funny memory about the last thing. I and Icha wondered why they never serve a meat in the dining table. "Let's buy meat in the mall, we can give it to them to be cooked. They will like it!" We bought meat and proudly gave it to Eyang Sri's family. "We don't eat meat, dear. My son and his wife are Hindus. So, meat is prohibited to be eaten for all family members." Then our proud faces became our awkward faces. I will remember this ...

Rule #3 : It's better to ask first than just wonder to decide something truly matter.
***

Bali has given me so much sweetness. I love its beaches, so  beautiful! The second day in Bali, I and Icha went to Kuta beach complex by taxi. It's about Rp. 50.000,00 for nine kilometres. Anw, there's almost no bus in Bali that time. People have used to get a taxi for transportation. When I asked the reason to my taxi driver, he said that it was their local policy from the government to save their income percapita. Bus is just too cheap for many foreign tourists who come to Bali. The only bus that can be used in Denpasar  is called komotra. It has its own rute, from the parking area of Kuta complex to Joger and around. I didn't check the price because we didn't use it, but I'm sure that it's cheaper than using taxi. Komotra is like mini bus, but without window.

There are three beaches in Kuta complex. It's Kuta beach, Legian beach, and Seminyak beach. Kuta is full of people sunbathing. There is a Tourist Information Centre in this area that provides you an important thing; a map! Don't forget to come before you start to walk around, haha. We dropped by my taxi driver in the crossroad near Kuta beach. He said that we could start our walk through the way in front of us. "Just go down this street, and you will blablabla..." There are a lot of shops and cafes through that street.  You can find also many branded shops here. I can't remember the name of the street, but you will easily find it when you come. In the right side of the street, about 400 metres from the crossroad, you can find Bali bomb monument. It's a monument to appreciate Bali bomb victims years ago. 

Beside Kuta, there is Legian beach which is looked more natural than Kuta. There are also some people sunbathing but not as much as in  Kuta beach. This beach is nice, even in the middle of the day. When walking through this beach, perhaps you will meet a tattoo-guy, who offer you to have temporary tattoo in your body only by paying two dollars. Or perhaps you will meet a tatto-guy who offer you extra money by accompanying a foreign tourist. Just kick this jerk! Hahaha, and for the last thing, perhaps, Bali has many things like this.

Rule #4 : Ignore everyone who want to introduce you to foreign guy. Wrong way. If you desperately want to know a foreign guy, it's better to have a healthier relationship than just a one night stand, eh? Imho.

Second day in Bali was the most tiring day! We walked around Kuta complex to Joger to buy some stuffs. Haha, Icha bought too much stuffs I guess. But it's okay! How can we skip the pleasure of shopping time? No way! :D
***

Third day in Bali. It was Sunday! Aunty Tari (Eyang Sri's daughter) and her husband wanted to back to Labuan Bajo, NTT. We sadly said goodbye and see you next time. We decided to explore Bali by motorcycle. Uncle Iwan, another Eyang Sri's son helped us to rent a red Mio Soul. You needed an identity card of Bali resident if you wan't to rent a motorcycle or car in Denpasar. Icha once reminded me that we were about in fight because of the motorcycle-thing in Bali. Both of us wanted to ride it! Hahaha! Icha was probably too scared if I rode the motorcycle, for my bad damn riding skill. And I guess, as I remember, I didn't want to let Icha riding the motorcycle all the time. She must be tired, and needed a rest! I don't remember how we solve the problem, but yes, Icha mostly rode the motorcycle but she let me rode it too in the uncrowded street. LOL.

Rule #5 : Share your thoughts to your travelmate.

We planned to go to Tanjung Benoa and Nusa Dua resort.  We went to internet cafe to print the map. I know it's stupid, haha. In reality, we didin't use the map at all. We focused on reading direction planks. In Bali, there are a  lot of direction planks that will keep you find the way to whatever tourism places you want to go to. Since we have no itinerary at all, we seemed like go show, riding our mio by reading direction planks that made us lost and strayed away. Hahaha! Our plan to go to Tanjung Benoa was dramatically changed to Pelabuhan Tanjung! Now I know why Dora the explorer keeps asking her MAP! :|

We finally succeed to go to Tanjung Benoa and Nusa dua resort. Those places are beautiful! I love the hot sun shines in Tanjung Benoa, and enjoying sunset in Nusa Dua. What a moment..

As an addition, we also visited a paunch (can't remember the name), Garuda Wisnu Kencana statue near Ngurah Rai airport, and hot sale planet surf event we found in By Pass street! Shopping again, lol

Rule #6 : Shopping will always be a happy-thing. Just be wise spending your money during traveling. :p
***

Fourth day, windy day we went to Sanur--the magical two colored sandy beach, Sukowati market, Ubud area, and Tapak Siring area. In Sukowati market, you will find a lot of Bali souvenirs. Better to bargain! I bought some cheap Bali shirts only for 15.000 IDR each. But if you can't bargain, don't expect to get the cheap prices there.. 

Frankly, beside found Goa Gajah Museum to be visited, we also found two others Museums; Rudana Museum and another Fine Art Gallery that caght our attention by its froggy statues in front. Those are worth enough perhaps. Our trip that day was fun. I still remember the way Bali folks who just prayed in Pura, in Ubud area, interacted each other. If you want to see the real Bali taste, go to Ubud! 

Rule #7 : Find as much as you can. 

Fifth day. We wanted to traveled farther, to Tanah Lot and Kresna-a souvenir store, and back again to Kuta complex and Joger. Last day to shop in Bali, it drove us crazy. Lol. Nothing much to be shared, we just spent our money and visited Tanah Lot to drink that magical pure plain water in the small island (or reef?) in the middle of the sea. Okay, it's not in the middle actually, just a bit farther that we need to walk crossing the sea water to get to the island (or reef?). We met two Japanese girls there. Just like us, they were traveling!

After enjoying last sunset in Bali, we went to Ubung bus station to book bus tickets for the next day. We decided not to wait my Dad till Friday, and we'll leave on Wednesday. Of course, we'll take the left suitcase in Fahmi's house first. We felt sad for saying goodbye to all people we met in Bali, but we have to. It's not (just) a move on trip. It was all fun packed in a week trip. It was our first (let's say) semi-backpaking trip. It was a trip that keeps me and definitely my friend, Icha, want to travel again, again, and again. We learnt and enjoyed many things in Bali. Experience, adventure, refreshment, even a posession. For me, it's nice to visit my relatives there and find a new way to explore places, though we skipped a lot places indeed. But that will be underlined as a reason to come back and finish my (or our) adventure there.

Rule #8 : Promise yourself to come back.
***

"Do you miss Bali? I miss Bali. :(" - a short message I recieved from my friend, today.

"It's more than two years. I miss Bali this much, then I wrote this story."