Thursday, 29 September 2016

Book Review: The Girl on The Train by Paula Hawkins




Judul buku : The Girl on The Train

Penulis       : Paula Hawkins


Buku yang ditulis oleh mantan jurnalis kelahiran Zimbabwe ini merupakan sebuah thriller psikologis yang cukup unik. Menggunakan sudut pandang orang pertama dari beberapa tokoh, sebenarnya metode penulisan fiksi seperti ini sudah saya kenal sejak pertama membaca buku karya Nicole Krauss berjudul The History of Love beberapa tahun yang lalu. Setiap tokoh memiliki sudut pandang terfokus dan subyektif. Tentu saja pembaca harus menempelkan sendiri potongan-potongan cerita yang kepastiannya tidak bisa diyakini 100%.
Dalam buku yang telah mendapat salah satu penghargaan dari situs Goodreads pada tahun 2015 ini, Hawkins menampilkan tiga tokoh wanita yaitu Rachel; si pemabuk yang terkadang hilang kendali dan kehilangan memorinya, Megan; wanita misterius yang selalu dilihat Rachel melalui jendela kereta, dan Anna; istri baru dari mantan suami Rachel yang tinggal tidak jauh dari bekas rumah Megan. Ketiganya, meskipun pada awalnya sulit dipercaya, memiliki ujung dari benang merah yang harus disambung sendiri oleh pembaca yang memutuskan untuk membuka halaman pertama buku ini.

Sebenarnya, saya tidak terlalu menyukai cerita thriller psikologis atau misteri semacam ini. Buku The Girl on The Train saya pinjam dari seorang teman. Dia bilang, ia bisa membacanya hanya dalam waktu dua hari! Tempo alurnya tentu sangat cepat dan tidak stagnan, pikir saya saat itu. Kenyataannya, saya baru bisa menyelesaikan buku ini dalam waktu kurang lebih dua bulan. Saya hanya mampu membacanya di sela-sela waktu luang saja. 

Tidak terduga! Ya, akhir cerita fiksi ini berakhir dengan kesimpulan yang benar-benar jauh dari yang dibayangkan sebelumnya. Tokoh utama dalam cerita ini, seharusnya si Rachel pemabuk yang telah ditingalkan suaminya demi wanita lain yang lebih menarik, tetapi bukan demikian. Justru Megan yang terlihat baik-baik sajalah, pemicu keributan dan misteri panjang tidak berkesudahan dalam cerita ini.
Rachel dikenal sebagai seorang pemabuk, setiap hari menegak alkohol sebagai pelariannya akan kekecewaan terhadap hidupnya yang mendadak berantakan. Dia dicerai suami tercintanya, Tom, yang lebih memilih berselingkuh dengan Anna hingga menikah dan memiliki bayi mungil bernama Evy. Rachel yang gamang harus keluar dari rumahnya sendiri, rumah nomor 23 di kawasan suburn London, yang terletak di pinggir rel kereta. Setiap pagi dan petang, Rachel masih bisa melihat bekas rumahnya melalui jendela kereta yang membawanya menuju London untuk bekerja atau pura-pura bekerja.

Tidak jauh dari bekas rumahnya yang kini ditinggal Tom dengan istri barunya, ada sebuah rumah yang ditinggali oleh sepasang muda yang kelihatannya memiliki kehidupan rumah tangga yang sempurna. Si pasangan yang ia namai dengan Janet dan Jason ini kemudian diketahui bermana Megan dan Scott. Kereta Rachel kerap terhenti di dekat rumah nomer 15 milik Megan dan Scott, hanya selama beberapa detik atau menit karenan gangguan sinyal. Setiap hari, Rachel berangan-angan, mengarang sendiri cerita bahagia mengenai pasangan ini, hingga akhirnya ia melihat sesuatu yang membuatnya berubah mengenai pasangan tersebut. Janet, atau sebenarnya Megan, mencium seorang lelaki yang diyakini Rachel bukanlah Jason atau Scott.

Beberapa hari setelah itu, kabar mengenai Megan yang hilang tersebar. Entah mengapa Rachel mempunyai beban untuk menyampaikan sesuatu yang pernah dilihatnya pada Scott Hipwell. Ia tahu bahwa tuduhan akan hilangnya Megan juga akan mengarah pada Scott, lelaki malang yang bahkan tidak tahu jika isrinya selingkuh. Memori dan rasa sakit akan sebuah perselingkuhan yang pernah dialaminya mendasari tindakan-tidakan Rachel selanjutnya, menyusup ke dalam kasus dan cerita hilangnya  Megan. 

Yang harus dipecahkan Rachel adalah dalang dari pembunuh Megan. Apakah Scott atau selingkuhan Megan yang masih misterius?

***

Dalam skala 1-10, secara personal saya memberi nilai 7.5 untuk buku ini. Atas kesuksesan The Girl on The Train dalam meraih minat pasaran, Dreamworks Studio kemudian menggarap filmnya. Yap! Awal bulan Oktober 2016 mendatang, filmnya akan dirilis pertama di Amerika Serikat. Apakah nanti hasil visualnya akan semenarik cerita Gone Girl? Semoga. :)


Wednesday, 13 April 2016

Internship

A word, that suddenly came out of mind mind this afternoon is "internship". Yes, but I don't really know why.

As I remembered, I did internship twice. To act like a teacher for elementary school students for three months and also front desk agent in a three star hotel for three months too. It's funny how I chose that two internships when now I end up being an editor of a lifestyle magazine in this paradise island. I'm lucky, maybe? More than that..

Wait, so what's the point now? To be honest, I am in my boredom now. I just stared on my intern at my office and knew how she felt too. Don't force me for not giving her too much jobs, well.. it's kinda difficult to be explained, um.. okay forget then.

I just want to smile, remembering the good and bad things I did in my past.

Internship 1: English Teacher

I was a tutor, English tutor. I started to be a tutor, joined a education institution in my 4th semester. To early? Well, I was that 'smart' enough to teach children how to do proper English that time. Then.. when almost all of my friend chose to do an internship in Tourist Information Center, I chose to do what I am expert in; teaching. I can make syllabus, I can stand in front of the class being a center of attention, I can make them stare at me. I don't know why I was that awesome. Hahaha.

Three months. Well, not really three months. I taught three class a week for three months in an elementary school near Palace complex in my hometown, Yogyakarta. It was an awesome experience. Even now, I can still hear their voice greeting my name; "Good morning, Miss Tiara!" God, it seems like I miss to be the center of attention and receive a lot of attention now. Ups!

Internship 2: Front Desk Agent

I thought hospitality industry was a big industry that keeps growing anyway, and yes it is. That's the only reason why I let myself to 'try' and 'feel' the hospitality atmosphere. I am good in English, at least compared to my friends that time. I can speak and listen well, so humble and nice to everyone, then the hotel where I put my CV let me join in Front Office Department.

It was one of the hardest three months in my university life. I learnt all the stuffs from filling document, online and phone reservation, hotel system, too many stuffs! Regret? Not at all. At least I know how it feels to work in hospitality industry, so then later on when I want to come back I know how to handle it well. In the first two weeks I wanted to give up, but there are two people who keeps me stay. One of them is myself, who keeps telling myself that I can do anything, to finish what I already started. Well, I guess I learn how to terribly survive from my second internship then. How, naif.


Now, I am not an intern anymore. I met some interns under my supervise in this office since a year ago; Annelies from Groningen, Saras and Karin from Bandung, Amy from Utrecht, and now Nikki also from Groningen. I hope I gave them enough good things to learn for their lives.

*Backsound 7 Years by Luke Graham* lol


Saturday, 26 March 2016

Malam memekat, anak kelinci keluar berlarian sambil membawa telur-telur angsa. Bulan malu-malu menampakkan sisa sinarnya. Ia sudah kelelahan setelah purnama kadasa.

Aku masih saja menulis daftar belanja, menimang-nimang apa saja yang harus aku bawa. Hatiku, atau keyakinanku yang kian berada dalam batas tipis nestapa. Keluh hanya akan menjadi beban selanjutnya jika tidak ditanggapi dengan bijaksana. Aku masih percaya, doa sudah berhasil melipat-lipat jarak yang sesungguhnya ada di antara aku dan dia. Barangkali baru kali ini aku menulis tentangnya, meskipun setiap detik potongan wajahnya terus saja berseliweran mengganggu konsentrasi kerja. Yang tentu, tak perlu dikutuk barang sedikit saja.

Pernah aku tulis surat untuknya, setelah adu prasangka yang tidak hanya menyiksa tapi juga menggeser setiap kata iya. Entah sejak kapan aku mulai memperhatikannya. Bisa jadi dulu sekali, bahkan sebelum sempat bersua. Entah sejak kapan juga Tuhan merencanakan kebersamaan aku dan dia. Bisakah selamanya? Ya, seperti sempurna, tidak ada rumus bisa untuk selamanya. Tapi paling tidak, sampai habis masa kita di dunia.

Pernah terangkum kata, jika berdampingan dengan penulis dan ia tidak pernah menulis tentangmu, maka bisa jadi tidak benar-benar cinta. Ah, si penulis sudah melantur saja.

Ada penat yang enggan pergi dari meja kerja. Ada rindu yang tertahan di satu tombol saja. Aku hanya bisa berdoa, hingga nanti ia sudi membaca setiap halaman yang belum sempat aku tulis tentangnya. Hingga terhapus sudah tanda tanya. Hingga mengerti juga ia dengan nanti yang datang terbata-bata.

Ingin mengucur tangis, tapi tertahan saja di pelupuk mata. Barangkali aku yang terlalu jahat mengulur waktu berlama-lama. Atau barangkali waktu yang jahat sudah mempertemukan kita. Tiba-tiba jemari tidak ingin berhenti menari dan berbisik tentangnya. Barangkali rindu sedang ranum-ranumnya, tapi aku bisa apa? Masih harus menunggu tiga puluh tiga hari sebelum tiba pertemuan selanjutnya.


Thursday, 14 January 2016

Awal tahun yang was-was

Selamat tahun baru!

Saya harap-harap cemas juga memasuki tahun 2016 ini. Saya menghabiskan akhir tahun dengan liburan singkat bersama adik permpuan saya yang kebetulan datang berkunjung di sela deadline akhir tahun yang sedikit mundur.

Saya tidak melakukan kegiatan yang terlalu penting dalam detik-detik pergantian tahun kecuali berada di kafe dengan teman-teman (yang lama dan baru-baru saja dikenal) sambil mendengarkan beberapa di antaranya memainkan musik yang tidak sedikitpun saya mengerti. Saya ingin melarikan diri ke pantai, batin saya.

Seusai huru-hara, bunyi terompet, peluk agak bahagia, ucapan tahun baru, dan tetek bengeknya, saya dan dua teman wanita memutuskan untuk menyusuri kawasan Seminyak, mengarah ke sebuah klub malam hip yang ramai dikunjungi orang lokal maupun bule dari berbagai kalangan.

Menit pertama, kami masih bercanda-canda. Salah satu teman wanita yang baru datang dari KL mengajak saya membeli minum. Kami mendekat ke arah meja kasir untuk memesan. Dia menyodori saya bir bintang, bir yang rasanya tidak terlalu saya suka. Menit selanjutnya, kami dihampiri dua bule yang menjabat tangannya dan kemudian menculiknya.

Saya dan satu teman wanita yang tersisa tidak paham harus berbuat apa. Kami memutuskan untuk tetap menikmati lantunan musik DJ yang disetel keras-keras, setiap nadanya memadati klub yang sesak dengan lautan manusia ini. Setengah jam beralalu dan saya mulai bosan. Antara sadar dan tidak, saya sempat tersentak dan terdiam dalam beberapa detik memandang sekeliling saya. Wajah-wajah semburat bahagia, gelak tawa, atau itu hanya topeng yang dipermak instan karena pengaruh alkohol yang mereka tegak saja?

Saya mengangkat botol minuman yang saya bawa. Teringat seminggu sebelumnya, saya mampir ke pabrik wine atas sebuah undangan dan mencicip beberapa jenis wine yang tersedia. Seingat saya, saya berjanji jika itulah wine terakhir yang akan saya tegak. Saya lupa bahwa doa atau niatan itu harus lebih spesifik, harus dengan kesadaran sepenuhnya. Mana mau juga Tuhan mendengar doa umatnya yang seperempat melayang karena pengaruh minuman dengan kadar alkohol 12 persen itu?

Saya berada di antara kerumunan para penikmat malam. Saya tiba-tiba merasa ngeri sendiri. Ada ketakutan yang menyeruak masuk, saya takut jika ada bom meledak dan serpihannya mengenai salah satu bagian tubuh saya di sana. Entah dari mana pikiran ini muncul. Barangkali saya sangat lelah dan sedikit kecewa. Lelah dengan apa yang saya kerjakan di akhir tahun kemarin, kecewa karena lagi-lagi saya tidak bisa menghabiskan malam tahun baru dengan orang yang spesial bagi saya.

Saya menarik teman saya, mengatakan padanya bahwa saya bosan, mari kita pulang. Seusai menghubungi teman kami yang raib, berkabar ala kadarnya sambil terus mencari keberadaannya di tengah lautan manusia ini, kami menyerah dan pulang. Beruntungnya, teman saya tadi malah sudah berada di rumah.

*Pagi ini saya sedikit terkejut mendengar berita mengenai bom yang ada di kawasan Thamrin, Jakarta. Empat orang pelaku sudah ditangkap di sore harinya, namun tetap saja yang terjadi menyisakan trauma dan luka. Sejauh yang saya tahu, ada tujuh korban meninggal. Sebagai pendatang yang tinggal di kota pariwisata seperti Bali, kejadian ini cukup membuat ngeri. Anak-anak media televisi (sebagian teman saya juga) menggemborkan isu ini itu terkait pengeboman ini. Ah, semoga semuanya membaik dengan segera. Doa saya untuk Jakarta dan seluruh pelosok Indonesia.

**Sejujurnya, saya tidak menyangka ini akan menjadi postingan pertama saya di tahun 2016

Tiara


Thursday, 3 December 2015

Cerita Lama

Aku tidak begitu menyukai pekerjaanku, tapi aku menikmatinya. Tapi seringkali, aku yakin bahwa aku menyukai perkerjaanku, walau kadang aku tidak menikmatinya. Menghabiskan waktu berdiri hampir 8 jam di ruangan sempit membuatku bosan, kaki-kakiku pegal, mata berlapis softlensku lelah, otakku pusing karena banyak rumus yang harus dihafal, ini lah, itu lah. Pemandangan paling tidak membosankan bisa jadi hanya kendaraan yang terlihat lalu-lalang yang biasa terlihat dari dalam ruangan. Sejak hampir tiga bulan lalu, aku memang banyak belajar. Banyak yang aku temui disini, mulai dari tamu-tamu asal Ambon yang berisik, tamu Makassar yang hampir bisa dibilang genit, tamu Jakarta yang baik dan suka memberi tip, tamu Belanda yang ramah, tamu Inggris yang lucu, tamu Prancis yang ribet, tamu Australia yang suka diajak mengobrol, tamu Belgia yang tampaaan, ah terlalu banyak.

***
Aku menemukan tulisan ini dalam sebuah draft, mari dilanjutkan. Sudah dua bulan lebih aku mengakhiri rutinitas 8 jam di tempat itu, sebuah hotel bintang tiga yang letaknya hampir di tengah kota. Selain karena sudah lelah, aku pun harus kembali ke bangku kuliah. Beginilah, sebagai mahasis(w)a yang harus menambah satu ekstra semester, aku diharuskan untuk lulus secepatnya. Ini mandat orang tua, hahaha.

Dulu, semasa aku masih menjadi front desk agent, aku selalu mengeluh; seragamku kurang nyaman dikenakan, high heelsku terlalu menyebalkan, jadwal kantorku kurang bisa disesuaikan, belum pula fom yang kadang suka banyak komentar. Meski kesal, sekarang aku menikmatinya. Disana aku belajar. Berinteraksi dengan banyak orang dan bahkan tumpukan kertas yang menjemukan dan layar komputer yang enggan ---

***
Dua paragraf diatas adalah janin dari postingan saya yang gagal dilahirkan, dua kali. Ah barangkali ini waktu dimana saya harus mengutuk betapa malasnya saya menyelesaikan sesuatu. Tanpa mengurangi, menambah atau mengedit kata yang sudah saya ketik entah berapa belas bulan yang lalu, saya bermaksud melanjutkan postingan tertunda ini. Saya sudah bukan saya yang dulu, setidaknya usia saya sudah bertambah. Cara saya menulispun juga. Mulai dari paragraf ini kebawah, saya memilih untuk bersaya daripada beraku. Tidak masalah bukan?

***

Oke! Janin saya gagal dilahirkan lagi. Entah kapan terakhir kali saya menyentuh blogger usang dan mengedit tulisan ini. Sekarang saya sedang berada di ruangan bernada ribut lagu-lagu hits dari accu radio. Saya hanya ditemani beberapa manusia yang sibuk dengan urusannya sendiri; seorang akunting yang sibuk menghitung angka, seorang desain grafis yang sibuk memainkan komputernya, sisanya menghilang.

Sekarang saya adalah seorang editor. Lucu juga saat mengakui bahwa saya adalah seorang editor tapi enggan mengedit tiga janin paragraf yang entah berapa lama tidak saya lanjutkan. Saya benar-benar pemalas. Saya sendiri lupa tentang apa yang ingin saya tuliskan waktu itu. Membaca judulnya, saya harus memperkirakannya sendiri.

Saya pernah menjadi seorang front desk agent, lalu educator tour. Saya terbilang ramah dan sangat sabar. Barangkali hingga sekarang. Maksud saya, saya sangat pintar (jika diharuskan) berlaku ramah dan sangat sabar. Sebuah cerita lama yang entah mengapa membuat saya tergelitik juga.

Seperti yang saya ceritakan, saya banyak bertemu orang. Sebagai editor, saya juga diharuskan banyak-banyak bertemu orang. Tentu saja, masih doyan tebar senyum manis tapi kali ini ala anak media. Seperlunya saja, tidak terlalu tulus tidak apa.

I ever dreamed to be an editor of lifestyle magazine. Now, I am. Time flies, dreams come true, stand still, or changed.

Saya sangat kagum dengan keajaiban yang Tuhan ciptakan. Tentang doa-doa dan pengharapan spontan yang dikabulkan. Tentang segala kebetulan yang bisa jadi sudah Dia rencanakan.


Saya mengunggu waktu pulang, sambil tersenyum terkenang cerita lama yang usang. Saya tidak bisa melupakan saya yang dulu. Saya besok tentu juga tidak bisa melupakan saya yang sekarang. Saya ingin menuliskan lebih banyak kalimat random lagi, tetapi sepertinya lain kali saja.



An editor in the boredom,

Tiara




Wednesday, 2 July 2014

Resep Kreasi Cupcakes Cokelat

Choco cupcakes a la Tiara, voila!

Jadi ceritanya saya sedang beberes file di laptop sambil nunggu berbuka puasa. Eh malah ketemu foto cupcake jadul hasil kreasi sendiri. Sudah lama sih buatnya, tapi belum sempat berbagi resepnya. Itu aslinya cupcake cokelat lho, hanya cara penyajiannya saja sedikit berbeda.

Begini cara membuatnya..

Pertama siapkan dulu bahan-bahannya!

Untuk cupcake:
150 gram mentega
150 gram gula pasir (sebaiknya yang halus saja ya)
3 butir telur ayam
75 gram cokelat masak pekat, dilelehkan
175 gram tepung terigu
½ sendok teh cake emulsifier
½ sendok teh baking powder
10 sendok makan susu bubuk bubuk
1 sendok teh vanili bubuk

Untuk hiasan:
1 pcs cokelat m&m
100 gram cokelat masak warna putih
1 sendok makan kopi bubuk
cokelat crispy tabur secukupnya

Cara membuat cupcake coklat:
  • Pertama, kocok 3 butir telur, gula pasir, dan cake emulsifer hingga adonan berwarna putih dan terlihat mengembang.
  • Lalu, tambahkan cokelat bubuk, baking powder, vanili bubuk, dan tepung terigu sedikit demi sedikit, ayak dan diaduk-aduk sampai rata (*adonan utama) 
  • Sementara, lelehkan margarin dan coklat masak bersamaan.
  • Masukkan adonan margarin dan cokelat masak leleh kedalam adonan utama, sedikit-demi sedikit.
  • Selanjutnya, tuang adonan yang telah tercampur merata ke dalam cetakan muffin yang telah dialasi dengan paper cup sekitar 2/3 penuh.
  • Panaskan oven 180 derajat celcius, dan panggang adonan dalam cetakan muffin yang sudah ditata diatas loyang selama 30 menit hingga menggembang dan matang
  • Setelah itu angkat, didinginkan dan cupcake cokelat siap dihias
Cara menghias cupcake:
Pertama, lelehkan coklat masak warna putih dengan cara ditim, tanpa ditambah dengan margarin. *melelehkannya dengan margarin akan merubah warna cokelat

a. Siapkan cupcake panggang yang sudah matang, dan oleskan cokelat putih leleh merata, setelah itu, hias dengan cokelat m&m
b. Siapkan cokelat putih leleh dan campur dengan bubuk kopi secukupnya. Oleskan adonan tersebut ke cupcake panggang yang sidah matang, kemudian hias dengan cokelat crispy tabur.
c. Siapkan cokelat putih leleh, masukkan ke cetakan berbentuk hati (atau cetakan bentuk lain). Tambahkan sedikit coklat bubuk, aduk sebentar dan dinginkan. 
Hias cupcake panggang dengan cokelat putih leleh, ratakan. Dan permanis dengan menaruh hiasan cokelat berbentuk hati yang sudah dingin di tengah cupcake.


Dan, selebihnya, bisa dikreasikan sendiri sesuai selera masih-masing ya! Hasil dari adonan diatas adalah sekitar 8 buah lho :D

Bisa makan, bisa masak juga dong. (*asal ada alat dan bahan sih, haha) Jadi, monggo dicoba..

Saturday, 21 June 2014

Pulang

Saya merasa harus menuliskan sesuatu tentang perjalanan pulang saya, lagi-lagi dari kota itu. Kota yang tidak begitu saya sukai, namun akhirnya barangkali akan saya tinggali sebentar lagi. Saya tidak begitu menyukai gedung-gedung pencakar langit dengan banyak kaca menyilaukan yang terlihat dari balik kaca taksi yang saya naiki. Pemandangan buratan senja di tepi laut dengan cakrawala tak berbatas jauh lebih menarik, tentu saja.

Saya mencoba mengingat-ingat pertama kali saya datang, tetapi bahkan ingatan saya sudah melupakan kesetiaannya pada pemiliknya. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari cerita saya, jika hanya pemikiran-pemikiran random tentang hidup tidak begitu menggangu saya kali ini.

Saya pernah merasa terdampar dengan perut kelaparan di terminal entah nomor berapa selepas penerbangan saya dari luar negeri. Seharusnya saya melanjutkan perjalanan saya dari kota itu ke kota saya dengan penerbangan terusan. Tetapi bodohnya, saya lupa memesan tiket pulang. Lebih bodohnya, saya lupa kala itu sudah masuk waktu liburan. Saya kehabisan tiket kereta, pun pesawat juga. Di antara kebingungan, yang saya temukan hanyalah seorang perantara yang menimang tiket seharga lima kali lipat harga biasanya. Hish!

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk segera pulang. Saya berencana pergi ke sebuah terminal bus, dan mencari penginapan di dekat sana, lalu pulang keesokan harinya, dengan bus tentu saja. Yang terjadi sesungguhnya, setelah saya sampai di terminal bus tadi, saya bertemu perantara lagi yang menjanjikan saya untuk pulang segera, tengah malam itu juga. Karena sangat lelah dan terlalu malas menyeret koper sambil menggendong ransel terlalu lama, saya meng-iya-kan saja tawarannya. Saya memandang bus tua renta yang akan membawa saya pulang. Akan menjadi perjalanan yang panjang, batin saya.

Saya duduk di samping pengemudi dengan terpaksa. Saya menyaksikan perseteruan beberapa lelaki paruh baya disana yang menyangsikan banyak hal ganjil yang mulai kelihatan. Saya tersadar, saya habis rugi bandar. Saya ditipu, tapi saya mau segera pulang. 
Di perjalanan, saya mendengar percakapan bapak sopir dan kernetnya, tentang jalanan yang tidak semulus biasanya, tentang pagi yang terik dan sore yang basah, tentang harga ban mobil dan onderdil. Saya diajak bicara seorang bapak paruh baya tentang hidupnya, tentang anak-anaknya yang beranjak dewasa, tentang rencana hidupnya yang akan segera pindah ke Sumatra sana. Saya mendengarkan, dan menghabiskan hampir seharian berharap saya segera di rumah. Sampai pada akhirnya saya diturunkan di tempat yang saya tidak tahu dimana, di kota sebelah kota saya. Saya benci harus menyeret koper sendiri di tengah malam. Tetapi begitulah yang saya lakukan, ganti bus dan meneruskan perjalanan.

Bukan hanya sekali saya pulang membawa cerita perjalanan yang tidak begitu menyenangkan. Saya pernah pulang dari kota itu naik kereta kelas ekonomi untuk pertama kalinya. Lucu rasanya, saya menelan dua tablet pengantar tidur saya demi ketidakpedulian saya pada kaki-kaki yang kram. Di lain kesempatan, saya juga terpaksa memperpanjang rute perjalanan saya dari kota itu dengan alasan yang berulang: saya kehabisan tiket pulang. Saya meninggalkan kota itu ke kota jarak tiga jam dari kota saya, dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus. Teman saya sudah berpesan agar saya menunggu di tempat yang benar, tetapi saya memang seorang amatiran. Saya naik bus tua lagi, tanpa ac dan air mineral. Dengan banyak penumpang yang tidak pedulian.

Saya memandang seorang yang dengan santainya menyulut berbatang-batang rokok di kursi dekat saya. Dia memang sedikit berbeda. Saya hampir mengumpat, memrotes kepulan asap yang dia keluarkan dengan semena-mena. Saya memandang lelaki ini dari kursi belakang dengan seksama. Dengan segala keterbatasannya, barangkali merokok hanyalah sekedar pelariannya dari rasa sakit atas apa yang sudah diberikan hidup yang tidak bisa dia terima. Dia tidak sempurna, lelaki muda yang barangkali mengidap polio sejak lahir tetapi sayangnya tidak tertangani dengan begitu baik entah karena apa. Saya terdiam. Berdoa agar lelaki ini juga mendapatkan kebahagiaan.

Saya juga memperhatikan seorang ibu muda yang menggendong bayinya yang menangis keras di perjalanan pulang ini. Di sampingnya, si suami sibuk mencari mainan untuk menenangkan si bayi. Saya penasaran, akan tumbuh menjadi anak yang bagaimana si bayi kelak. Semoga yang dapat membanggakan kedua orang tuanya.

Saya memang kadang merutuk perjalanan pulang saya yang tidak biasa. Terlalu lama, terlalu melelahkan, terlalu menyebalkan. Tetapi saya tahu, hal-hal yang Tuhan tunjukan pada saya pada banyak perjalanan tadi membuat saya tersadar. Saya harus lebih banyak bersyukur setiap harinya, atas nikmat yang Tuhan limpahkan pada saya.

Ada sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan seorang teman, dulu, kira-kira lima tahun lalu. 
"Kalau hujan deras begini, kamu pernah kepikiran sama mereka yang nggak punya rumah buat berteduh?"
Kala itu, saya kurang mengerti maksudnya. Sekarang, setelah begitu banyak hal yang saya lihat di luar sana, saya mulai memahami.

Barangkali manusia harus hidup dengan memegang sebuah prinsip seperti lirik lagu dari salah satu grup vokal favorit saya, Maliq and d'essential, "Buka mata, hati, telinga.."