Saturday, 15 July 2017

[Resensi] Negeri van Oranje

Judul Buku          : Negeri van Oranje
Penulis                 : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit               : PT. Bentang Pustaka
Halaman              : 478
ISBN                    : 978-979-1227-58-2
Cetakan I             : April 2009

Jika ada sebuah negara yang ingin saya kunjungi, boleh jadi Belanda berada di urutan pertama. Barangkali, saya terlampau silau dengan cerita kincir angin yang megah, bunga tulip yang indah, atau lalu-lalang sepeda yang katanya hampir selalu ada di tiap sudut kotanya.

Untuk itu, senang sekali rasanya membaca buku berjudul Negeri van Oranje karya empat penulis yang merupakan mantan mahasiswa di negeri kincir angin itu.

Negeri van Oranje berkisah mengenai persahabatan lima orang warga Indonesia dengan latar belakang berbeda yang dipertemukan di sebuah stasiun kereta di Belanda. Terjebak karena badai, yang awalnya dirasa bencana berubah menjadi anugrah nyata, saat kelima mahasiswa yang tinggal di kota berbeda itu kemudian menjalin hubungan erat selama di Belanda.

Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Gery. Persahabatan mereka tidak bisa dibilang sempurna, terutama saat kelimanya bergelut dengan rumitnya urusan hati.

Padat, renyah, dan kocak. Cerita persahabatan dan romansa para mahasiswa itu tidak hanya mengedepankan alurnya, namun juga pengetahuan dan gambaran mengenai cara bertahan hidup di Belanda sebagai seorang mahasiswa. Di sela halaman, pembaca bisa menemukan tutorial atau tips yang sangat berguna, terutama bagi mereka yang memang berencana melanjutkan kuliah di sana. Manis getirnya menjadi mahasiswa Indonesia di daratan Eropa juga sedikit banyak dibocorkan dalam buku yang telah diangkat ke layar lebar ini.

Setiap tokoh jelas digambarkan meski tetap ada kejutan di antaranya. Dari sosok Gery yang misterius hingga akhir cerita yang tidak terduga, saya akui bahwa keempat penulis buku ini telah sukses membuat saya mengaga. Saya sendiri mengagumi gagasan menulis satu buku secara bersama-sama. Jarang sekali saya menemukan buku seperti ini. Biasanya lebih sering menemukan kumpulan cerpen dari beberapa penulis dibandingkan dengan sebuah buku atau novel yang ditulis beberapa penulis secara bersama.


Friday, 14 July 2017

[Movie Review] Smile - 1975

Behind Every Smile of Beauty Contestants

Judul                      : Smile
Jenis Film              : Drama, Komedi
Pemeran                 : Bruce Dern, Melanie Griffith, Barbara Feldon, Annette O'Toole, Michael Kidd, Colleeon Camp, Geoffrey Lewis, Joan Frather, Nicholas Pryor, Eric Shea, Denise Nickerson, Caroline William, William Taylor
Sutradara               : Michael Ritchie
Penulis Naskah     : Jerry Belson
Produser                : Michael Ritchie
Distributor             : United Artists
Tahun                    : 117 menit
Durasi                   : 1975

****

Ternyata, tidak terlalu banyak film yang mengulas tentang hal-hal yang terjadi di balik layar sebuah kontes kecantikan. Film yang disutradarai oleh Mitchel Richie ini merupakan film pertama Amerika Serikat yang mengangkat tema tersebut. Smile (1975) merupakan satir yang lucu yang menunjukkan hal nyata, namun tanpa membuat manusia tidak manusiawi lagi. Komedi sosial seperti ini biasanya digunakan untuk mengungkapkan fakta yang tidak menyenangkan dengan cara yang ‘halus’, alih-alih untuk menguburnya. Film ini mendapatkan rating 7.2/10 di IMDb serta pernah masuk dalam nominasi Writers Guild of America Award for Best Original Comedy.

Smile (1975) bercerita tentang kelompok masyarakat di mana optimisme dan pemikiran positif bisa dikatakan hampir sejalan dengan sistem politik yang ada, yang berimbas pada keputusan dalam menentukan sebuah pilihan, dengan kenyataan bahwa tujuannya cenderung hanya untuk bersenang-senang.

Diawali dengan adegan pemilihan para kontestan muda yang sedang mengikuti seleksi memperebutkan tempatnya dalam Young American Miss Pageant di Santa Rosa, California, film ini kemudian merepresentasikan empat hari karantina dengan berbagai uji coba. Para kontestan ajang kecantikan yang masih remaja ini dinilai dari berbagai aspek; kecantikan, bakat, perilaku, dan interaksi sosial yang mereka jalin selama karantina berlangsung.

Ini adalah komedi yang terdiri dari belasan sketsa mengenai Bob; koordinator kontes yang diperankan oleh Bruce Dern, Brenda DiCarlo; seorang wanita cantik, agak konyol, namun kerap panik yang diperankan oleh Barbara Feldon; Andy, suami Brenda yang akhirnya memilih bunuh diri karena putus asa dengan istrinya yang terlalu sibuk, beberapa peran lain di balik ajang kecantikan tersebut, hingga para kontestan yang cukup menonjol.

Tiga aktris muda berhasil memerankan sosok yang cukup menonjol: Maria O’Brien sebagai kontestan keturunan Meksiko-Amerika yang paling bersemangat namun manipulatif, Joan Prather sebagai kontestan tenang di antara yang lain, dan Annette O’Toole sebagai kontestan yang paling mudah putus asa. Selain itu, ada pula Colleen Camp dan Melanie Griffith yang memerankan sosok kontestan yang penuh dendam.

Beberapa momen terbaik dari Smile (1975) adalah adegan-adegan yang menggambarkan persahabatan yang berkembang antara Robin (Joan Prather) dan Doria Houston (Annette O’Tolle) yang merupakan teman sekamarnya. Bagaimana Robin yang selalu berusaha memberikan dukungan untuk Doria yang kurang percaya diri.

Setidaknya dengan melihat film ini kita mengerti gambaran dalam sebuah kontes kecantikan; bahwa yang terlihat di layar kaca adalah hasil perjuangan para kontestannya untuk selalu tampil terbaik, bahwa banyak hal yang dialami oleh para kontestan untuk memperebutkan mahkotanya, bahwa bagaimana pun mereka harus tetap tersenyum.


Thursday, 29 September 2016

Book Review: The Girl on The Train by Paula Hawkins




Judul buku : The Girl on The Train

Penulis       : Paula Hawkins


Buku yang ditulis oleh mantan jurnalis kelahiran Zimbabwe ini merupakan sebuah thriller psikologis yang cukup unik. Menggunakan sudut pandang orang pertama dari beberapa tokoh, sebenarnya metode penulisan fiksi seperti ini sudah saya kenal sejak pertama membaca buku karya Nicole Krauss berjudul The History of Love beberapa tahun yang lalu. Setiap tokoh memiliki sudut pandang terfokus dan subyektif. Tentu saja pembaca harus menempelkan sendiri potongan-potongan cerita yang kepastiannya tidak bisa diyakini 100%.
Dalam buku yang telah mendapat salah satu penghargaan dari situs Goodreads pada tahun 2015 ini, Hawkins menampilkan tiga tokoh wanita yaitu Rachel; si pemabuk yang terkadang hilang kendali dan kehilangan memorinya, Megan; wanita misterius yang selalu dilihat Rachel melalui jendela kereta, dan Anna; istri baru dari mantan suami Rachel yang tinggal tidak jauh dari bekas rumah Megan. Ketiganya, meskipun pada awalnya sulit dipercaya, memiliki ujung dari benang merah yang harus disambung sendiri oleh pembaca yang memutuskan untuk membuka halaman pertama buku ini.

Sebenarnya, saya tidak terlalu menyukai cerita thriller psikologis atau misteri semacam ini. Buku The Girl on The Train saya pinjam dari seorang teman. Dia bilang, ia bisa membacanya hanya dalam waktu dua hari! Tempo alurnya tentu sangat cepat dan tidak stagnan, pikir saya saat itu. Kenyataannya, saya baru bisa menyelesaikan buku ini dalam waktu kurang lebih dua bulan. Saya hanya mampu membacanya di sela-sela waktu luang saja. 

Tidak terduga! Ya, akhir cerita fiksi ini berakhir dengan kesimpulan yang benar-benar jauh dari yang dibayangkan sebelumnya. Tokoh utama dalam cerita ini, seharusnya si Rachel pemabuk yang telah ditingalkan suaminya demi wanita lain yang lebih menarik, tetapi bukan demikian. Justru Megan yang terlihat baik-baik sajalah, pemicu keributan dan misteri panjang tidak berkesudahan dalam cerita ini.
Rachel dikenal sebagai seorang pemabuk, setiap hari menegak alkohol sebagai pelariannya akan kekecewaan terhadap hidupnya yang mendadak berantakan. Dia dicerai suami tercintanya, Tom, yang lebih memilih berselingkuh dengan Anna hingga menikah dan memiliki bayi mungil bernama Evy. Rachel yang gamang harus keluar dari rumahnya sendiri, rumah nomor 23 di kawasan suburn London, yang terletak di pinggir rel kereta. Setiap pagi dan petang, Rachel masih bisa melihat bekas rumahnya melalui jendela kereta yang membawanya menuju London untuk bekerja atau pura-pura bekerja.

Tidak jauh dari bekas rumahnya yang kini ditinggal Tom dengan istri barunya, ada sebuah rumah yang ditinggali oleh sepasang muda yang kelihatannya memiliki kehidupan rumah tangga yang sempurna. Si pasangan yang ia namai dengan Janet dan Jason ini kemudian diketahui bermana Megan dan Scott. Kereta Rachel kerap terhenti di dekat rumah nomer 15 milik Megan dan Scott, hanya selama beberapa detik atau menit karenan gangguan sinyal. Setiap hari, Rachel berangan-angan, mengarang sendiri cerita bahagia mengenai pasangan ini, hingga akhirnya ia melihat sesuatu yang membuatnya berubah mengenai pasangan tersebut. Janet, atau sebenarnya Megan, mencium seorang lelaki yang diyakini Rachel bukanlah Jason atau Scott.

Beberapa hari setelah itu, kabar mengenai Megan yang hilang tersebar. Entah mengapa Rachel mempunyai beban untuk menyampaikan sesuatu yang pernah dilihatnya pada Scott Hipwell. Ia tahu bahwa tuduhan akan hilangnya Megan juga akan mengarah pada Scott, lelaki malang yang bahkan tidak tahu jika isrinya selingkuh. Memori dan rasa sakit akan sebuah perselingkuhan yang pernah dialaminya mendasari tindakan-tidakan Rachel selanjutnya, menyusup ke dalam kasus dan cerita hilangnya  Megan. 

Yang harus dipecahkan Rachel adalah dalang dari pembunuh Megan. Apakah Scott atau selingkuhan Megan yang masih misterius?

***

Dalam skala 1-10, secara personal saya memberi nilai 7.5 untuk buku ini. Atas kesuksesan The Girl on The Train dalam meraih minat pasaran, Dreamworks Studio kemudian menggarap filmnya. Yap! Awal bulan Oktober 2016 mendatang, filmnya akan dirilis pertama di Amerika Serikat. Apakah nanti hasil visualnya akan semenarik cerita Gone Girl? Semoga. :)


Wednesday, 13 April 2016

Internship

A word, that suddenly came out of mind mind this afternoon is "internship". Yes, but I don't really know why.

As I remembered, I did internship twice. To act like a teacher for elementary school students for three months and also front desk agent in a three star hotel for three months too. It's funny how I chose that two internships when now I end up being an editor of a lifestyle magazine in this paradise island. I'm lucky, maybe? More than that..

Wait, so what's the point now? To be honest, I am in my boredom now. I just stared on my intern at my office and knew how she felt too. Don't force me for not giving her too much jobs, well.. it's kinda difficult to be explained, um.. okay forget then.

I just want to smile, remembering the good and bad things I did in my past.

Internship 1: English Teacher

I was a tutor, English tutor. I started to be a tutor, joined a education institution in my 4th semester. To early? Well, I was that 'smart' enough to teach children how to do proper English that time. Then.. when almost all of my friend chose to do an internship in Tourist Information Center, I chose to do what I am expert in; teaching. I can make syllabus, I can stand in front of the class being a center of attention, I can make them stare at me. I don't know why I was that awesome. Hahaha.

Three months. Well, not really three months. I taught three class a week for three months in an elementary school near Palace complex in my hometown, Yogyakarta. It was an awesome experience. Even now, I can still hear their voice greeting my name; "Good morning, Miss Tiara!" God, it seems like I miss to be the center of attention and receive a lot of attention now. Ups!

Internship 2: Front Desk Agent

I thought hospitality industry was a big industry that keeps growing anyway, and yes it is. That's the only reason why I let myself to 'try' and 'feel' the hospitality atmosphere. I am good in English, at least compared to my friends that time. I can speak and listen well, so humble and nice to everyone, then the hotel where I put my CV let me join in Front Office Department.

It was one of the hardest three months in my university life. I learnt all the stuffs from filling document, online and phone reservation, hotel system, too many stuffs! Regret? Not at all. At least I know how it feels to work in hospitality industry, so then later on when I want to come back I know how to handle it well. In the first two weeks I wanted to give up, but there are two people who keeps me stay. One of them is myself, who keeps telling myself that I can do anything, to finish what I already started. Well, I guess I learn how to terribly survive from my second internship then. How, naif.


Now, I am not an intern anymore. I met some interns under my supervise in this office since a year ago; Annelies from Groningen, Saras and Karin from Bandung, Amy from Utrecht, and now Nikki also from Groningen. I hope I gave them enough good things to learn for their lives.

*Backsound 7 Years by Luke Graham* lol


Saturday, 26 March 2016

Malam memekat, anak kelinci keluar berlarian sambil membawa telur-telur angsa. Bulan malu-malu menampakkan sisa sinarnya. Ia sudah kelelahan setelah purnama kadasa.

Aku masih saja menulis daftar belanja, menimang-nimang apa saja yang harus aku bawa. Hatiku, atau keyakinanku yang kian berada dalam batas tipis nestapa. Keluh hanya akan menjadi beban selanjutnya jika tidak ditanggapi dengan bijaksana. Aku masih percaya, doa sudah berhasil melipat-lipat jarak yang sesungguhnya ada di antara aku dan dia. Barangkali baru kali ini aku menulis tentangnya, meskipun setiap detik potongan wajahnya terus saja berseliweran mengganggu konsentrasi kerja. Yang tentu, tak perlu dikutuk barang sedikit saja.

Pernah aku tulis surat untuknya, setelah adu prasangka yang tidak hanya menyiksa tapi juga menggeser setiap kata iya. Entah sejak kapan aku mulai memperhatikannya. Bisa jadi dulu sekali, bahkan sebelum sempat bersua. Entah sejak kapan juga Tuhan merencanakan kebersamaan aku dan dia. Bisakah selamanya? Ya, seperti sempurna, tidak ada rumus bisa untuk selamanya. Tapi paling tidak, sampai habis masa kita di dunia.

Pernah terangkum kata, jika berdampingan dengan penulis dan ia tidak pernah menulis tentangmu, maka bisa jadi tidak benar-benar cinta. Ah, si penulis sudah melantur saja.

Ada penat yang enggan pergi dari meja kerja. Ada rindu yang tertahan di satu tombol saja. Aku hanya bisa berdoa, hingga nanti ia sudi membaca setiap halaman yang belum sempat aku tulis tentangnya. Hingga terhapus sudah tanda tanya. Hingga mengerti juga ia dengan nanti yang datang terbata-bata.

Ingin mengucur tangis, tapi tertahan saja di pelupuk mata. Barangkali aku yang terlalu jahat mengulur waktu berlama-lama. Atau barangkali waktu yang jahat sudah mempertemukan kita. Tiba-tiba jemari tidak ingin berhenti menari dan berbisik tentangnya. Barangkali rindu sedang ranum-ranumnya, tapi aku bisa apa? Masih harus menunggu tiga puluh tiga hari sebelum tiba pertemuan selanjutnya.


Thursday, 14 January 2016

Awal tahun yang was-was

Selamat tahun baru!

Saya harap-harap cemas juga memasuki tahun 2016 ini. Saya menghabiskan akhir tahun dengan liburan singkat bersama adik permpuan saya yang kebetulan datang berkunjung di sela deadline akhir tahun yang sedikit mundur.

Saya tidak melakukan kegiatan yang terlalu penting dalam detik-detik pergantian tahun kecuali berada di kafe dengan teman-teman (yang lama dan baru-baru saja dikenal) sambil mendengarkan beberapa di antaranya memainkan musik yang tidak sedikitpun saya mengerti. Saya ingin melarikan diri ke pantai, batin saya.

Seusai huru-hara, bunyi terompet, peluk agak bahagia, ucapan tahun baru, dan tetek bengeknya, saya dan dua teman wanita memutuskan untuk menyusuri kawasan Seminyak, mengarah ke sebuah klub malam hip yang ramai dikunjungi orang lokal maupun bule dari berbagai kalangan.

Menit pertama, kami masih bercanda-canda. Salah satu teman wanita yang baru datang dari KL mengajak saya membeli minum. Kami mendekat ke arah meja kasir untuk memesan. Dia menyodori saya bir bintang, bir yang rasanya tidak terlalu saya suka. Menit selanjutnya, kami dihampiri dua bule yang menjabat tangannya dan kemudian menculiknya.

Saya dan satu teman wanita yang tersisa tidak paham harus berbuat apa. Kami memutuskan untuk tetap menikmati lantunan musik DJ yang disetel keras-keras, setiap nadanya memadati klub yang sesak dengan lautan manusia ini. Setengah jam beralalu dan saya mulai bosan. Antara sadar dan tidak, saya sempat tersentak dan terdiam dalam beberapa detik memandang sekeliling saya. Wajah-wajah semburat bahagia, gelak tawa, atau itu hanya topeng yang dipermak instan karena pengaruh alkohol yang mereka tegak saja?

Saya mengangkat botol minuman yang saya bawa. Teringat seminggu sebelumnya, saya mampir ke pabrik wine atas sebuah undangan dan mencicip beberapa jenis wine yang tersedia. Seingat saya, saya berjanji jika itulah wine terakhir yang akan saya tegak. Saya lupa bahwa doa atau niatan itu harus lebih spesifik, harus dengan kesadaran sepenuhnya. Mana mau juga Tuhan mendengar doa umatnya yang seperempat melayang karena pengaruh minuman dengan kadar alkohol 12 persen itu?

Saya berada di antara kerumunan para penikmat malam. Saya tiba-tiba merasa ngeri sendiri. Ada ketakutan yang menyeruak masuk, saya takut jika ada bom meledak dan serpihannya mengenai salah satu bagian tubuh saya di sana. Entah dari mana pikiran ini muncul. Barangkali saya sangat lelah dan sedikit kecewa. Lelah dengan apa yang saya kerjakan di akhir tahun kemarin, kecewa karena lagi-lagi saya tidak bisa menghabiskan malam tahun baru dengan orang yang spesial bagi saya.

Saya menarik teman saya, mengatakan padanya bahwa saya bosan, mari kita pulang. Seusai menghubungi teman kami yang raib, berkabar ala kadarnya sambil terus mencari keberadaannya di tengah lautan manusia ini, kami menyerah dan pulang. Beruntungnya, teman saya tadi malah sudah berada di rumah.

*Pagi ini saya sedikit terkejut mendengar berita mengenai bom yang ada di kawasan Thamrin, Jakarta. Empat orang pelaku sudah ditangkap di sore harinya, namun tetap saja yang terjadi menyisakan trauma dan luka. Sejauh yang saya tahu, ada tujuh korban meninggal. Sebagai pendatang yang tinggal di kota pariwisata seperti Bali, kejadian ini cukup membuat ngeri. Anak-anak media televisi (sebagian teman saya juga) menggemborkan isu ini itu terkait pengeboman ini. Ah, semoga semuanya membaik dengan segera. Doa saya untuk Jakarta dan seluruh pelosok Indonesia.

**Sejujurnya, saya tidak menyangka ini akan menjadi postingan pertama saya di tahun 2016

Tiara


Thursday, 3 December 2015

Cerita Lama

Aku tidak begitu menyukai pekerjaanku, tapi aku menikmatinya. Tapi seringkali, aku yakin bahwa aku menyukai perkerjaanku, walau kadang aku tidak menikmatinya. Menghabiskan waktu berdiri hampir 8 jam di ruangan sempit membuatku bosan, kaki-kakiku pegal, mata berlapis softlensku lelah, otakku pusing karena banyak rumus yang harus dihafal, ini lah, itu lah. Pemandangan paling tidak membosankan bisa jadi hanya kendaraan yang terlihat lalu-lalang yang biasa terlihat dari dalam ruangan. Sejak hampir tiga bulan lalu, aku memang banyak belajar. Banyak yang aku temui disini, mulai dari tamu-tamu asal Ambon yang berisik, tamu Makassar yang hampir bisa dibilang genit, tamu Jakarta yang baik dan suka memberi tip, tamu Belanda yang ramah, tamu Inggris yang lucu, tamu Prancis yang ribet, tamu Australia yang suka diajak mengobrol, tamu Belgia yang tampaaan, ah terlalu banyak.

***
Aku menemukan tulisan ini dalam sebuah draft, mari dilanjutkan. Sudah dua bulan lebih aku mengakhiri rutinitas 8 jam di tempat itu, sebuah hotel bintang tiga yang letaknya hampir di tengah kota. Selain karena sudah lelah, aku pun harus kembali ke bangku kuliah. Beginilah, sebagai mahasis(w)a yang harus menambah satu ekstra semester, aku diharuskan untuk lulus secepatnya. Ini mandat orang tua, hahaha.

Dulu, semasa aku masih menjadi front desk agent, aku selalu mengeluh; seragamku kurang nyaman dikenakan, high heelsku terlalu menyebalkan, jadwal kantorku kurang bisa disesuaikan, belum pula fom yang kadang suka banyak komentar. Meski kesal, sekarang aku menikmatinya. Disana aku belajar. Berinteraksi dengan banyak orang dan bahkan tumpukan kertas yang menjemukan dan layar komputer yang enggan ---

***
Dua paragraf diatas adalah janin dari postingan saya yang gagal dilahirkan, dua kali. Ah barangkali ini waktu dimana saya harus mengutuk betapa malasnya saya menyelesaikan sesuatu. Tanpa mengurangi, menambah atau mengedit kata yang sudah saya ketik entah berapa belas bulan yang lalu, saya bermaksud melanjutkan postingan tertunda ini. Saya sudah bukan saya yang dulu, setidaknya usia saya sudah bertambah. Cara saya menulispun juga. Mulai dari paragraf ini kebawah, saya memilih untuk bersaya daripada beraku. Tidak masalah bukan?

***

Oke! Janin saya gagal dilahirkan lagi. Entah kapan terakhir kali saya menyentuh blogger usang dan mengedit tulisan ini. Sekarang saya sedang berada di ruangan bernada ribut lagu-lagu hits dari accu radio. Saya hanya ditemani beberapa manusia yang sibuk dengan urusannya sendiri; seorang akunting yang sibuk menghitung angka, seorang desain grafis yang sibuk memainkan komputernya, sisanya menghilang.

Sekarang saya adalah seorang editor. Lucu juga saat mengakui bahwa saya adalah seorang editor tapi enggan mengedit tiga janin paragraf yang entah berapa lama tidak saya lanjutkan. Saya benar-benar pemalas. Saya sendiri lupa tentang apa yang ingin saya tuliskan waktu itu. Membaca judulnya, saya harus memperkirakannya sendiri.

Saya pernah menjadi seorang front desk agent, lalu educator tour. Saya terbilang ramah dan sangat sabar. Barangkali hingga sekarang. Maksud saya, saya sangat pintar (jika diharuskan) berlaku ramah dan sangat sabar. Sebuah cerita lama yang entah mengapa membuat saya tergelitik juga.

Seperti yang saya ceritakan, saya banyak bertemu orang. Sebagai editor, saya juga diharuskan banyak-banyak bertemu orang. Tentu saja, masih doyan tebar senyum manis tapi kali ini ala anak media. Seperlunya saja, tidak terlalu tulus tidak apa.

I ever dreamed to be an editor of lifestyle magazine. Now, I am. Time flies, dreams come true, stand still, or changed.

Saya sangat kagum dengan keajaiban yang Tuhan ciptakan. Tentang doa-doa dan pengharapan spontan yang dikabulkan. Tentang segala kebetulan yang bisa jadi sudah Dia rencanakan.


Saya mengunggu waktu pulang, sambil tersenyum terkenang cerita lama yang usang. Saya tidak bisa melupakan saya yang dulu. Saya besok tentu juga tidak bisa melupakan saya yang sekarang. Saya ingin menuliskan lebih banyak kalimat random lagi, tetapi sepertinya lain kali saja.



An editor in the boredom,

Tiara