Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

Tuesday, 2 April 2013

Hujan


Aku adalah hujan yang dijatuhkan Tuhan dalam sosok yang mereka sebut gerimis. Diharapkannya aku menjadi rintik yang tahu diri, kapan harus menangis, kapan harus berlaku sadis. Tidak pernah ditengoknya aku di tanah surga kering yang kini telah basah olehku ini. Dibiarkannya saja aku berlaku mengikuti naluriku, logikaku, egoku, nafsuku, tanpa ragu.

Aku adalah hujan yang diharap-harapkan datang saat matahari dan manusia sama-sama berlaku terlalu naif. Mereka pikir mereka lah yang berhak mengatur rintikku yang tak kunjung datang. Tidakkah mereka tahu kalau aku tidak pernah bosan melihat rengekan?

Aku adalah hujan yang datang kepagian. Tidak pernah aku menutup telingaku meski banyak diantara mereka mengutukku tak jemu. Tidak sedikitpun aku menyesal telah diturunkan Tuhan.

Aku adalah hujan yang selalu engkau perhatikan dari jendela kamarmu. Kau nikmati setiap tetes rintikku dari kejauhan. Kau pandang aku berjam-jam tanpa mengeluh seperti manusia kebanyakan. Kau ciumi wangi tanah basah yang telah aku pesonakan. Hanya enggan kau sentuh karena derasnya rintik yang telah kutarikan.

Aku adalah hujan yang mereka sebut bandang. Berkawan dengan kesombongan. Caci aku, silakan. Bukan salahku jika merusakkan rumah dan tanaman di pekarangan. Ingat dulu siapa yang membuang berkotak-kotak kenangan di pinggir jalan.

Aku adalah hujan yang mengalir di pelupuk matamu, datang karena penyesalan. Aku tidak membencimu, hanya tidak mau lagi mengacuhkanmu tanpa segan. Aku jahat? Memang.

Aku adalah hujan. Yang lebih suka menangis dalam diam.

Thursday, 23 August 2012

#1


Dalam rentetan doa tidak beraturan, seorang anak kecil terdiam. Dia hanya ingin mengucapkan doa seperti orang-orang, dengan yang mereka sebut khusyuk, dengan linang yang ajaibnya mereka teteskan dari kedua bola mata mereka, dengan mimik sakit siksa yang mereka rasa mengenang semua dosa. Iya dosa, anak kecil itu bakhan tak tahu apa itu dosa, lalu bagaimana dia bisa berlaku seperti mereka? Butakah matanya, tulikah telinganya, atau mati rasakah hatinya? Tidak. Dia hanya tidak mengerti konsep kehidupan, terlalu lama terjebak dengan banyak boneka nyaman, terlalu lama tidak mempedulikan sengat lebah diantara taman bunganya, terlalu lama berpura-pura bahagia dengan keranjang buah plastik pemberian Ibunya.
Dadanya sakit, sesakit ditusuk gading purba tepat di jantung bernadinya. Biasanya dia merengek pada Ibunya yang lalu tergesa mengambil segumpal ramuan kasih untuk mengobatinya. Kali ini tidak, dia diam. Dia sedang berpura-pura, dan menelan kesedihannya mentah-mentah. “Aku ingin tahu apa aku bisa seperti mereka.” katanya. Dia bertahan, dengan keras kepala dia bersikeras berpura-pura tidak menderita dengan pilihannya. Seolah menolak uluran tangan yang bahkan belum sempat menjadi nyata, walau tubuhnya rindu meringkuk dalam peluk hangat entah siapa saja.
Dalam kebisuan, dia bertanya pada Tuhan seolah sudah mampu merangkai gumpalan kata-kata untuk anak seusianya,
"Rancangan apakah yang kau persiapkan untukku Tuhan?"
"Baikkah untukku? Menyenangkankah seperti taman bermainku?"
"Burukkah untukku? Mengerikankah seperti hantu yang datang di setiap mimpiku?
Diam.
Diam.
Diam
Tiada jawaban.
Tuhan tidak mau menjawab.. pikirnya.

Friday, 11 May 2012

Para Penari

Mereka terus menari. Memulainya dengan langkah buta, tapi menolak untuk peduli. Seolah sedang berpentas di atas panggung megah teater lama yang kian terlupa. Gerakannya terus mengikuti irama yang sama; desahan nafas tertata, dan degub jantung yang tak terkata. Tak ada kilatan kilatan cahaya yang menyemarakkan kesukacitaan di antaranya, tapi mereka melaju saja. Entah tarian apa yang sedang coba mereka perlihatkan. Pasti bukan empat ketukan salsa, atau enam langkah mesra bachata. Lebih rumit, hanya tersaji secara sederhana. Nah, tidak usah terlalu serius memperhatikannya. Nikmati saja. Sesap yang coba mereka pertontonkan pada kalian; gerakan gerakan dasar yang berkesan amatiran, pun langkah gontai beberapa di antaranya yang kerap kehabisan peran.
Di atas panggung beralas hitam yang awalnya menyiksa ini, mereka memulainya. Butuh lebih dari sebungkus keberanian untuk melihat ke arah si produser wanita di depannya, yang kadang mendecakkan sebait kekecewaan. Entah lebih karena ketidakberaturan kesepuluhnya, atau ketidakpuasan yang sengaja dibuat nyata. Toh jika tak mampu menari dengan nyaris sempurna, mereka tahu konsekuensinya apa. Bukan depaka si produser wanita tentunya. Hanya tarian mereka yang tak akan diakui sebagai mahakarya.
"Ini hanya awal.." kata kesepuluhnya, lirih, terbata, sembari menatap lekat mata pemiliknya, yang pada akhirnya menghadiahi rekah mawar tanpa keraguan. Dia pula si produser wanita, yang membiarka para penarinya; jemari mungil yang kuku kukunya berkuteks hijau pudar itu, menyanyikan senandung bahagia. Dia biarkan mereka menari, setidaknya mungkin, hingga habis masanya..